
Suasana makan malam di rumah Leon dan Lily cukup hening. Terlebih Drew dan Chika memilih untuk diam sejak tadi. Leon tahu, Drew pasti sudah menduga jika hal ini sudah di rancang sebelumnya.
Kenapa tuan Leon tidak memberi tahuku jika dia mengundang adik sepupunya? Batin Drew.
Drew terus menunjukan wajahnya. Ia tak berani memandang ke arah Chika dengan pakaian yang sangat terbuka itu.
Begitupun dengan Chika, tidak mungkin ia memperlihatkan keagresifan nya. Meski dalam hati ia ingin berteriak girang. Tapi ia coba menahan diri agar Drew tidak ilfeel padanya.
"Drew, kalau mau nambah, ambil saja. Jangan sungkan-sungkan ya..!" kata Lily, padahal nasi di piring Drew masih terlihat utuh.
"Terima kasih, nyonya," ucap Drew.
"Tidak perlu di tawari juga biasanya Drew akan ambil sendiri, sayang," kata Leon membuat Drew semakin terlihat gugup di hadapan Chika.
"Kak Leon nyindir aku?" sahut Chika merasa tersindir, sebab ia yang paling banyak makan.
"Kau saja yang merasa."
Chika mengerucutkan bibirnya. Ia tidak membohongi jika masakan istri kakak sepupunya ini enak sekali. Jadi ia tidak bisa jaga image dan menghabiskan nasi sepiring penuh bahkan sampai nambah.
Usai makan malam selesai, Leon pamit duluan untuk pergi sebentar. Begitu juga dengan yang langsung berpamitan untuk pulang. Tapi begitu sampai ke mobil, ia merasa ada aneh lantaran tiba-tiba saja ban mobilnya semuanya kempes.
"Ini pasti ulah tuan Leon," pikirnya.
"Kenapa, Drew?"
Pertanyaan barusan membuat Drew menoleh, kini Chika berdiri di hadapannya.
Chika melihat ke arah ban mobil Drew, ia pun ikut kaget lantaran semua ban mobilnya kempes.
"Kok bisa semuanya kempes begitu, sih?"
Drew mengangkat kedua bahunya. "Entah. Tapi aku rasa ini pasti ulah Leon," jawab pria itu.
"Kok kak Leon, sih?"
"Sebab hanya dia yang usil."
Chika menahan tawa mendengar jawaban Drew. Memang benar, kakak sepupunya itu jika soal usil nomer satu. Tapi itu jadi kesempatan bagus untuknya mengenal lebih jauh dengan Drew.
"Mmm.. Bagaimana kalau kita ngobrol dulu sebentar?"
Chika menggigit bibirnya menunggu jawaban Drew. Ia berharap Drew mau.
"Tapi-"
"Ban mobilmu kempes, dan kau tidak bisa pulang kan?" pangkas Chika.
Drew mencoba pikir-pikir dulu sejenak. Mana rumah tuannya ini jauh dari bengkel, kalaupun ia panggil montir pribadinya, pasti akan lama juga.
"Ok," jawab Drew setuju.
"Ya sudah, kita duduk di sana saja, ya," Chika menunjuk ke bangku yang ada di taman samping rumah.
Mereka pun pergi ke sana dan duduk di bangku yang hanya muat untuk dua orang saja itu. Drew berusaha menjaga jarak meski satu jengkal. Jantungnya mulai berdegup tidak karuan, tapi ia berusaha mengendalikan diri.
"Kalau boleh tahu, kau sudah berapa lama jadi asisten pribadi kak Leon?" tanya Chika memulai pembicaraan.
"Lima tahun," jawab Drew singkat padat.
Chika mengangguk-anggukan kepalanya. "Kenapa aku gak pernah tahu ya?"
Drew tidak menjawab pertanyaan Chika, ia hanya menoleh sekilas sebelum akhirnya kembali memandang lurus ke depan.
__ADS_1
"Oh ya, aku dengar waktu itu ibumu sakit. Bagaimana keadaannya sekarang? Sudah membaik kah?" tanya Chika lagi, ia berusaha membuka topik pembicaraan agar obrolan mereka panjang.
"Iya, sudah," jawab Drew lagi-lagi singkat.
Chika mengerucutkan bibirnya. Kenapa Drew tidak berusaha membuat obrolan mereka panjang.
"Mmm.. Aku boleh tanya sesuatu lagi, tidak?"
"Hm."
"Kenapa batal nikah?"
Pertanyaan Chika membuat Drew kembali menoleh. "Aku tidak pernah membatalkan pernikahan," jawab Drew.
"Jadi?"
"Maksudku, aku tidak pernah punya rencana nikah sebelumnya. Dan, aku tidak ada calon istri," jelas Drew.
"Kau masih single?"
"Hm."
Dalam hati Chika bersorak.
"Kalau begitu, kak Leon berarti membohongiku."
"Tuan Leon memang pandai berbohong," jawab Drew.
"Ternyata kak Leon selain pandai menjahili orang, pandai berbohong juga rupanya."
"Iya, begitulah dia. Dia sering buat orang lain kesal."
"Kau kesal padanya?"
"Hahaha..."
Obrolan pun terus berlanjut, hingga tidak terasa waktu sudah hampir menunjukan pukul sepuluh malam.
Lantaran montir pribadinya ada kendala di jalan, terpaksa Drew menerima tawaran tuannya untuk menginap malam ini. Sementara Lily dan Chika sudah tidur, Leon mengajak Drew untuk mengobrol sebentar, di temani oleh secangkir kopi.
"Kenapa? Kau marah padaku?" tanya Leon sembari menahan tawa.
"Tidak, aku justru berterima kasih padamu," jawab Drew.
Leon mengerutkan keningnya. "Maksudmu?"
"Ternyata dia menyenangkan," ungkap Drew jujur.
Leon pun tertawa, ternyata kanebo kering bisa luluh juga oleh si Gemoy.
"Kau suka padanya?"
Drew mengedikan bahunya. "Aku tidak bisa menyimpulkan sebuah perasaan secepat itu, tuan."
"Iya, aku paham. Tapi aku rasa, untuk suka sepertinya sudah. Yang belum hanya perasaan cinta dan sayang. Benar begitu?"
Drew tersenyum simpul.
"Kalau suatu hari kau memiliki hubungan dengan adik sepupuku itu, jangan kau pernah sakiti hatinya. Sebab jika kau melakukannya, aku yang akan menjadi garda terdepan untuknya," pesan Leon.
Drew menganggukan kepalanya. "Iya, tuan."
"So, kau ada niat menjalin hubungan dengannya?"
__ADS_1
Drew kelihatan salah tingkah, Leon terus saja memancingnya.
"Kita bahas masalah pekerjaan saja, tuan," jawab pria itu membuat Leon terkekeh.
Lantaran waktu sudah tengah malam, Leon pamit duluan untuk masuk ke kamarnya. Dan Drew bisa tidur di kamar tamu.
"Aku ke kamar duluan, ya. Kasihan istriku, dia pasti sudah tidak sabar menungguku."
Drew paham akan maksud tuannya. "Iya."
Setelah Leon pergi, Drew pun masuk ke kamar tamu. Begitu akan menutup pintu, ia melihat Chika pergi menuju dapur.
Drew mengangkat sebelah sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman. Chika terlihat sangat cantik. Baru kali ini ia tertarik dengan wanita sampai seperti ini. Dan ia yakin, malam ini ia pasti akan mimpi indah.
***
Pagi-pagi sekali Drew sudah pamit untuk pulang. Padahal Lily menawarkan asisten pribadi suaminya itu untuk ikut sarapan bersama dulu. Tetapi Drew menolak. Leon meminjamkan salah satu mobilnya pada Drew.
"Aku menyesal juga sudah membuat ban mobil Drew kempis," ujar pria itu saat tengah sarapan.
"Kenapa?" tanya Lily.
"Aku juga yang repot."
"Kalau kak Leon gak mau repot, biar aku saja yang urus mobil Drew, kak."
"Kau mau mengambil kesempatan lagi, bukan?"
Chika memamerkan sederet giginya yang putih dan rapi. "Hehehe.."
"Tukan ambil kesempatan dalam kesempitan."
"Biarin. Yang penting aku bisa dekat dengannya."
"Tapi ingat, jangan terlalu agresif apalagi kalau di kamar," kata Leon mengingatkan.
"Idiihhh.. Apaan, sih. Memangnya aku ini apaan? Aku bukan wanita murahan seperti wanita yang kak Leon tiduri tanpa ada ikatan pernikahan ya.."
Ucapan Chika membuat Lily berhenti makan sejenak, hal itu juga membuat Chika dengan cepat membungkam mulutnya.
"A a a-ku.. Maksudku.." Chika mencoba untuk menjelaskan.
"Aku sudah tahu kok keburukan Leon itu seperti apa," sahut Lily.
Chika menatap kakak sepupunya dengan penuh rasa bersalah. Ia benar-benar tidak bermaksud berkata demikian di depan Lily.
"Aku minta maaf, kak Ly. Aku sama sekali tidak ada maksud untuk-"
"Aku sudah tahu, Chik. Tidak usah merasa bersalah seperti itu. Lagipula itu kan hanya masalalunya. Tolong jangan bahas hal itu lagi, ya? Toh, itu kan sudah menjadi masalalu juga," tutur Lily bijak.
Chika menganggukan kepalanya. Tapi ia masih merasa sangat bersalah sekali. Beruntungnya Lily sudah tahu, bagaimana kalau belum? Ia bisa merusak rumah tangga mereka begitu saja.
Chika memukuli mulutnya berulang kali, kenapa ia bisa seceroboh itu?
"Ceroboh sekali kau, Chika..!" ujarnya mengingatkan diri sendiri.
Bersambung...
...LIKE, KOMEN, VOTE VOTE VOTE...
...Tekan LOVE untuk menambahkan ke favorit agar dapat notifikasi ketika bab selanjutnya di publish. ...
...Beri HADIAH KOPI juga yaaa...
__ADS_1
...Dan follow akun instagramku @wind.rahma...