
"Hiko.. Turunkan aku sekarang..!" seru Lily. "Kamu sebenarnya mau bawa aku kemana, Hiko..?!"
Pandangan Hiko tetap lurus ke depan. "Kenapa kamu terlihat ketakutan begitu, Ly..? Aku cuma mau ajak kamu keluar sebentar saja, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan sama kamu," tanya serta jawab pria itu.
"Iya, tapi kan kamu gak perlu bawa aku pergi. Kalau ada yang ingin kamu bicarakan, bicarakan saja..! Aku itu udah punya suami, Hiko. Gak seharusnya aku pergi tanpa izin dia."
Hiko menghentikan mobilnya di tepi jalan. Itu membuat Lily setidaknya merasa lega. Tapi kenapa tatapan Hiko berubah menakutkan.
"Kenapa harus perlu izin dulu sama suami kamu sebagai bentuk rasa hormat kamu? Sedangkan dia saja gak pernah menghormati kehormatan kamu, Ly..!"
Lily menatap Hiko mengernyit, apa yang di maksud oleh pria itu. Saat ia ingin bertanya, Hiko terlebih dahulu menjelaskan.
"Kamu pasti kaget kan kenapa aku bilang kayak gini sama kamu? Itu karena aku sudah tahu kalau pernikahan kamu sama dia terjadi lantaran dia merenggut kehormatan kamu sampai menghamili, bukan?"
Lily terbelalak. Dari mana Hiko tahu semua aibnya. Dan yang menurutnya heran, kenapa Hiko sampai marah, padahal baik buruk yang terjadi dalam hidupnya bukanlah masalah untuk Hiko, dia tidak berhak ikut campur.
"Terlepas apa yang kamu tanyakan sama aku itu benar atau tidak, seharusnya kamu gak perlu gali informasi apapun tentang aku, tentang suami aku, tentang pernikahan kami. Memangnya apa untungnya buat kamu, Hiko..?" balas Lily.
Hiko terdiam untuk beberapa saat.
"Ly, kamu itu teman aku, aku teman kamu sejak lama. Sebagai teman kamu, aku gak rela kalau ada orang yang berbuat tidak senonoh sama kamu, Ly. Sampai di sini paham?"
"Enggak," jawab Lily. "Kamu memang teman aku, tapi kamu gak berhak urusin kehidupan aku. Toh, Leon itu tidak seperti yang kamu pikirkan. Kamu gak bisa nilai orang dengan apa yang kamu dengar dari mulut orang lain. Jadi, aku rasa kamu gak perlu cari tahu informasi apapun tentang aku, tentang kami..!"
Lily hendak keluar dari mobil Hiko, tapi Hiko dengn cepat mencegahnya. Ia menarik lengan Lily.
"Semua ini karena harusnya aku yang jadi suami kamu, Ly. Bukan laki-laki brengsek itu..!"
Cup...
Sebuah kecupan lembut dan singkat Hiko daratkan tepat di bibir Lily. Wanita itu terbelalak dan,
Plaakk..
Sebuah tamparan Lily layangkan dan berhasil mendarat mulus di pipi Hiko.
__ADS_1
"Kamu jahat, Hiko..! Apa yang kamu lakukan barusan itu lebih brengsek dari laki-laki yang kamu kata-katai barusan..!" ucap Lily lirih namun penuh penekanan.
Lily turun dari mobil Hiko dan segera lari dari sana, air matanya berjatuhan seiring langkahnya.
"Ly.. Tunggu, Ly..! Aku minta maaf.. Aku bermaksud untuk kurang ajar sama kamu..!" teriak Hiko ikut turun dari mobil.
Pria itu menendang ke sembarang arah, mengacak rambutnya frustasi lantaran sudah ceroboh dan sampai menyakiti hati Lily. Lily pasti membencinya sekarang.
"Sial..! Kenapa aku gak bisa tahan diri aku..!" umpatnya kesal.
Lily lari menyusuri bahu jalan, air matanya terus mengalir tanpa mau berhenti. Ia menghentikan langkah dan duduk di sebuah bangku besi yang terdapat tidak jauh dari tempat berdirinya saat ini.
Lily menundukan wajahnya sembari terisak. Ia terus mengusap bibir bekas ciuman Hiko. Apa yang baru saja Hiko lakukan padanya membuat ia merasa seperti mengkhianati Leon. Ia meminta Leon untuk tidak lagi berbuat hal macam-macam di luaran sana dengan wanita lain, tapi justru ia sendiri yang tidak bisa menjaga diri.
Lily masih tidak habis pikir dengan Hiko. Pria itu memang ia kenal sangat baik, tetapi ia justru salah mengartikan kebaikannya itu. Ia pikir Hiko tulus padanya sebagai seorang teman, tapi ternyata ada ada udang di balik batu.
"Bagaimana jika Leon tahu tentang ini..? Leon pasti akan marah besar.." Lily kelihatannya khawatir sekali.
Lily mengusap air matanya dan menghela napas panjang. Ia harus segera pulang ke rumah dan memikirkan apakah ia akan mengatakan kejadian ini pada Leon atau membiarkannya mememdam seorang diri.
Leon mengepalkan kedua tangannya merasa geram begitu Drew menceritakan apa yang baru saja dia lihat di jalanan tadi.
"Sepertinya pria itu melakukan sesuatu pada nyonya Lily sampai membuat nyonya Lily menangis sesenggukan," imbuh Drew.
Leon tidak bisa lagi menahan amarahnya. Entah kenapa pikirannya tertuju pada nama Hiko begitu Drew menceritakan pria yang dia maksud.
Leon bergegas pergi dari sana dan berusaha akan mencari pria itu sampai ketemu. Pertama, ia akan cari ke restoran milik pria itu yang sempat ia datangi bersama Lily.
Setelah sampai di restoran yang ia tuju, kedua bola matanya mendapati pria yang ia cari tengah duduk di meja bagian pojok. Leon bergegas pergi ke sana dan menarik kemeja yang di kenakan pria itu sebelum akhirnya melayangkan sebuah pukulan tepat di wajah Hiko.
Buugghh..
Satu pukulan berhasil membuat Hiko oleng dan hampir terjatuh. Semua orang yang ada di sana ikut berdiri dan tampak panik melihat kejadian yang ada di depan mata.
"Wooyyy.. Apa-apaan ini..?" seru Hiko seraya memegang sudut bibirnya yang mengeluarkan setetes darah segar.
__ADS_1
Leon tersenyum menyeringai. "Hukuman karena sudah berani menganggu istri orang..!"
Hiko mengernyit, ia berpikir mungkin Lily sudah mengadu pada pria di hadapannya itu.
"Aku hanya berusaha menyelamatkan dia dari laki-laki brengsek sepertimu..!" seru Hiko.
"Jaga bicaramu..!"
"Aku bicara fakta. Kau tidak pantas menjadi suami Lily, aku yang pantas menjadi suaminya."
Sebuh pukulan kembali Leon layangkan, namun Hiko tidak tinggal diam. Pria itu memberi perlawan sehingga terjadi perkelahian yang membuat keadaan berubah menegangkan.
Pukulan demi pukulan mereka layangkan. Leon yang di kuasai amarah tentunya terus menyerang Hiko sampai pria itu tersungkur ke lantai.
"Sekali lagi kau berani mengganggu Lily, aku pastikan aku tidak akan lagi melihat dunia ini..!"
Leon hendak beranjak dari sana, tapi ucapan Hiko membuat pria itu kembali mendidihkan darah yang bergejolak dalam dirinya.
"Setidaknya aku sempat mencicipinya tadi," kata Hiko setengah berteriak.
Leon membalikan matanya dan menghunuskan tatapan mengerikan pada Hiko. Leon menarik Hiko untuk bangun dan menyeretnya ke luar.
Tubuh Hiko yang sudah terasa lemas tidak mampu lagi melawan serangan Leon. Pria itu menyerngnya bertubi-tubi tanpa henti. Pukulan, tonjokan, tendangan terus menghujani tubuh Hiko sampai pria itu babak belur. Setelah merasa puas, Leon pergi dari sana.
Tidak ada satupun orang yang berani melerai keduanya. Dan sialnya, satpam di sana sedang mengambil cuti selama tiga hari ke depan.
Amarah Leon belumlah reda, apalagi ucapan terakhir pria itu terus terngiang-ngiang dalam telinga selama perjalanan pulangnya. Ia menghentikan mobilnya sejenak di tepi jalan guna mengendalikan dirinya.
Leon menghembuskan napas panjang dan terdengar sedikit kasar. Ia memejamkan kedua matanya, tangannya ia gunakan untuk memukul-mukuli setir.
"Apa yang telah dia lakukan padamu, Ly..?" pikir Leon.
Bukannya redam, amarahnya justru kembali meluap-luap. Ia tidak rela Lily di sentuh oleh pria lain, terlebih Hiko adalah pria yang selama ini Leon cemburui.
Bersambung...
__ADS_1