MENGANDUNG ANAK CASSANOVA

MENGANDUNG ANAK CASSANOVA
Bikin Anak Lagi


__ADS_3

Lily menurunkan telunjuk Emely, wanita paruh baya itu sampai terkejut melihat keberanian wanita di depannya.


"Saya memang bukan orang yang terlahir dari orang berada. Kenapa mama begitu bersikeras memisahkan saya dengan Leon? Apa karena mama takut jika saya akan meminta harta mama?" ujar Lily.


"Berani kau dengan saya, hah?" Emely mulai terpancing emosi, baru kali ini ada orang yang begitu berani berkata demikian padanya.


"Saya hanya menjalankan pesan ayah saya. Kami memang bukan orang kaya, tetapi kami tidak akan tinggal diam jika ada yang berani menginjak-injak harga diri kami. Jika mama berani menginjak kaki saya, maka jangan salahkan saya jika saya akan menginjak balik kaki mama," balas Lily terdengar santai namun begitu menusuk.


"KURANG AJAR..!!"


Emely melayangkan tangannya ke udara guna menampar pipi Lily, tetapi Leon dengan cepat menangkap tangan tersebut.


"Jika mama berani sakiti Lily, itu artinya mama sakiti aku juga," seru Leon tegas.


"Lepaskan tangan mama, Leon! Dia pantas mendapatkan hukuman dari mama, dia sudah keterlaluan dengan mama, Leon!"


"Mama yang keterlaluan!" balas Leon.


Pria itu melepaskan tangan mamanya kemudian menarik tangan Lily membawanya pergi dari sana. Meninggalkan Emely yang tengah di landa emosi dan merasa geram atas sikap Lily yang begitu berani padanya.


Di perjalanan, Leon merasa sangat bersalah pada Lily atas sikap mamanya. Ia tahu perasaan Lily ketika di rendahkan dan juga di hina oleh mamanya. Pasti Lily terluka.


"Ly.. Aku minta maaf atas sikap mama tadi, ya! Jangan di masukan ke dalam hati," ucap Leon.


Lily mengulas senyum seolah dirinya baik-baik saja, padahal ia merasa sakit sekali.


"Iya, Leon. Tidak apa-apa. Aku juga minta maaf karena bersikap kasar tadi pada mamamu. Aku tidak bermaksud untuk-"


"Justru aku salut padamu," pangkas Leon. "Kau tidak lemah di hadapan mama, kau harus berani melawan orang-orang yang merendahkanmu terlebih itu orang tuaku sendiri, Ly."


"Tapi aku tetap merasa bersalah, Leon. Bagaimanapun mama kau itu mertuaku."


"Jangan kau, aku saja yang darah dagingnya sendiri tidak pernah di anggap. Aku hanya berharap pada waktu, semoga mama bisa berubah."


"Iya, Leon."


Lily memandang wajah Leon dari samping, ia memang tidak tahu seperti apa hubungan Leon dengan orang tuanya. Tapi sepertinya dari setiap ucapan pria itu, hubungan mereka tidaklah dekat seperti seorang ibu dan anak.

__ADS_1


"Oh ya, kita sekalian ke rumah sakit, ya. Sekalian cek kondisi perutmu apakah sudah membaik," ajak Leon, Lily mengangguk setuju.


***


Sorenya, Drew baru saja pulang kerja. Sebelumnya ia di minta oleh tuannya untuk mencarikan seorang security yang tegas dan juga jago bela diri untuk di tugaskan di rumah. Tiba-tiba ia di kejutkan oleh seorang perempuan yang menyebrang begitu saja.


Ckiiiittt..


Drew mengerem mobilnya mendadak dan nyaris menabrak perempuan itu.


"Woooyy.. Kalau nyetir hati-hati, dong..!" maki perempuan itu.


Drew segera keluar dari mobil lalh menghampiri perempuan tersebut.


"Harusnya kau yang hati-hati! Apa kau tidak melihat ada mobil yang akan melintas?"


Perempuan itu tidak lagi memaki pria di hadapannya, kini ia terpesona melihat ketampanan seorang Drew.


"Oh iya, iya, aku yang salah. Maaf, ya!" perempuan itu mengulurukan tangannya pada Drew, namun Drew enggan menjabat tangan perempuan itu.


"Oh ya, boleh saya minta nomer teleponnya? Siapa tahu nanti ada yang terluka, kamu harus tanggung jawab," ujar perempuan itu modus.


"Saya tidak bisa memberi nomer telepon saya sembarang ke orang lain. Permisi."


"Eh, eh, tunggu, tunggu!"


Drew menghentikan langkahnya ketika perempuan itu menghadang tubuhnya. Perempuan itu kembali mengulurkan tangan sembari mengenalkan diri padanya.


"Kenalin, namaku Yuna."


Drew memandang wanita di depannya dengan tatapan aneh, baru kali ini ia bertemu dengan perempuan aneh seperti perempuan di hadapannya.


"Eh mau kemana? Tunggu, kenalan dulu!" teriak Yuna begitu Drew melipir masuk ke dalam mobilnya.


Yuna berdecak, baru saja ia akan mendapatkan pria good looking, tapi gagal. Meski ia gagal mendapatkan nomer teleponnya, tetapi ia tidak lupa untuk mencatat nomer plat mobil pria tersebut.


"Sombong banget laki-laki itu, tapi aku suka. Bikin aku tertantang untuk mendapatkan hatinya," gumam Yuna.

__ADS_1


***


Malamnya, Leon tengah bermanja-manjaan dengan istrinya di atas tempat tidur. Ia merengek pada Lily agar membuat buah hati lagi malam ini. Tapi Lily enggan untuk memenuhi permintaan Leon, meski Dokter sudah menyatakan dirinya sudah sembuh total, sesekali Lily masih merasakan sakit di bagian perutnya.


"Sayang..." rengek Leon dalam pelukan istrinya.


"Tapi Leon.." Lily serba bingung, jika ia menolak maka ia akan dosa.


"Ya sudah, iya..." kata Lily mengizinkan.


Leon mendongak wajahnya dengan senyum yang mengembang. Ia memang sulit jika tentang menahan hasrat. Sebab dulu saja ia hampir tiap hari menjamah wanita, tentu saja ia tidak bisa menahan gelora yang membara ini sampai harus berminggu-minggu, apalagi bulan.


Leon langsung saja mengulum bibir mungil Lily, wanita itu tidak lagi terkejut mendapat serangan-serangan seperti ini dari Leon. Bahkan Leon semakin salut pada istrinya karena sudah mampu menerima serangannya dengan baik. Bahkan kini Lily mulai sedikit nackal, lihat saja sekarang wanita itu dengan asik memainkan benda pusaka Leon dari balik celana yang di kenakan.


Tidak ada lagi pemandangan indah yang bagi Leon selain melihat Lily terrangsaang seperti sekarang ini. Apalagi mendengar dessahan Lily, membuat Leon semakin bersemangat untuk menuntaskan permainannya.


Tok tok tok..


Tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk oleh seseorang. Tapi mereka sama sekali tidak memperdulikan hal tersebut. Mereka tetap melanjutkan aksinya.


Dari luar, bi Ratih tengah berdiri di depan pintu kamar Leon dengan membawa secangkir kopi permintaan tuannya. Berulang kali ia mengetuk pintu, tetapi tidak sahutan atau apapun dari dalam.


"Tuan sama nyonya udah tidur meureun, ya? Katanya tadi teh minta di bikinin kopi," gumam bi Ratih.


"Ah masa sih jam segini teh udah pada tidur," pikirnya.


Akhirnya bi Ratih memberanikan diri untuk masuk ke dalam kamar, ia memutar knop pintu dan lagi-lagi mendapati adegan percintaan.


"Astagfirullah, Subhanallah, Allahuakbar, Innalilahi..." ucapnya spontan sambil memejamkan mata, dengan cepat ia menutup kembali pintunya.


"Yaa Allah Yaa Rabbii tobat gustiiii.. Kenapa atuh sayah teh harus melihat yang kayak gituan, aduuuh edun pisan... Bikin iri aja, eh maksudnya bikin mata dosa aja.." ujarnya sembari melipir ke arah dapur.


Bersambung...


...Jangan lupa dukungannya teman-teman. VOTE, dan Hadiah KOIN. tekan LOVE nya juga yaaaa. LIKE dan KOMEN. ...


...Follow Instagram @wind.rahma...

__ADS_1


__ADS_2