
Sampai lima hari berikutnya, Lily setiap pagi pergi ke tempat mama mertuanya di tahan untuk membawakan sebuah makanan sesuai permintaannya. Tentunya di temani oleh Leon. Tetapi kali ini, Lily tidak langsung pulang meski Emely menyuruhnya untuk pergi dari sana.
"Kenapa masih di sini? Pergi.!" usir Emely lagi.
Leon mengajak istrinya untuk pulang, tetapi Lily enggan dan tetap diam di tempat.
"Kau menuntut terima kasih dariku?" seru Emely lagi, ia menghunuskan tatapan ketidaksukaan terhadap Lily.
Lily menggeleng seraya tersenyum. Ia tidak pernah meminta imbalan apapun dari mama mertuanya bahkan sekedar ucapan terima kasih.
"Mama itu unik, ya. Mama benci aku tapi mama suka dengan masakan aku," ujar Lily membuka suara setelah beberapa saat memilih terdiam.
Leon tidak menyangka jika istrinya akan berkata demikian. Emely mendapat sindiran seperti itu langsung terdiam.
"Mama tidak mau datang ke pernikahan aku tapi sekarang mama minta aku untuk datang kemari setiap hari. Dan aku selalu datang untuk memenuhi permintaan mama," imbuh Lily.
"Seharusnya masalah ekonomi keluarga aku bukanlah sesuatu yang harus di jadikan sebagai alasan mama membenciku. Sebenarnya apa sih yang membuat mama sebenci itu sama aku?"
Leon salut dengan keberanian Lily. Wanita itu bisa membuat mamanya sampai tidak bisa berkata-kata.
"Diam..! Kau terlalu banyak bicara..! Leon, bawa wanita kesayanganmu itu pergi, mama muak lama-lama melihat dia ada di sini."
"Kalau mama tidak suka dengan Lily, mulai besok aku tidak akan izinkan dia untuk datang lagi ke sini," sahut Leon.
"Ayo, sayang. Kita pergi..!" ajak Leon sembari menggandeng wanitanya.
"Le-Leon.. Tetap kirim makanan untuk mama..!!" teriak wanita paruh baya itu.
Leon dan Lily masuk ke dalam mobil, pria itu menoleh pada istrinya.
"Maafkan sikap mama, ya..!" ucap Leon.
"Tidak apa-apa," balas Lily.
Leon tahu istrinya pasti sangat sedih lantaran usahanya untuk bisa mengambil hati mamanya ternyata sangat sulit.
"Kita perlu membuat mama jera agar bisa menyadari kesalahannya. Jadi mulai besok, kita tidak perlu lagi datang untuk membawakan makanan," tutur Leon.
Lily mengangguk menurut. "Iya, Leon. Aku ikut apa katamu saja."
Leon menyubit pipi Lily dengan gemas, sehingga ia mendapat lirikan tajam dari wanita itu.
"Sakit tahu.." kata Lily seraya mengusap pipinya yang sedikit memerah.
Leon hanya tersenyum tanpa rasa bersalah.
"Kita gak langsung pulang, ya," kata pria itu.
"Lantas kemana?" tanya Lily.
__ADS_1
"Maunya kemana?" Leon bertanya balik.
"Terserah, aku ikut saja."
Leon menghembuskan napas. Yang ia tahu, wanita paling senang di ajak shopping. Tidak ada salahnya jika ia membawa Lily ke sebuah toko pakaian.
"Ya sudah, kita belanja saja."
"Aku gak punya uang," sahut Lily.
Leon tersenyum. "Aku yang bayar, Lily.. Oh ya, nanti aku kasih kartu kredit untuk keperluanmu."
"ATM?"
"Iyaaaa..."
"Aku harus isi saldo dong?"
Rasanya Leon ingin menggigit wanita di sampingnya karena gemas.
"Tinggal langsung pake aja. Udah ada saldonya," jawab Leon sambil menahan sabar.
"Oh.. Iya deh. Terima kasih, ya."
"Hm."
Kemudian Leon mengemudikan mobilnya meninggalkan kantor polisi menuju tempat perbelanjaan.
"Astagfirullah.." ucap Drew begitu ia terpeleset dan nyaris jatuh ke lantai karena lantainya sangat licin.
"Ya ampun.." Yuna terkejut mendapati pria idamannya hampir terjatuh.
Ia menaruh pel-annya dan menghampiri pria itu.
"Tuan, kau tidak apa-apa?" tanya Yuna khawatir.
"Tidak, tidak apa-apa," jawab Drew.
Yuna menghela napas lega. "Syukurlah."
"Lain kali kalau pel peras sampai kering," pesan Drew sebelum akhirnya memilih pergi dari sana.
"Iya, maaf."
Yuna merasa sangat bersalah lantaran sudah ceroboh dan nyaris membuat pria idamannya itu terjatuh ke lantai. Lain kali ia harus lebih hati-hati lagi dalam bekerja.
Sementara di tempat pusat perbelanjaan, Leon sedari tadi terus menggoda istrinya. Dari gaun seksi yang pantas jika di pakai oleh Lily sampai beha yang ia pasangkan di dada wanita itu.
"Cocok, sayang," ujar pria itu.
__ADS_1
Lily membuka kembali beha tersebut lantaran malu jadi pusat perhatian banyak orang. Bahkan tidak jarang dari mereka yang melihatnya menahan tawa.
"Leon.. Udah ah, aku malu.." kata Lily, kini pipinya memerah menahan malu.
"Tapi aku suka, sayang.."
"Ya sudah kalau begitu kau saja yang pakai," ujar Lily sembari melipir dari sana.
Leon di buat geleng-geleng kemudian ia menaruh kembali beha tersebut ke tempat semula.
Lily memilih pakaian yang sederhana, tentunya tidak semua harganya mahal yang penting nyaman untuk di pakai. Leon memilihkan beberapa baju tidur terusan sebatas pahha dengan tali kecil di masing-masing baju agar Lily semakin terlihat seksi begitu memakaiannya di waktu malam.
"Ini sudah cukup," ujar wanita itu.
"Yakin tidak mau pilih lagi yang lain?"
Lily menganggukan kepalanya. "Iya."
"Ya sudah kalau begitu kita langsung bayar saja."
Mereka langsung menuju kasir dan membayar seluruh totalnya. Lily terbelalak saat totalnya jadi banyak.
"Kok jadi banyak?" bisik Lily panik.
Leon hanya tersenyum, sebab Lily tidak tahu jika ia membelikan pakaian tidur itu.
Usai berbelanja, mereka juga tidak langsung pulang ke rumah. Mereka mampir ke sebuah restoran untuk makan siang. Sialnya, Leon harus bertemu lagi dengan pria yang bernama Hiko itu.
Begitu melihat Lily, Hiko ingin menghampiri, namun dengan cepat Leon menggandeng tangan wanita itu untuk segera pergi dari sana dan masuk ke restoran tersebut.
"Kenapa buru-buru, sih?" tanya Lily terheran.
"Ada orang gila," jawab Leon asal.
Lily mengernyit merasa terheran, ia menoleh ke belekang dan ternyata ia melihat ada Hiko di sana. Sekarang Lily paham kenapa Leon dengan cepat membawanya pergi dari sana.
Apa Leon cemburu ya sama Hiko? Pikirnya dalam hati.
Di dalam restoran tersebut, Leon terus melihat ke arah luar. Memastikan apa pria itu masih ada di sana atau kemungkinan buruknya akan menghampiri istrinya. Lily yang melihat ekspresi wajah Leon kini tidak kuat menahan tawa.
"Kenapa?" tanya Leon mendapati istrinya sedang terkekeh.
"Tidak apa-apa," jawab Lily berusaha menormalkan diri pura-pura tidak tahu kalau Leon sebenarnya sedang cemburu.
Lily meraih buah tangan Leon di atas meja. Pria itu sedikit terkejut dengan sikap Lily.
"Jangan pikirkan apapun yang membuat perasaanmu tidak nyaman, Leon. Tenang saja, aku di sini bersamamu," ucap Lily seakan tahu apa yang sedang di pikirkan oleh suamianya.
Dari ucapan Lily barusan, sepertinya Lily sempat melihat kehadiran Hiko di sana. Setidaknya ia merasa tenang oleh kata-kata itu barusan.
__ADS_1
"Aku tidak ingin kau di miliki pria lain, kau hanya milikku," balas Leon seraya mencium lembut tangan Lily.
Bersambung...