MENGANDUNG ANAK CASSANOVA

MENGANDUNG ANAK CASSANOVA
MENCIUM SESUATU


__ADS_3

Leon terperangah melihat istrinya masih memakai handuk begitu ia baru saja selesai mandi. Dan lihatlah wajah kesal wanita itu saat ini, sampai Leon tidak bisa menahan tawa karena gemas.


"Kau menyiksaku, Leon..!" sunggut wanita itu seraya melipat tangan di depan dada.


Leon menghampirinya dan ikut duduk di tepi ranjang sebelah Lily. "Kenapa, sayang..?"


"Kau membuatku kedinginan..!" seru wanita itu lagi.


Leon benar-benar tidak tahan melihat Lily yang sangat menggemaskan. Kemudian ia mencium bibir wanita itu dari samping. Lily membulatkan matanya


"Masih marah padaku..?"


Lily melirik ke arah suaminya. Pria itu sedang menyunggingkan bibir padanya. Entahlah, Lily bingung harus marah atau justru senang dengan sikap Leon. Yang pasti, pria itu selalu berhasil membuat hatinya tidak karuan.


Leon beranjak dari sana menuju lemari, ia mengambil sesuatu dari atas lemari dan membuka lemari tersebut. Ia mengambil pakaian dallam milik Lily lalu di berikannya pada wanita itu.


"Jangan lupa pakai juga bajunya..!" ucapnya seraya menyodorkan pakaian dallam tersebut.


Lily mengambil pakaian dallam miliknya dari tangan Leon, kemudian memakainya dengan membelakangi pria tersebut.


Leon geleng-geleng melihat tingkah lucu istrinya. Setelah selesai memakai baju, Lily kembali menghadap ke arah Leon. Ternyata Lily lebih cantik dan seksii lebih dari yang ia bayangkan sebelumnya. Leon sampai terpaku dan sedikitpun tidak memalingkan wajah.


"Cantik..," puji Leon.


"Bajunya, kan?"


"Istriku," ralatnya.


Lily mengulum senyum, bukan karena pujian pria itu, tetapi ia merasa ada sesuatu yang aneh dan tentunya membuatnya merasa senang ketika Leon berusaha menggodanya.


"Sesekali tawari aku, jangan menunggu aku yang minta," ujar Leon membuat kerutan dalam di kening Lily.


"Kau mau kopi?" tanya Lily tak paham akan maksud Leon yang sebenarnya.


"Kok kopi, sih."


"Terus apa, dong?"


"Susu," jawab Leon.


"Oh.. Ya sudah, kalau begitu tunggu sebentar, ya. Aku buatkan dulu."


Lily hendak beranjak dari sana, tetapi Leon segera menarik lengan wanita itu. Leon pikir Lily mengerti akan maksudnya, tapi pada kenyataannya Lily sulit untuk mengerti kode-kodenya.


Cupp..


Leon mencium buah dada Lily, membuat pemiliknya sampai terkaget-kaget.


"Leon..!" pekiknya.


"Susu yang ini maksudku," ujar Leon memperjelas.


Bibir Lily membentuk sebuah garus lurus, sekarang ia baru paham akan masud ucapan pria itu.

__ADS_1


"Jadi maksudmu..?"


"Iya, aku ingin kau yang mulai," pungkas Leon.


Lily bingung harus menjawab apa. Terlebih sekarang tatapan Leon sudah berubah, Leon menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan. Tatapan pria itu mulai di penuhi kabut hasrat yang perlahan mulai menggelora.


Sedetik kemudian, Lily menjinjitkan kakinya, kedua tanganya menangkup pipi Leon dan,


Cup..


Sebuah ciuman singkat berhasil Lily berikan untuk Leon. Pria itu sampai terdiam untuk beberapa detik kemudian kembali tersadar.


"Manis..," ucap Leon seraya menyunggingkan sebelah sudut bibirnya.


Lily menundukan wajahnya, tak berani lagi menatap pria di hadapannya. Leon membawa Lily ke dalam pelukannya, mendekap erat wanita itu.


Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku sampai tidak bisa lagi berpaling pada laki-laki manapun. Ucap Leon dalam hati.


***


"Tunggu sebentar..!" teriak bu Hesti begitu ada seseorang yang mengetuk pintu rumahnya pagi-pagi.


Bu Hesti mematikan kompor dan menghampiri seseorang yang bertamu ke rumahnya sepagi ini.


"Assalamu'alaikum, bu.." ucap tamu tersebut seraya meraih tangan bu Hesti kemudian mencium punggung tangannya.


"Waalaikumussalaam.." jawab bu Hesti sedikit terkejut melihat seseorang itu kembali datang ke rumah.


"Ada apa ya, nak Hiko?" tanya bu Hesti kemudian.


"Ba-baik, nak Hiko. Kalau begitu silahkan masuk..!"


"Iya, terima kasih."


Kemudian Hiko masuk dan duduk di kursi ruang tamu usai di persilahkan oleh pemilik rumah. Ia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan, ternyata rumah itu belum banyak yang berubah, masih hampir sama seperti dulu.


"Ini ada bingkisan buat bu Hesti," Hiko menyodorkan sesuatu pada bu Hesti ke atas meja.


"Apa ini, nak Hiko?" tanya bu Hesti masih terheran.


"Bu Hesti bisa buka saja," jawab pria itu.


Ternyata bingkisan tersebut berisi makanan ala restoran. Bu Hesti mengucapkan banyak terima kasih pada Hiko meski ia merasa segan.


"Oh ya, Lily ada, bu?"


Hiko sengaja bertanya demikian sebagai pancingan. Dan jawaban bu Hesti membuat ia semakin yakin jika ada sesuatu yang tidak ia ketahui dari pernikahan Lily yang sepertinya tidak beres.


"Lily baru saja berangkat ke pekerjaan barunya," jawab wanita paruh baya itu.


Hiko mengangguk-anggukan kepalanya. "Sama suaminya?"


Deggg..

__ADS_1


Dengan sekejap tubuh bu Hesti menegang.


"Aku sudah tahu kalau Lily sudah menikah, bu. Lalu untuk apa bu Hesti menyembunyikannya dariku?"


Pertanyaan Hiko semakin membuat bu Hesti sulit untuk bicara.


"Apa ada sesuatu yang tidak beres mengenai pernikahan Lily dengan suaminya?" lanjut Hiko.


Bu Hesti menggerakan mulutnya, namun masih sulit untuk ia berbicara.


"M-maksud, nak Hiko a-apa, ya?" bu Hesti balik bertanya.


Pria itu mengulas senyum. "Aku merasa ada yang aneh saja, bu. Kalaupun pernikahan Lily itu memang di rencanakan oleh niat baik, kenapa ibu sampai berbohong mengenai pernikahan putri bu Hesti sendiri? Tolong ceritakan padaku, apa yang terjadi sebenarnya, bu?"


Bu Hesti terdiam. Rupanya Hiko pandai sekali membaca situasi. Ia harus lebih hati-hati, jangan sampai mengatakan yang sebenarnya pada pria itu meski Hiko merupakan teman lama putrinya yang ia kenal sangat baik.


Bu Hesti mengulas senyum untuk menyakinkan Hiko jika tidak ada sesuatu seperti yang dia pikirkan.


"Nak Hiko terlalu berpikiran yang macam-macam. Pernikahan Lily baik-baik saja, begitupun dengan Leon-suaminya dia pria yang sangat baik. Ibu berbohong pada nak Hiko mengenai pernikahan Lily atas permintaan Lily sendiri. Karena Lily malu sama nak Hiko, dia lupa memberi kabar pada nak Hiko sebagai teman baiknya," ucap bu Hesti dengan alasan yang simple.


Hiko mengangguk-anggukan kepalanya. Memang benar, waktu itu Lily sempat meminta maaf karena tidak sempat mengbarinya. Logikanya mengatakan jika bu Hesti tidak mungkin berbohong. Tapi hati kecilnya tetap yakin jika memang ada sesuatu dalam pernikahan Lily.


"Oh, begitu ya, bu."


"Iya, nak Hiko," bu Hesti merasa sedikit lega.


Hiko melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah hampir menunjukan pukul tujuh.


"Kalau begitu, aku pamit permisi ya, bu. Lain kali aku mampir lagi kemari," pamit pria itu.


"Iya, nak Hiko. Terima kasih sudah mampir kemari."


"Sama-sama, bu. Oh ya, pak Tio kemana, ya? Kok gak kelihatan?" tanya pria itu sebelum pergi.


"Biasa, sudah pergi kerja dari subuh."


"Oh, salam aja buat pak Tio."


"Iya, nanti ibu sampaikan."


"Aku pamit, bu. Assalamu'alaikum.."


"Walaikumussalam.."


Bu Hesti mengantar Hiko sampai teras, setelah pria itu benar-benar pergi, barulah bu Hesti kembali ke dalam rumah. Pandangannya tertuju pada bingkisan pemberian Hiko tadi, entah kenapa ia merasa ada sesuatu di balik kebaikan pria itu sekarang. Meski Hiko memang sudah baik sejak lama.


Bu Hesti berusaha menepis pikiran buruk itu. Beliau berharap tidak akan ada lagi sesuatu yang bisa menggoyahkan rumah tangga putrinya.


Bersambung...


...JANGAN DI SKIP..!! ...


...Buat kalian yang mau lihat keromatisan LEON & LILY, langsung cek aja di story IG atau FB aku ...

__ADS_1


...@wind.rahma...


...BURUAN...!! Keburu hilang..! ...


__ADS_2