
Dalam perjalanan menuju rumah orang tuanya, Lily terus saja diam. Ia masih kepikiran soal ucapan Ava tadi pagi. Untuk saat ini, ia pergi di antar oleh mantan supir mama Emely dan bi Ratih tidak ikut serta. Wanita paruh baya itu meminta cuti untuk pulang kampung selama nyonya nya tidak di rumah. Sebab salah satu pihak keluarganya ada yang sakit. Lily memperbolehkan dan mengizinkan bi Ratih untuk pulang.
Setelah menempuh waktu sekitar hampir tiga puluh menit, mobil yang di kemudikan oleh mantan supir mama Emely pun tiba di halaman rumah orang tua Lily. Supir itu membantu membawakan koper baju milik Lily sampai teras depan rumah.
"Terima kasih sudah mengantar saya, pak," ucap Lily.
"Iya, sama-sama nyonya muda. Kalau begitu saya pamit pergi lagi," balas dan pamit pak supir tersebut.
"Iya, pak."
Sementara pak Supir pergi, Lily mengetuk pintu rumah di serati ucapan salam. Tidak berapa lama, Bu Hesti membuka pintu.
"Walaikumussalaam.. Ayo masuk, nak. Ibu bantu bawakan kopernya, ya," ajak serta tawar wanita paruh baya itu.
"Tidak usah, Bu. Biar aku saja," tolak Lily.
Mereka masuk ke dalam, Lily menaruh kopernya di kamar, lalu kembali ke ruang tengah duduk bersama ibunya.
"Ayah kerja, Bu?" tanya Lily begitu tidak melihat sosok sang ayah di sana.
"Iya, dari tadi subuh. Oh ya, kamu di antar siapa, nak? Bi Ratih gak ikut?"
"Di antar mantan supir mamanya Leon, Bu. Kalau bi Ratih, beliau cuti pulang kampung. Katanya ada keluarganya yang sakit," jawab Lily.
"Oh.. Begitu. Oh ya, ngomong-ngomong usia kandunganmu sekarang sudah memasuki Minggu ke berapa? Kalau nanti sudah tiga bulan, kita adakan syukuran kecil-kecilan untuk tiga bulanan," tanya serta usul Bu Hesti.
"Baru mau memasuki Minggu ketiga, Bu. Harusnya nanti Minggu ke empat periksa ke Dokter. Tapi kayaknya harus periksa sendiri, deh, soalnya kan Leon gak ada."
Ada raut kesedihan di wajah Lily, seharusnya periksa kehamilan pertama di temani sang suami. Tapi ia harus sendiri nanti.
"Tidak apa-apa. Nanti biar ibu saja yang temani, ya?"
Lily mengangguk. "Iya, Bu."
Bu Hesti membelai lembut rambut sang putri, kemudian berpindah mengelus perut Lily yang masih terlihat datar.
Sementara di tempat lain, malamnya Leon baru sampai di tujuan. Apartemen adalah tempatnya tinggal sementara berada di sana. Ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur besar, mengambil ponsel dari saku celana hitamnya.
Begitu akan mengabari istrinya, ternyata ponselnya mati kehabisan baterai. Untung ia tidak lupa membaca charger. Sambil menunggu baterai ponselnya terisi, ia memejamkan matanya sebentar.
Lantaran merasa tubuhnya lelah, Leon tidak bangun lagi alias tidur sampai pagi.
__ADS_1
***
Asap mengepul berasal dari ruang dapur rumah Bu Hesti menandakan tuan rumah sedang memasak. Wanita paruh baya itu membuat pisang goreng sebagai menu sarapan rutinitas mereka.
"Jangan di habiskan, yah. Sisain buat Lily..!" ujar Bu Hesti begitu suaminya tak juga berhenti makan pisang goreng di atas piring yang sudah tersaji di atas meja makan.
"Itu masih ada," pak Tio menunjuk pisang goreng yang masih ada dalam adonan baskom kecil.
"Iya kalau ibu goreng matangnya terus ayah makan lama- lama habis," sahut Bu Hesti.
Pak Tio hanya nyengir memamerkan deretan giginya yang setengah tertutup dengan pisang goreng.
Tidak lama kemudian, Lily datang dari arah kamar menuju ruang dapur. Wanita itu ikut duduk di kursi makan depan ayahnya. Wajahnya terlihat sedikit lesu. Bu Hesti yang menyadari hal itu segera menanyakan ada apa gerangan.
"Kenapa, nak? Kok pagi-pagi mukanya kusut?" tanya wanita paruh baya itu sambil memindahkan pisang goreng yang baru di angkat ke piring di atas meja.
"Leon belum mengabari aku juga, Bu. Aku jadi khawatir terjadi sesuatu dengannya," sahut Lily.
Bu Hesti menghirup napas panjang. "Mungkin nak Leon sibuk dan belum sempat mengabari. Siapa tahu nanti kalau sudah ada waktu luang kasih kabar," tutur Bu Hesti.
"Iya, kamu jangan terlalu berpikiran macam-macam. Berpikir positif saja," tambah pak Tio.
Meski ia yakin jika Leon sudah berubah, tapi entah kenapa ucapan Ava sangat mengganggu pikirannya.
Tidak, Ly. Kau tidak boleh termakan ucapan wanita itu. Gumam Lily dalam hati.
"Kenapa? Ada yang mengganggu pikiran kamu?" tanya Bu Hesti lagi.
Lily mendongakan wajahnya memandang wajah sang ibu yang kini sudah duduk di dekatnya.
"Tidak, tidak ada," jawab Lily bohong.
"Ya sudah, makan gih pisang gorengnya. Nanti keburu dingin."
"Iya, Bu."
"Minumnya mau ibu buatkan teh manis?"
"Tidak usah, Bu. Biar nanti aku bikin sendiri saja kalau mau," tolak Lily.
"Oh, ya sudah."
__ADS_1
Saat sedang memakan pisang goreng, Lily mendengar ponselnya bunyi dari arah kamar. Dengan cepat ia bergegas dari sana menuju kamarnya. Ia mendapati layar ponselnya menyala dan nama Leon tertera di sana.
Lily buru-buru menjawab telepon tersebut dengan menggeser ikon berwarna hijau.
"Halo, sayang. Kenapa kau baru mengabariku?" cecar Lily begitu ponselnya ia tempelkan di daun telinga.
"Iya, maaf sayang. Semalam ponselku mati dan aku ketiduran saat ponselnya di charger," jawab Leon dari sebrang sana.
"Oh.." Lily menghela napas lega. "Oh ya, kau sudah sarapan?"
"Belum, ini aku mau baru saja mau pergi sarapan."
"Dengan Drew?"
"Drew sudah pergi sarapan duluan, sayang."
"Terus kau sarapan sama siapa? Sendiri?"
"Ya sudah kalau begitu aku tutup dulu teleponnya ya, sayang. Aku sarapan dulu."
"Iya."
"Hei, kau sedang apa? Ayo pergi sarapan, aku sudah lapar," ucap seorang wanita dari sebrang sana cukup jelas terdengar oleh Lily di detik sebelum Leon mematikan sambungan teleponnya.
Lily membulatkan matanya sempurna cukup terkejut.
"Halo, Leon.. Sayang... Leon..." Berulang kali Lily memanggil suaminya, tetapi sambungan telepon memang sudah mati.
Lily mencoba menghubungi Leon, tetapi pria itu tidak menjawab teleponnya. Kini perasaan Lily sudah tidak karuan, ingin berpikir positif pun sepertinya sulit.
"Siapa wanita itu?" pikir Lily.
Ia terdiam untuk beberapa saat, entah kenapa ucapan Ava sekana mendominasi pikirannya.
"Tidak, Lily. Jangan berspekulasi sendiri. Bisa jadi itu rekan kerja Leon yang lain. Leon tidak mungkin berbuat yang macam-macam. Tidak mungkin..!"
Lily menghirup napas panjang, mencoba mengontrol dan mengendalikan pikirannya dari hal-hal negatif yang sedari tadi terus berputar-putar dalam kepalanya.
Bersambung....
...Jangan Lupa Dukungannya teman-teman. SUKA, KOMEN, FAVORIT, dan juga BERI HADIAH. VOTE nya juga yaaaa. ...
__ADS_1