MENGANDUNG ANAK CASSANOVA

MENGANDUNG ANAK CASSANOVA
TEST PEK


__ADS_3

Lily dan Yuna memutuskan untuk pulang setelah mereka puas saling bertukar cerita. Tiba-tiba saja Lily tidak sengaja berpapasan dengan Hiko. Lily membulatkan matanya, wajahnya menegang mengingat kejadian terakhir bertemu dengan pria itu.


"Ayo, Yun!" ajak Lily meminta Yuna untuk buru-buru pergi dari sana.


"Tunggu, Ly!" cegah Hiko.


Pria itu menarik pergelangan Lily namun segera di tepis kasar oleh pemiliknya.


"Jangan sentuh aku..!" seru Lily dengan tegas.


Hiko mengangkat kedua tangannya ke depan dada. "Iya, ok, aku tidak akan menyentuh kamu. Aku cuma mau minta maaf atas apa yang sudah aku lakukan sama kamu. Please, maafin aku..!"


Hiko menelungkupkan kedua tangannya sembari memohon. Sebab ia merasa sangat bersalah atas apa yang telah di perbuatnya pada Lily.


Lily memandang wajah Hiko sesaat, ada keraguan dalam benaknya.


"Aku mau pergi, tolong jangan halangi aku lagi, Hiko!" pinta Lily.


"Aku akan beri kamu jalan tapi aku mohon, beri aku kesempatan untuk kembali berteman dengan kamu, Ly. Maafin aku, aku sungguh-sungguh menyesal..!" ucap Hiko sekali lagi.


Lily terdiam, memang perbuatan Hiko itu begitu melukai hatinya. Juga bisa merusak hubungan rumah tangganya dengan Leon.


"Sstt.. Siapa, sih?" bisik Yuna pada Lily.


Lily melirik Yuna sekilas, ia tidak ingin menjelaskan apapun.


"Please.. Maafin aku, Ly! Aku janji aku tidak akan melakukan hal bodoh itu lagi..!"


Hiko menekuk kedua lututnya ke tanah, kedua tangannya terlungkup memohon maaf. Kini mereka jadi pusat perhatian orang-orang yang berlalu lalang.


"Hiko, kamu apa-apaan, sih? Kamu nggak perlu kayak gini tahu gak? Hiko bangun..!"

__ADS_1


Lily merasa tidak enak begitu semua orang menatapnya dengan tatapan sudut pandang mereka masing-masing. Bahkan Yuna pun sampai melongo dengan apa yang di lakukan pria bernama Hiko itu.


"Aku akan tetap seperti ini sebelum kamu maafin aku, Ly," jawab Hiko.


Yuna merasa, jika pria itu sepertinya telah melakukan sebuah kesalahan besar.


"Ya udah Lo berlutut aja sampe besok di sini, Lily gue ajak pulang," cetus Yuna membuat Hiko mendongakan wajahnya terkejut.


"Jangan ikut campur..!" seru Hiko.


"Gue gak ikut campur, ya. Lo juga kan yang mau berlutut di sini dan gue rasa Lily belum mau maafin Lo. So, gak usah maksa. Ayo, Ly..!"


Yuna menarik pergelangan tangan Lily dan membawanya pergi dari sana. Sementara Hiko di buat kesal bukan karena Lily tidak memaafkan dirinya, tapi karena sikap wanita yang bersama Lily.


"Beraninya itu cewek .!" umpat Hiko.


***


Semenjak kejadian Xander di seret paksa oleh warga pak Rete kampung tempat kediaman pak Tio, entah kenapa ibu-ibu yang biasa doyan gosip tidak lagi bisik-bisik membicarakan hal-hal buruk mengenai keluarga pak Tio di depan Bu Hesti saat sedang memilah sayuran keliling.


"Kita berusaha baik aja deh, ya. Ingat, juragan Mongol kena hajar, orang kaya itu berhasil masuk penjara, hanya karena mereka mengganggu keluarga pak Tio. Ih, ngeri juga kan?" bisik salah satu dari mereka.


Bu Hesti mengulum senyum mendengar bisikan mereka. Rupanya itu yang menjadi alasan mereka stop ghibah tentang Lily maupun keluarganya.


"Ibu-ibu, saya duluan, ya," pamit Bu Hesti begitu selesai membayar sayuran yang baru saja ia beli.


"Iya iya Bu Hesti, hati-hati di jalan," sahut mereka.


Bu Hesti membalasnya dengan senyuman, padahal mobil pikap tersebut berhenti di sebrang rumahnya. Tapi ibu-ibu sampai berpesan untuk hati-hati di jalan segala.


Sampai di dapur rumahnya, Bu Hesti langsung bersiap untuk memasak. Lantaran hari sudah sore, suaminya sebentar lagi pasti datang.

__ADS_1


Dan benar, begitu beliau selesai masak, pak Tio datang.


"Harumnya masakan ibu, ayah jadi lapar," puji pak Tio kemudian duduk di kursi makan.


"Salamnya mana, yah?" kata Bu Hesti mengingatkan.


"Assalamu'alaikum, ibu..."


"Walaikumussalaam.."


Bu Hesti ikut duduk di hadapan suaminya.


"Oh ya, ayah punya sesuatu untuk ibu," pak Tio merogoh sesuatu dalam saku celana kainnya.


"Apa, yah?"


Pak Tio memberikan sebuah kotak kecil, seketika Bu Hesti mengulas senyum lebar. Dalam pikirannya itu pasti cincin.


"Ibu buka saja," kata pak Tio sembari memberikan kotak kecil tersebut.


Bu Hesti menerima kotak tersebut dengan anggukan semangat. Begitu di buka, ternyata realita tidak sesuai ekspektasi.


"Lah, kok test pek?"


Pak Tio mengembangkan senyumnya dengan sangat lebar.


"Yaaaa.. Siapa tahu kan kita di kasih rejeki lagi sama Allah," sahut pak Tio.


"Ayaaaahh..."


Bu Hesti menaruh test pek itu di meja, ia heran dengan suaminya yang ngebet banget punya anak lagi. Padahal usia mereka sudah tidak muda lagi. Tinggal menunggu kehadiran sang cucu.

__ADS_1


"Ayo di coba, Bu..!"


Bersambung..


__ADS_2