
Xander terlihat ketar-ketir melihat wanita simpanannya kini tengah ramai jadi buah bibir para netizen. Pasalnya video yang di unggah oleh akun samaran itu kini di posting ulang oleh banyak akun lainnya, termasuk akun gosip.
Dari suara yang ia dengar dari video tersebut, sudah jelas membuktikan jika itu suara Emely, istrinya sendiri.
"Jadi Emely sudah tahu perselingkuhan aku dengan Ava?" gumamnya seraya memegang erta-erat ponsel di tangannya.
"Ini semua pasti karena Leon," ujar pria itu lagi.
Pantas saja semalam istrinya terus menyinggung perihal perselingkuhan, rupanya Emely sudah tahu semuanya. Bahkan Emely diam-diam menemui Ava dan memberinya sebuah hukuman sampai mengedarkan sebuah video memalukan.
"Dimana Emely sekarang?" tanya pria itu sadar tidak menemukan sosok istrinya sejak bangun tidur.
Xander keluar dari kamar dan menuruni anak tangga dengan langkah cepat, ia mencari ke setiap sudut ruangan sampai menanyakan kepada asisten rumah tangganya. Tapi tidak ada yang tahu keberadaan istrinya dimana sekarang.
Xander bergegas menuju mobilnya, ia harus bertemu dengan Emely sekarang juga. Ia harus meminta pertanggung jawaban istrinya karena sudah membuat Ava di perlakukan kurang ajar. Dan yang utama Xander takutkan, Emely juga akan membongkar identitasnya sebagai pria yang berhubungan dengan Ava. Bisa hancur harga dirinya.
"Emely, kau benar-benar keterlaluan..!"
Xander melajukan mobilnya keluar dari pelataran rumah, ia berjanji akan mencari Emely bahkan sampai ke penjuru dunia jika Emely nekad membuka identitasnya di publik.
***
Di ruang meeting Leon tidak bisa seratus persen fokus pada pekerjaan. Drew berulang kali menyadarkannya dari lamunan. Bahkan klien-nya nyaris membatalkan kontrak kerja sama, lantaran ia di cap sebagai pemimpin perusahaan yang tidak profesional.
Meeting selesai. Leon sementara enggan untuk langsung keluar dari ruangan tersebut. Drew merasa jika tuannya sedang menyimpan masalah yabg begitu besar, hingga mengganggu konsentrasi saat meeting berlangsung.
"Apa ada yang mengganggu pikiranmu, tuan?" tanya Drew dengan sangat hati-hati khawatir tuannya akan tersinggung.
Leon tersadar begitu Drew bertanya padanya. Ia menghembuskan napas sedikit kasar.
"Tidak ada. Kalau begitu aku keluar duluan," jawab dan pamitnya kemudian.
Drew memandangi punggung kepergian tuannya, ia yakin sekali jika tuannya memang sedang di terpa masalah besar. Tapi ia tidak ingin kepo, ia lebih baik diam tanpa bertanya banyak hal.
Leon menjatuhkan dirinya di kursi yang ada di ruangannya. Pikirannya terus tertuju pada mamanya sekarang. Video Ava sudah tersebar luas di media sosial, itu artinya papa juga pasti sudah melihat video tersebut.
"Jika papa sudah melihat video itu, kurang lebih papa pasti akan marah besar pada mama. Aku takut sesuatu buruk terjadi pada mama," ucap Leon cemas.
Ia mengetuk-ngetukan jarinya di meja, sambil berpikir apa yang harus ia lakukan. Sampai akhirnya sebuah notifikasi pesan masuk ke dalam ponselnya. Leon rogoh benda pipih tersebut dan membaca isi pesannya.
Mama:
Leon, sekarang mama ada di rumah tempat peninggalan nenekmu. Jangan sampai ada yang tahu posisi mama sekarang!
Pesan singkat itu membuat Leon menegakan badannya. Ia sedikit lega jika mamanya memang sudah pergi dari rumah. Tapi sepertinya ia tidak bisa tenang begitu saja, papanya pasti akan terus berusaha mencati mamanya sampai ketemu. Ia harus bisa memastikan mamanya selalu aman, paling tidak mencegah papanya agar tidak bisa mencari mamanya.
Leon mendial nomer seseorang di layar ponselnya, ia tempelkan benda pipih tersebut ke dekat daun telinganya.
"Drew, ke ruanganku sekarang, ya!"
__ADS_1
***
Lily merapikan pakaiannya ke dalam koper. Beberapa menit lalu Leon memintanya untuk segera berkemas dan sementara waktu tinggal di rumah orang tuanya saja. Leon khawatir jika papanya akan datang ke rumah, dan menjadikan Lily sebagai pancingan agar ia mau mengatakan keberadaan mamanya.
"Ya Tuhan.. Kenapa semuanya jadi rumit begini, ya?" ujar Lily.
Dari luar kamar, bi Ratih yang juga sudah menenteng tas kain berisi pakaiannya sudah siap untuk pergi. Sebelumnya Leon juga meminta pada Lily agar bi Ratih ikut pergi.
"Nyonya, ini teh sebenarnya ada apa? Ih bibi mah meni sararieun ini teh," tanya dan ungkap bi Ratih yang merasa ketakutan akan terjadi sesuatu buruk.
"Tidak ada apa-apa, bi. Leon bilang dia ada urusan mendadak di luar kota, jadi Leon meminta aku untuk tinggal sementara di rumah orang tua aku, sama bibi juga. Tidak apa-apa, kan?" jawab Lily bohong, lagipula ia tidak memiliki alasan lain, tidak mungkin juga jika harus mengatakan yang sebenarnya.
"Iya, nyonya. Tapi kenapa kita teh enggak tinggal saja di sini? Memangnya rumah ini teh ada jurig-nya sampe harus pergi sementara karena tuan gak ada di rumah," bi Ratih bergidik, membayangkan jika rumah itu benar-benar ada hantunya.
"Bukan begitu, bi. Mmm.." Lily menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia mencari alasan lain agar bi Ratih tidak bertanya-tanya lagi.
"Jadi begini, bi Ratih. Leon kan pergi ke luar kota karena urusan bisnis, ada masalah di kantornya. Leon takut jika pesaing bisnisnya itu akan datang ke rumah ini dan berbuat yang tidak-tidak sama aku dan bisa jadi bi Ratih juga jadi sasaran," jelas Lily.
"Oooohhh.. Begitu ya, nyonya. Okelah kalau begitu, bibi sekarang paham kalau begitu mah. Ayo, nyonya, kita lesgow!"
Bi Ratih membantu Lily membawakan kopernya. Sebuah mobil di pelataran rumah sudah menunggu Lily dan bi Ratih. Itu adalah Drew yang di tugaskan Leon untuk mengantar Lily ke rumah orang tuanya.
"Pak, tolong jaga rumah ini selama penghuninya tidak ada dengan ketat, ya! Jangan biarkan siapapun masuk tanpa izin pemiliknya!" pesan Drew pada security baru rumah tersebut.
"Siap," jawab security itu dengan tegas.
"Dan satu hal lagi, segera hubungi tuan Leon jika ada orang yang memaksa ingin masuk ke rumah ini. Atau siapapun yang mencurigakan!"
"Bagus."
Drew kembali ke dalam mobilnya, ia keluar dari pelataran rumah tersebut menuju rumah orang tua nyonya-nya.
Sampai di rumah pak Tio, Lily di sambut kecemasan oleh kedua orang tuanya. Apalagi Lily pulang sampai bawa-bawa koper.
"Lily.. Ada apa ini, nak?" tanya bu Hesti dengan khawatir.
"Ly, dimana Leon? Kenapa asistennya yang mengantar kamu? Apa dia sudah menyakitimu, nak?" tanya pak Tio tak kalah khawatirnya.
"Yeehh.. Jangan souezon atuh, pak!" jawab bi Ratih menampik pertanyaan pak Tio.
Pak Tio dan bu Hesti menatap ke arah wanita pendek gemuk seusianya dengan beribu pertanyaan. Kecemasannya kian bertambah.
"Kita bicarakan di dalam saya, ya, ayah, ibu," sahut Lily, mereka pun mengangguk setuju.
"Kalau begitu saya permisi, nyonya, pak, bu, bi," pamit Drew pada semuanya.
"Iya, aspri Drew. Terima kasih sudah mengatar kami," ucap Lily.
"Sama-sama. Saya permisi!"
__ADS_1
Sementara Drew kembali ke mobilnya, Lily dan bi Ratih ikut masuk ke dalam rumah. Bi Ratih mengedarkan matanya ke setiap sudut ruangan. Ia merasa sedikit aneh melihat rumah tersebut, sangat sederhana. Padahal nyonya-nya tinggal di rumah yang terbilang sangat mewah.
Di dalam, semuanya duduk di kursi ruang tamu dengan mimik wajah serius. Pak Tio tak habis pikir, apa yang membuat Lily pulang sampai bawa-bawa koper, bahkan sampai ikut membawa asisten rumah tangga.
"Ly, sekarang katakan pada ayah, apa yang sebenarnya terjadi?!"
Lily melirik ke arah bi Ratih, tidak mungkin ia mengatakan hal sebenarnya di depan wanita paruh baya itu. Lirikan Lily membuat bu Hesti sedikit paham, jika Lily tidak bisa mengatakan sesuatu yang sedang terjadi di hadapan asisten rumah tangganya.
"Bi, bisa tolong belikan garam di warung sebelah gak? Kebetulan garam di dapur tinggal sedikit," pinta bu Hesti.
"Bisa atuh, bu," jawab bi Ratih.
Bu Hesti merogoh selembar uang pecahan sepuluh ribu di kantong baju dasternya. Lalu memberikan yang tersebut pada bi Ratih.
"Maaf, ya, bi. Saya nyuruh-nyuruh," ucap bu Hesti segan.
"Tidak apa-apa atuh, bu. Saya kan asisten rumah tangganya nyonya Lily di rumah tuan Leon, sekarang saya ke sini, otomatis saya jadi asisten rumah tangga juga di rumah ini," jawab bi Ratih.
"Iya, bi. Terima kasih sebelumnya."
"Sama-sama atuh. Kalau begitu saya ke warung dulu, ya," pamit bi Ratih di angguki oleh bu Hesti.
Kini ruang tamu rumah pak Tio terasa menegangkan. Semua sudah kembali memasang wajah yang serius. Tanpa mengulang pertanyaan yang sama, pak Tio menunggu putrinya mengatakan yang sebenarnya.
"Ceritanya panjang, ayah, ibu," ujar Lily merasa tidak tahu harus cerita dari mana.
"Perpendek saja, nak!" sahut pak Tio.
"Iya, ayah. Jadi intinya begini, papanya Leon selingkuh."
"Astagfirullahal'adziim.." ucap bu Hesti dan pak Tio secara bersamaan.
"Manusia tidak punya attitude itu?" tanya pak Tio.
Lily mengangguk. "Iya, ayah Leon memergoki papanya selingkuh, terus Leon kasih tahu mamanya, mamanya marah. Mamanya Leon kasih hukuman selingkuhan suaminya dan mengunggah video selingkuhan suaminya itu ke sosial media. Papanya Leon tidak terima, dan sekarang papanya Leon lagi cari-cari mamanya Leon yang sedang sembunyi. Leon minta aku dan bi Ratih untuk pergi dari rumah sementara untuk menghindari kemarahan papanya Leon kalau sewaktu-waktu papanya Leon datang ke rumah," jelas Lily.
Pak Tio dan bu Hesti mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. Ternyata permasalahannya cukup rumit.
"Apa yang Leon perintahkan itu benar. Leon pasti sudah memperkirakan kalau papanya akan datang ke rumah," ujar pak Tio.
"Iya, nak. Tapi, bagaimana kalau pak Xander sampai datang ke rumah ini?" tanya bu Hesti mencemaskan.
"Ayah akan pasang badan untuk keluarga kita. Ayah akan stay di rumah selama masalah itu belum tuntas."
Bersambung...
...Buat yang minta KONFLIK biar lebih greget karena cerita ini konfliknya ringan, nih aku kabulin. Jangan lupa DUKUNGAN kalian, karena itu sangat berarti. ...
...LIKE, KOMEN, VOTE, dan kumpulin POIN sebanyak-banyaknya untuk kasih aku HADIAH. ...
__ADS_1
...Tekan LOVE nya juga biar masuk ke rak favorit, agar kalian dapat notifikasi ketika bab selanjutnya publish. ...
...Yang punya akun INSTAGRAM, follow ya @wind.rahma...