MENGANDUNG ANAK CASSANOVA

MENGANDUNG ANAK CASSANOVA
LILY YANG TERBIJAK


__ADS_3

Sudah tiga hari berlalu, tetapi surat yang Emely kirimkan belum kunjung mendapat kabar. Leon belum juga datang menjenguk ke lapas.


"Apa Leon belum menerima surat dariku, ya? Atau dia belum membaca suratnya? Atau bisa jadi juga dia sudah membaca tapi tidak perduli?" pikir Emely.


Emely jalan bolak-balik. Sebelumnya ia tidak mau makan jatah napi yang di sediakan. Tetapi ia tidak bisa menahan lapar selama berhari-hari, terpaksa ia makan juga.


"Mudah-mudahan Leon secepatnya datang menjengukku," harapnya.


Sementara di rumah Leon. Bu Ratih menemukan amplop putih panjang pada saat membersihkan rumah. Di baca dari amplopnya tertulis dari pihak polisi, bi Ratih segera memberi suratnya pada majikannya.


"Nyonya... Nyonya..." panggil bi Ratih sambil berlari kecil ke dapur, sebab Lily sedang membuat minuman dingin di sana.


"Iya, ada apa, bi?" tanya Lily mendengar asisten rumah tangganya teriak-teriak sambil lari.


"Bibi teh nemuin ini di dekat guci, nyonya," bi Ratih memberikan amplop putih panjang tersebut pada Lily.


Begitu Lily baca dari amplopnya, tertera dari pihak kepolisian. Lily buka amplop tersebut, terdapat secarik kertas di sana.


Lily baca isi surat tersebut sambil duduk di kursi makan.


From Mama:


Leon..


Mama harap kau datang jenguk mama ke lapas. Kau tahu? Mama di sini menahan lapar. Mama tidak suka makanan di sini. Mama minta maaf jika ucapan mama kemarin-kemarin membuatmu terluka. Tapi mama sadar, membencimu itu suatu kerugian besar. Mama tidak punya siapapun selagi kau, Leon.


Leon..


Sekali lagi mama berharap sekali kau datang jenguk mama. Mama tahu kau sayang mama, bukan? Jika kau sayang pada mama, tolong buktikan dengan datang jenguk mama.


Dan jangan lupa, bawakan mama makanan masakan perempuan itu.


...


Lily tersenyum membaca kalimat terakhir isi surat tersebut. Ternyata mama Leon menyukai masakannya. Hanya saja, wanita paruh baya itu terlalu gengi untuk mengakui.


"Aku akan berikan surat ini nanti setelah Leon pulang bekerja," ujar wanita itu.


Lily membawa surat beserta amplopnya ke kamar. Tidak lupa ia juga bawa minuman dingin yang baru saja ia buat dan belum sempat di minum.


***


Di sebuah restoran yang tidak jauh dari perusahaan tempat Drew bekerja. Pria itu sedang makan siang bersama Chika.


"Terima kasih sudah mau makan siang denganku," ucap Chika merasa senang.


"Iya," jawab Drew dengan senyum singkat.


"Oh ya, pekerjaanmu hari ini banyak?" tanya Chika berusaha membuka topik pembicaraan.


"Lumayan."


Chika mengangguk-anggukan kepalanya. Pantas saja kakak sepupunya menyebut Drew dengan sebuat Kanebo kering, ternyata Drew memang kaku banget orangnya. Tapi tidak apa, batu saja jika tetesi air bisa bolong, apalagi cuma kanebo.


"Mmm.. Kau tidak berniat untuk mengajukan pertanyaan padaku? Semisal, kau setelah ini mau kemana? Kau tinggal dimana? Tidak adakah pertanyaan seperti itu dalam pikiranmu?"


Drew menelan salivanya dengan susah payah. Bukannya tidak ada, hanya saja ia terlalu sulit untuk sekedar mengucapkan kalimat pertanyaan-pertanyaan seperti itu.


"Hm, ya. Aku dengar, kau tinggal di Prancis. Jadi kapan mau kembali ke Prancis?"


Chika membuka mulutnya terheran mendengar pertanyaan tersebut.


"Jadi kau mengharapkan aku kembali ke Prancis?"


"Bu-bukan seperti itu. M-maksudku, apa kau akan lama tinggal di Indonesia?"


"Kalau itu, sepertinya aku akan menetap saja di sini. Aku tidak akan kembali ke Prancis."


"Baguslah jika begitu," ujar Drew keceplosan.


"Bagus?"

__ADS_1


"Em, bukan itu maksudku. Tapi-"


"Jangan ubah jawabanmu. Aku suka jawabanmu barusan," pangkas Chika.


Drew terlihat gugup dan salah tingkah. Dalam hati ia merutuk, kenapa bisa-bisanya memberi jawaban jujur seberani itu.


"Aku boleh tanya sesuatu?" pinta Chika.


"Hm, ya. Apa?"


"Aku boleh tidak bertemu dengan ibumu? Aku rasa aku harus berkenalan dan lebih dekat dengan ibumu," jawab Chika.


Rasanya mulut Drew sulit sekali untuk di gerakan, tidak ada alasan juga untuk ia menolak. Justru ia senang, tetapi ia tidak pandai mengekspresikan rasa senangnya.


"Kalau boleh nanti malam bisa?"


"Ah, ya. Boleh. Bisa," jawab Drew tanpa sadar.


"Ok, terima kasih," ucap Chika senang.


Drew menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, bisa-bisanya ia memberi jawaban demikian.


Cihka menopang dagunya menggunakan kedua telapak tangan di atas meja. Matanya terus menatap Drew yang lucu lantaran pria itu tidak bisa diam dan jelas sekali terlihat salah tingkah.


***


"Assalamu'alaikum.." ucapan salam seseorang membuat Lily menghentikan membaca majalahnya.


Lily bangkit dari duduknya dan menghampiri Leon yang baru saja pulang kerja.


"Walaikumussalaam.." jawabnya sembari mencium punggung tangan pria itu.


"Masak spesial lagi kah?" tanya Leon, tercium aroma masakan yang sangat lezat berasal dari dapur.


"Spesial dari bi Ratih," jawab Lily.


Leon menyentuh ujung batang hidung Lily yang runcing mendengar jawaban istrinya.


Lily mengajak suaminya untuk duduk dulu sebentar di sofa ruang tamu. Leon jadi penasaran ada apa dengan istrinya.


Lily pun menggeleng. "Iiihh... Bukan."


"Lalu apa?"


Lily mengambil secarik kertas yang ia selipkan di dalam majalah. Lalu memberikannya pada Leon.


"Apa ini? Surat cinta?"


"Baca saja."


Melihat ekspresi wajah istrinya serius, Leon pun tak melanjutkan bercandanya. Ia langsung membuka lipatan kertas tersebut dan memperlihatkan sebuah tulisan tangan.


Tidak sampai satu menit Leon selesai membaca surat tersebut.


"Ini serius dari mamaku?" tanya Leon memastikan.


"Bi Ratih menemukan amplop di dekat guci, dan begitu aku buka isinya surat dari mama Emely."


Leon terdiam sejenak.


"Amplop dekat guci?"


"Iya."


Leon jadi ingat, amplop yang Lily maksud merupakan amplop yang sebelumnya security rumahnya berikan.


"Oh iya aku yang naruh. Beberapa hari lalu security kasih aku amplop, aku terima telepon dari Drew dan aku taruh di dekat guci. Setelah itu aku lupa karena sibuk bercinta," terang Leon.


"Bercinta dengan siapa?"


"Dengan istriku, lah. Memangnya siapa lagi?"

__ADS_1


Kedua pipi Lily merona tersipu. Jika membahas tentang bercinta, entah kenapa rasanya ia masih malu-malu.


"Besok kita jenguk mama Emely, ya. Mama Emely kan minta di bawakan makanan masakan menantunya," ajak Lily.


"Biar aku saja yang kesana. Kau tetap di rumah saja," jawab Leon.


"Aku mau ikut. Lagipula selain merindukanmu, mama Emely juga merindukan masakan aku. Jadi, aku tetap mau ikut," kata Lily kukuh.


Leon menghembuskan napas sedikit kasar.


"Aku takut mama melukai perasaanmu dengan kata-katanya lagi, sayang. Aku tidak melarangmu, aku hanya berusaha melindungi," ucap Leon.


Lily meraih buah tangan Leon, lalu ia genggam tangan itu.


"Aku tahu mamamu begitu membenciku, Leon. Tapi apa kau lupa, ini hanya perihal waktu. Mama Emely sudah masakan aku, dan itu tidak menutup kemungkinan jika mama Emely akan menyukai aku juga."


"Tapi, sayang-"


"Kau tidak usah khawatir. Lagipula aku tidak pernah merasa sakit hati oleh ucapan mama Emely. Bagaimanapun beliau ini mamamu, ibu mertuaku. Aku yakin, mama Emely pasti menerima aku sebagai menantunya meski perlahan. Sebab semuanya butuh proses, asal kita mau berusaha," tutur Lily bijak.


Leon selalu di buat kagum oleh ucapan istrinya. Lily selalu bisa membuat hatinya sejuk, tenang dan damai. Semoga, mamanya pun bisa merasakan demikian.


"Iya, sayang."


Leon memeluk Lily dan membawanya ke dalam dekapan. Ia mencium puncak kepala istrinya dalam dan lumayan lama.


"Ini yang membuat aku semakin jatuh cinta padamu, Lily Gradelie bin Tio," ucap Leon di sambut senyuman yang mengembang di bibir wanita itu.


***


Keesokan harinya.


Pagi-pagi sekali Lily bangun memasak untuk ia bawa ke lapas menjenguk mama mertua. Lily juga berniat tidak hanya membawakan makanan untuk mama mertuanya saja, tetapi untuk papa mertuanya juga.


"Kok ada dua?" tanya Leon begitu melihat ada dua tas berisi kotak makanan berukuran besar.


"Untuk mama Emely dan papa Xander," jawab wanita itu.


Leon mengernyit. "Untuk papa juga?"


"Iya."


Leon menatap wajah istrinya yang tampak semangat sekali. Ia jadi berpikir apa Lily sama sekali tidak membenci kedua orang tuanya? Setelah apa yang sudah mereka lakukan padanya.


"Rasanya tidak adil jika kita hanya berbuat baik pada mama Emely saja. Papa Xander pun berhak mendapat kesempatan."


"Kau tidak benci juga pada papaku?"


Lily menggelengkan kepalanya. "Untuk apa aku benci?"


"Papaku bahkan berniat menculikmu."


Lily tersenyum mendengar jawaban Leon.


"Semua orang pernah melakukan kesalahan. Dan semua orang berhak mendapat kesempatan untuk memperbaiki dirinya. Aku yakin, sejahat apapun papa Xander, pasti akan ada masanya beliau berubah dan sadar," tutur Lily bijaksana.


"Aku tidak tahu hatimu terbuat dari apa. Kau begitu baik pada semua orang, termasuk pada orang yang sudah menyakitimu sekalipun."


"Kita memang di ajarkan untuk selalu berbuat baik pada siapapun. Bahkan orang yang tidak kenal sekalipun. Kau saja mau menolongku pada saat aku nyaris di terkam juragan Mongol, padahal waktu itu kau tidak mengenalku, bukan?"


Leon tersenyum. "Meski pada akhirnya sesuatu yang salah berakhir menjadi takdir baik. Iya, kan?" tambah Leon.


"Itulah takdir. Akan sangat indah jika kita sebagai manusia mampu menerima apapun yang terjadi sekalipun buruk. Rencana Tuhan memanglah indah."


"Aku benar-benar bersyukur sekali di beri istri sepertimu. Padahal aku ini bukan orang baik, tapi bisa-bisanya Tuhan memberiku orang yang saaaangat baik."


"Orang baik tidak selamanya untuk orang baik. Orang jahat tidak selamanya bersama dengan yang jahat pula. Tidak jarang pula di luaran sana, seorang yang ilmu agamanya tinggi mendapat seseorang yang begitu hina di mata manusia. Tetapi tidak di mata Tuhan. Begitupun sebaliknya."


"Iya, sayang.."


Leon dan Lily pun memutuskan untuk langsung pergi ke lapas. Mereka terlebih dahulu akan pergi ke lapas tempat mama Emely di tahan, setelah itu baru ke lapas tempat papa Xander.

__ADS_1


Bersambung...


...Jangan lupa untuk tekan SUKA, FAVORIT, HADIAH, dan VOTE ya teman-teman. ...


__ADS_2