
Di tengah-tengah makan siang, Lily pamit untuk izin ke toilet sebentar.
"Perlu aku temani?" tawar Leon.
"Tidak usah," tolak Lily kemudian beranjak dari sana.
Lily pun masuk ke toilet khusus untuk wanita, hanya membutuhkan waktu sekitar lima menit saja dia sudah keluar lagi dari toilet tersebut.
"Hei.." sapa seseorang dari belakang, Lily pun menoleh.
"Hiko..?" Lily menoleh ke arah sekitar, takutnya Leon melihat mereka bertemu.
"Kenapa chat-ku gak kamu bales? Sibuk, ya?" tanya pria itu seraya menyindir.
"Mmm.." Lily menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sembari mencari alasan.
"Apa karena suami kamu itu?" tanya pria itu kemudian.
"Hah, maksudnya?"
"Yaaa, aku lihat kayaknya suami kamu itu posesif banget gitu sama kamu. Buktinya, tadi waktu dia lihat aku di parkiran langsung buru-buru bawa kamu. Kayaknya takut banget kamu aku rebut."
Lily menanggapi perkataan pria itu dengan senyum masam.
"Oh, ya, kira-kira ada gak orang yang minat kerja sama aku?" tanya Hiko mengalihkan pembicaraan tentang suami Lily.
"Ada, sih. Teman kerjaku dulu yang di minimarket, namanya Ridwan. Katanya lagi butuh pekerjaan karena mau resign," jawab Lily memberi tahu.
"Kamu punya kontaknya? Biar aku langsung aja yang hubungi dia." Hiko mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
"Iya, punya. Tapi handphone aku di meja."
"Oh.. Nanti jangan lupa kirim kontaknya ke ku, ya!"
"Iya, kalau begitu aku balik ke meja lagi, ya. Takutnya Leon cariin aku," pamit Lily.
"Iya, Ly. See you."
Lily membalasnya dengan senyum kecil sebelum akhirnya pergi dari sana.
Hiko memandang kepergian teman lamanya itu sampai benar-benar hilang dari jangkauan mata. Seketika sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyum.
__ADS_1
"Lily makin cantik aja. Sayangnya dia sudah menikah," gumamnya.
Lily dengan cepat kembali ke meja.
"Lama banget. Sakit perut?" tanya pria itu begitu istrinya kembali.
Lily menggeleng. "Tidak."
"Ya sudah, habiskan makanannya..!"
"Iya."
Lily kembali menghabiskan makanan yang belum sempat ia habiskan. Beruntungnya Leon tidak bertanya banyak hal, sehingga ia tidak perlu berbohong dan hanya perlu diam saja.
***
Malamnya, sekitar pukul tujuh. Saat ini Lily sedang berada di kamar mandi, Leon menyiapkan baju tidur yang ia belikan tadi siang agar Lily pakai malam ini. Ia sudah tidak sabar ingin melihat betapa seksinya istrinya itu.
Sambil nunggu Lily selesai mandi, ia merebahkan badannya sebentar di atas sofa. Baru saja akan merebahkan badannya, suara notifikasi pesan masuk dari ponsel Lily membuatnya mengurungkan niat.
"Pesan dari siapa, ya?" gumamnya penasaran.
Leon melirik ke arah pintu kamar mandi, sepertinya belum ada tanda-tanda wanita itu akan keluar dari sana. Daripada mati penasaran, akhirnya Leon ambil ponsel milik Lily yang tergeletak di atas meja.
Makasih nomernya, nanti aku coba hubungi orangnya.
Btw, kamu lagi apa?
Leon menggenggam erat-erat ponsel Lily. Entah kenapa ia merasa kesal saat ada laki-laki yang coba-coba mengambil perhatian dari istrinya. Meskipun Leon masih bingung dengan perasaanya, tapi ia tetap tidak rela jika Lily harus berhubungan dengan laki-laki selain dirinya.
Sebelum Lily keluar dari kamar mandi, dengan cepat Leon menghapus pesan tersebut. Ia tidak ingin Lily sampai membaca apalagi sampai memberi pesan balasan.
Leon menaruh ponsel tersebut ke tempat semula kemudian membaringkan tubuhnya begitu suara pintu kamar mandi terdengar akan di buka.
"Aku sudah siapkan air hangat untukmu mandi, Leon. Cepat mandi, nanti airnya keburu dingin," ucap Lily memberi tahu.
"Iya, terima kasih. Oh ya, kau pakai baju yang itu, ya!" tunjuk Leon ke arah tempat tidur.
"Baju siapa?"
"Baju tetangga," cetus pria itu sembari melipir ke kamar mandi.
__ADS_1
Lily mengerutkan keningnya lalu mengambil baju yang di maksud di oleh Leon.
"Masa aku harus pake baju begini, sih? Enggak, ah. Malu," ujarnya.
Lily pergi ke arah lemari. Begitu ia buka pintunya, ternyata di kunci.
"Loh, kok di kunci, sih?" pikirnya.
Lily mencari-cari kunci lemari tersebut, tetapi ia tidak menemukannya. Ini pasti ulah Leon, pria itu sengaja mengunci lemari pakainnya agar tidak bisa menolak permintaan untuk memakai baju pilihannya tadi.
Mau tidak mau, Lily pun harus memakai piyama sebatas paha dengan tali kecil di masing-masing bahu tersebut. Bahannya yang tipis akan membuat tubuhnya terlihat transparan.
Sebelum memakai pakaian tersebut di tubuhnya, tentunya Lily harus memakai pakaian dallam terlebih dahulu. Tetapi ia di buat tercengang begitu Leon tidak sekalian menyiapkan pakaian dallam di sana.
"Leooon.. Kunci lemarinya di taruh di mana...?? Aku mau ambil pakaian dallam aku..!!" teriak Lily.
"Cukup pakai itu saja, sayang... Tidak usah pakai pakaian dallam, biar gampang," sahut pria itu dari dalam kamar mandi.
"Iiiihh.. Apaan, sih..!!!"
***
Sudah hampir seperempat jam Hiko menunggu balasan pesan dari Lily dengan tidak sabar. Sedari tadi ia pantengin matanya ke layar hp, centang pesan sudah berubah warna menjadi biru, tapi Lily tidak kunjung membalasnya.
"Lily kenapa gak bales chat dari aku, ya?" pikirnya.
"Apa dia lagi makan malam sehingga tidak sempat balas chatnya," ujarnya lagi menerka-nerka.
Akhirnya Hiko putuskan untuk menunggunya lagi saja. Siapa tahu Lily akan membalas pesannya sesegera mungkin. Kini Hiko putuskan untuk taruh ponselnya ke atas meja, ia lipat kedua tangannya dan di jadikan sebagai bantalan tidur di sandaran sofa.
Hiko membayangkan masa-masa kebersamaan dengan Lily tiga tahun lalu. Dulu mereka sangat dekat, dan sempat kerja satu pabrik. Setiap hari mereka pulang dan pergi bersama menggunakan sepeda motor. Dan yang paling menyenangkan, Hiko selalu menjahili perempuan itu dengan sesekali mengerem mendadak agar Lily mau berpegangan padanya.
Tapi sayangnya, kebersamaan itu tidak berlangsung lama. Hiko harus pergi ke luar kota untuk melanjutkan bisnis ayahnya yang sedang maju-majunya karena meninggal. Saat itu juga Lily tidak lama pindah kerja ke minimarket yang jaraknya tidak jauh dari rumah.
Karena kesibukannya dalam mengurus bisnis kuliner, Hiko tidak pernah ada lagi kontak dengan Lily. Dan begitu ia kembali dan mendapat kabar jika Lily resign dari pekerjaannya, ia berniat mengajak Lily untuk jadi partner bisnis. Tapi sayangnya, ia mendapatkan fakta lain. Yaitu Lily menikah dengan laki-laki lain.
Dan yang kini mulai menggelitik rasa penasaran Hiko, saat itu bu Hesti mengatakan jika Lily pindah untuk pekerjaan barunya. Tetapi justru faktanya Lily menikah.
"Ada apa ini sebenarnya? Apa ada sesuatu yang tidak aku ketahui tentang Lily?"
Hiko berjanji akan mencari tahu sesuatu yang menurutnya terasa janggal. Ia yakin, pasti ada sesuatu di balik pernikahan Lily dengan pria posesif itu.
__ADS_1
Bersambung...