MENGANDUNG ANAK CASSANOVA

MENGANDUNG ANAK CASSANOVA
Di Seret Paksa


__ADS_3

"Pergi dari sini atau saya akan buat anda mati di tempat!" ancam pak Tio pada besannya.


Rupanya Xander tengah menciptakan kekacauan di rumah pak Tio. Tentu saja pria itu marah saat besan biadab nya akan membawa putri semata wayangnya.


Xander tersenyum menyeringai. "Butuh uang berapa banyak? Katakan saja! Aku akan memberimu uang asalkan kau mau menyerahkan putrimu untukku!" pinta Xander.


Pak Tio tentunya tersinggung oleh penawaran Xander. Bisa-bisanya besan laknat itu berkata demikian. Itu sama saja dengan menginjak harga dirinya.


"Anda tahu, saya pernah memenangkan lomba tekwondo se-Kabupaten. Jadi jangan pernah paksa saya untuk menguji kemampuan tewondo saya!" cetus pak Tio.


Ungkapan pak Tio tentu saja mengundang gelak tawa Xander bersama kedua anak buahnya. Mendengar hal itu pak Tio merasa di remehkan.


"Jangan banyak bicara! Ucok, otong, tarik paksa perempuan itu!" pinta Xander pada kedua anak buahnya.


Bu Hesti memeluk erat putrinya tidak jauh di belakang tubuh pak Tio. Ada bi Ratih juga yang tampak ketakutan di sana.


"Tunggu!" seru bi Ratih menghentikan langkah kedua anak buah Xander.


"Kalian teh orang Sunda juga, ya? Kok bisa-bisanya nama kalian teh Ucok sama Otong?"


Pertanyaan bi Ratih membuat kedua anak buah Xander saling memandang satu sama lain. Merasa mereka bukan orang Sunda, mereka mengedikan bahu masing-masing.


"Kenapa berhenti?" seru Xander meenyadarkan Ucok dan Otong, jika mereka tengah berada dalam kondisi serius, bukan sedang bercanda. "Cepat tarik perempuan itu!"


"Baik, bos!" jawab mereka serempak.


Baru satu langkah mereka maju, pak Tio sudah memberi mereka sebuah tendangan si madun di dada. Ucok dan Otong pun terhempas ke belakang.


"Widih, hebat juga atuh si bapaknya nyonya teh," puji bi Ratih yang menyaksikan hal tersebut.


Xander tentunya tidak terima pak Tio bisa mengalahkan kedua anak buahnya dengan satu tendangan saja.


"BANGUN..!" seru Xander marah.


"Maaf, bos. Kita belum sarapan tadi," ucap si Ucok dengan susah payah bangun berdiri.


"Mau atuh pisang goreng sisa saya tadi pagi?" tawar bi Ratih hendak mengambilkan piring yang masih tergeletak di atas meja.


"Bi," kata pak Tio memperingatkan.


"I-iya, pak. Maaf," ucap bi Ratih, ia hanya berusaha membuat situasi tidak terlalu tegang seperti menonton film action luar negeri.


"Hiyaaaa.." Ucak dan Otong melayangkan sebuah pukulan pada Tio, dengan mudahnya pak Tio menepis pukulan tersebut dan memberi mereka pukulan balik berupa tonjokan di bagian perut.

__ADS_1


Ucok sampai menyemburkan cairan dari dalam mulutnya, dan sialnya itu menyemburkan ke wajah Xander.


"SIAAALL..!!!" umpat Xander sembari menyeka wajahnya menggunakan jas hitam yang ia pakai.


"Maaf, bos. Saya tidak sengaja!" ucap si Ucok.


Kejadian tersebut mengundang banyak warga yang menonton. Bukannya melerai, mereka malah merasa terhibur dan menjadikan hal tersebut tontonan gratis.


"Ada apa ini?" tanya seseorang yang baru saja datang.


Seorang pria tua yang habis di makan usia itu datang untuk mengamankan kekacauan. Sebab jabatan beliau di sana sebagai ketua RT.


"Pak Tio, ada apa ini?" ulang pak rete.


"Begini, pak Rete. Mereka datang dengan niat untuk membawa paksa Lily, tentu saja saya tidak bisa tinggal diam," jelas pak Tio.


Pak Rete memandang penampilan Xander dari ujung kepala sampai ujung rambut.


"Mereka Debtkolektor?" tanya pak Rete.


Pak Tio hampir saja melongo oleh pertanyaan pak Rete, bisa-bisanya pak Rete menyimpulkan mereka sebagai Debtkolektor. Memang pantas juga, sih.


"Bukan, pak Rete. Mereka hendak menyulik putri saya-Lily," jelas pak Tio lagi.


"Kau jangan macam-macam, ya!" seru Xander.


"Hei.. Anda yang bermacam-macam. Bisa-bisanya anda merusak ketenangan warga saya!" balas pak Rete.


"Jika kau berani melaporkanku ke polisi, maka aku akan menuntutmu balik!" ancam Xander.


"Mana ada aturan seperti itu! RT RT begini, saya ini termasuk pejabat, paham?! Saya tahu aturan-aturan pemerintah, saya tahu pasal-pasal dan UU yang berlaku. Jangan hanya karena anda ber-uang, anda bisa membuat yang benar menjadi salah, dan yang salah menjadi benar. Mengerti?" tutur pak Rete.


"HIDUP PAK RETE..!!" teriak warga yang saat ini menonton kejadian tersebut.


"HIDUP..!" sahut pak Rete. "AYO SERET PENCULIK INI KE POLISI..!!"


"AYOOO.."


Warga pun berbondong-bondong mendekat ke arah rumah pak Tio. Xander yang melihat hal tersebut merasa ketar-ketir.


"Sial.." umpatnya.


Xander hendak melarikan diri ke mobil bersama kedua anak buahnya, tetapi warga dengan cepat meraih tangan dan kini menyeretnya.

__ADS_1


"Lepaskan..! LEPAAASSS...!" seru Xander, tetapi mereka makin memperkuat agar ia tidak bisa kabur begitu saja.


"Yeee.. Hidup pak Rete..!!" seru bi Ratih girang.


"Terima kasih," ucap pak Rete.


Kini Lily pun bisa bernapas lega, lantaran mertua laknat nya sudah di bawa oleh masa. Pak tio dan bu Hesti mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan pak Rete.


"Sama-sama, pak Tio, bu Hesti. Itu sudah menjadi tugas saya," balas pak Rete.


"Kalau begitu mampir dulu, pak Rete," tawar bu Hesti.


"Terima kasih, bu Hesti. Tidak perlu repot-repot, apalagi kalau sampai mau bikinin kopi segala. Tapi kalau maksa, saya gak enak kalau mau nolak. Gak baik nolak rezeki," ujar pak Rete di sambut tawa oleh pak Tio dan bu Hesti, juga bi Ratih.


"Iihh.. Pak Rete mah, bisa aja," timpal bi Ratih.


"Hehehe.."


Dari kejauhan, mobil Leon terlihat dan kini masuk ke pelataran rumahnya. Lily merasa lebih lega saat Leon akhirnya datang.


Leon turun dari mobilnya dengan tergesa, ia sangat cemas begitu Lily memberinya kabar jika papanya datang ke rumah pak Tio.


"Kau tidak apa-apa, kan? Papaku tidak melukaimu kan?" tanya Leon cemas sembari meraba seluruh bagian tubuh istrinya untuk memastikan jika Lily baik-baik saja.


"Sekarang papaku mana?" tanya pria itu lagi, lantaran tidak menemukan sosok Xander di sana. Yang ada hanyalah mobilny saja.


"Papa kamu sudah di seret masa, Leon," kata pak Tio memberi tahu.


"Iya, Leon. Warga berbondong-bondong membawa papamu untuk di bawa ke kantor polisi," tambah Lily.


"Kantor polisi?"


Lily menganggukan kepalanya.


"Tunggu, tunggu!" kata pak Rete. "Jadi si mas ganteng ini siapa, ya?"


Lily, pak Tio, bu Hesti, serta Leon masih bingung harus menjawab apa pada pak Rete mengenai statusnya.


"Yeh pak Rete ini gimana, sih? Masa atuh gak tahu tuan ini siapa. Ini teh tuan Leon, suaminya nyonya Lily," cetus bi Ratih mendapat tatapan tajam dari mereka semua.


"SUAMI..??"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2