
"Untukmu!" Leon memberikan sebotol minuman teh pada Lily ketika mereka sudah berada di dalam mobil.
"Terima kasih," ucap Lily seraya menerima minuman tersebut dari tangan Leon.
Keduanya sama-sama meneguk minuman masing-masing. Sementara Lily meminumnya sedikit, Leon menenggak minuman soda tersebut sampai habis.
"Kau haus rupanya," ujar Lily.
"Kalau lapar aku makan," jawab Leon menciptakan senyum kecil di bibir Lily.
"Katamu proses pengunduran diri satu minggu, kenapa sekarang sudah selesai?"
"Aku tidak tahu. Tapi baguslah kalau secepat ini."
"Iya, benar juga. Jadi kau bisa fokus pada persiapan pernikahan kita."
"Iya," jawab Lily setuju. "Oh ya, kenapa kau kemari? Menjemputmku?"
Leon menyunggingkan bibirnya. "Pede sekali," cibir Leon.
Lily mengerucutkan bibirnya. "Lantas untuk apa kau kemari jika bukan menjemputku? Ngaku saja!"
"Aku hanya beli minum. Kebetulan saja ada kau di sini."
Lily memutar bola matanya. "Halah, bohong! Tuuukang bohong.. Tuuukang bohong..!"
Leon tersenyum melihat tingkah Lily yang mengolok-oloki dirinya. Sampai akhirnya ia tidak tahan berlama-lama berdua dengan Lily di dalam mobil.
Cup..
Sebuh ciuman singkat Leon daratkan di bibir ranum Lily, membuat wanita itu berhenti mengolok-oloki Leon. Tubuh Lily menegang, ia menatap Leon dengan mata yang terbuka lebar.
"Bawel.. Itu hukuman untukmu!" ujar Leon membuat Lily kini menghujani pinggangnya dengan cubitan kecil.
"Aaawww.. Berhenti..! Iya, aku minta maaf, aku minta maaf. Aaaww.."
Leon terus saja berteriak minta ampun agar Lily berhenti mencubit pinggangnya.
***
Di tempat bu Hesti tinggal, tukang sayur tidak hanya keliling pagi, sore pun ada. Wanita paruh baya itu menghampiri tukang sayur yang memakai mobil pikap sedang berhenti tidak jauh dari rumahnya, ada beberapa ibu-ibu juga tengah berkumpul memilih sayuran yang akan ia beli.
"Dengar-dengar, anak perawan di kampung kita mau di perkuosa sama juragan Mongol," ujar salah satu ibu dari ketiga ibu yang tengah berjajar memilih sayur.
Kalimat tersebut di dengar oleh bu Hesti, ia memalingkan wajah dan berusaha bersikap biasa saja agar tidak ada yang curiga padanya.
__ADS_1
"Ah, yang benar saja?" tanya ibu yang satunya.
"Saya dengar begitu, sih. Tapi tidak tahu juga anak perawan siapa yang mau di perkuosa juragan Mongol."
"Menurut rumor yang beredar, beberapa hari lalu juragan Mongol di hajar pak Tio. Apa mungkin si Lily yang mau di perkuosa juragan Mongol, ya?" kata si bu yang ketiga.
Deeeggg..!
Jantung bu Hesti serasa berhenti berdegup, kenapa berita ini bisa sampai ke mulut ibu-ibu biang gosip.
Bu Hesti mempercepat memilih sayurannya, kemudian ia segera membayar total saturan yang beliau beli.
"Eh, lihat deh. Bu Hesti kok buru-buru banget, apa jangan-jangan dia merasa dengan apa yang kita bicarakan, ya?" bisik ibu-ibu.
"Bisa jadi. Mungkin ini bukan sekedar rumor, tapi fakta. Iiihh.. Ngeri deh kalau si Lily berhasil juragan Mongol tiduri. Gak kebayang!" seru si ibu-ibu, ketiganya bergidik membayangkan jika hal tersebut benar terjadi.
Bu Hesti berjalan ke rumahnya dengan langkah menunduk. Jujur ia sangat sedih dengan apa yang baru ia dengar dari ketiga ibu-ibu tadi. Pak Tio yang melihat wajah istrinya tidak biasa segera menanyakan apa yang terjadi.
"Mereka membicarakan tentang Lily yang hendak di lecehkan oleh juragan Mongol," jawab bu Lily.
Pak Tio menghembuskan napasnya kasar. Ini terjadi mungkin ada salah satu pihak dari pekerja juragan Mongol yang menyebarkan berita tersebut.
Pak Tio merengkuh bahu istrinya. "Tidak usah di dengar, bu. Nanti juga mereka akan bosan membicarakannya. Ini hanya perihal waktu," tutur pak Tio.
"Ya sudah kalau begitu ibu masak, ya. Ingat, jangan melamun memikirkan ucapan mereka. Nanti masakannya bisa gosong, atau asin, atau tidak ada rasanya."
Bu Hesti tersenyum. "Iyaaa.. Ibu masak dulu, ya," pamitnya lalu pergi ke dapur.
"Masak yang enak, bu..!" teriak pak Tio.
"Iyaaaa.." jawab bu Hesti dari arah dapur.
Senyum pak Tio perlahan memudar. Pikirannya kini tertuju pada dua orang pekerja juragan Mongol. Beliau yakin jika salah satu di antara mereka ada yang menyebarkan berita ini. Pak Tio mengepalkan kedua tangannya.
***
Lily sudah mengabari ibunya jika hari ini ia pulang agak malam. Leon mengajaknya pergi ke rumahnya, meski awalnya Lily menolak, akhirnya ia pun mengangguk setuju.
"Aku takut orang tuamu akan marah jika aku ke sini," ucap Lily sedikit panik.
"Jangan takut, ada aku! Lagipula aku akan senang jika mereka marah dan terjadi perdebatan di antara kami," jawab Leon.
Lily mengerutkan keningnya heran. "Debat kok senang?" tanyanya heran.
"Setidaknya ada pembicaraan antara aku dan orang tuaku."
__ADS_1
"Maksudmu?"
Leon tak menjawab pertanyaan Lily, ia hanya menatap wanita di sampingnya dengan senyum getir.
Sudah hampir tiga puluh menit Leon dan Lily duduk di ruang tamu. Mereka mengisi waktu dengan mengobrol ringan dan candaan kecil. Hingga Lily hendak menyubit pinggang Leon akibat ulah pria itu, kedua orang tua Leon pulang.
Leon menyambut kepulangan mereka dengan senyuman. Tapi mereka membalasnya dengan tatapan tajam pada wanita yang duduk di sampingnya.
"Kenapa kau membawanya kemari, Leon?" seru Emely, sepertinya dia tidak suka melihat kehadiran Lily.
"Setelah menikah, Lily bahkan akan sering-sering datang kemari, ma," jawab Leon.
Emely menggeleng. "Tidak, orang miskin tidak boleh menginjakan kaki di rumah ini. Bahkan menjadi bagian dari keluarga kita!"
Kalimat mama Leon barusan begitu melukai perasaan Lily, ia tidak menyangka jika orang tua Leon sekejam itu.
Leon bangun dari duduknya. "Lily sama mama sama-sama miskin, kok. Bedanya, Lily miskin harta sementara mama miskin hati!"
"Tutup mulutmu, Leon!" sahut Xander, ia paling tidak suka jika mendengar putranya bicara tidak sopan dengan mamanya sendiri.
"Mama heran denganmu, Leon. Kenapa kau mati-matian belain wanita ini di banding mama? Sejak kapan selera wanitamu berubah?"
"Sejak kapan?" seru Leon. "Memangnya mama tahu selera wanitaku seperti apa?"
"Leon!"
"Cukup, pa! Jangan bicara seolah-olah aku yang tidak menghormati kalian, tapi kalian berdualah yang tidak pernah mengajarkan aku bagaimana cara menghormati orang tua!"
Plaakk..
Sebuah tamparan berhasil mendarat dengan mulus di pipi Leon. Lily sampai tercengang melihatnya. Setetes darah segar keluar dari sudut bibi Leon.
Leon mendongakan wajah dan menatap papanya dengan tatapan senyum getir.
"Terima kasih sudah mau saling bicara denganku meski dalam bentuk perdebatan, ma, pa. Terima kasih sudah memberi sentuhan melalui tamparan ini. Meski yang ku inginkan selama ini adalah pelukan, dekapan. Aku sangat berterima kasih karena mama dan papa sudah meluangkan waktu untuk hal ini."
Leon menarik lengan Lily dan membawanya pergi dari sana.
"Leon.. Leoooonnn..!" teriak Emely memanggil nama putranya.
"Kami tidak akan pernah datang ke acara pernikahan kalian..!" seru Xander.
Langkah Leon terhenti mendengar seruan tersebut. Tetapi ia enggan untuk membalikam badan. Ia melanjutkan langkahnya tanpa menghiraukan ucapan kedua orang tuanya.
Bersambung...
__ADS_1