
Leon semakin di buat naik pitam usai membaca pesan yang di kirim wanita itu. Ia mengetikan sesuatu di layar ponselnya, berusaha memberi tahu pada mamanya jika papanya sedang bersama wanita lain. Tak lupa Leon juga mengirim screenshoot pesan dari wanita itu pada mamanya agar percaya.
Setelah itu ia letakan ponselnya di kotak kecil samping jok, di depan ia melihat sebuah pertigaan jalan.
Sementara Xander belok ke kanan, Leon membelokan mobilnya ke kiri. Mobil mereka akan bertemu di jalan berikutnya.
Sudah hampir dua minggu Emely berangkat ke kantor, rencananya besok ia akan kembali ngantor, dan hari ini merupakan hari terakhirnya bersantai-santai di rumah.
Baru saja mendaratkan tubuhnya di sofa, ia mendapati ponselnya mengeluarkan bunyi notifikasi pesan masuk.
Leon:
Aku sudang mengikuti mobil papa. Papa sedang bersama wanita lain.
[Mengirim foto]
Awalnya Emely tidak percaya begitu saja dengan Leon, tapi setelah membaca ancaman dari foto hasil screenshoot yang Leon kirim selanjutnya, barulah darahnya mendidih.
"DASAR WANITA JALLANG..!" seru Emely.
Wajahnya kini merah padam menahan amarah, ia langsung keluar dari kamarnya menuju mobil dengan amarah yang bergejolak.
"Awas saja, kau! Berani merebut suamiku, itu artinya kau memberikan nyawamu padaku!"
Emely melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, ia menghubungi Leon untuk memberi kabar dimana suaminya dan wanita itu berada.
***
Leon mungkin tidak berhasil menghadang mobil papanya di pertigaan jalan berikutnya, tapi ia berhasil mengkuti mobil papanya sampai ke tempat kediaman wanita itu.
"Terima kasih sudah mengajakku shopping sebanyak ini, Daddy.." ucap wanita seksi itu, sebuat saja namanya Ava.
"Katakan saja apapun yang kau mau, baby. Daddy pasti akan kasih asalkan.."
"Aku pasti akan memuaskanmu, Dad," Ava memberi sebuah ciuman lembut singkat di bibir Xander.
"Thanks, baby," ucap Xander.
"Sama-sama, Daddy."
Xander pun berpamitan untuk pergi pada Ava, sementara wanita itu masuk ke dalam rumahnya yang sederhana.
Dari kejauhan, Leon menyaksikan hal tersebut. Sebetulnya ia ingin turun dan menghajar perbuatan papanya serta wanita itu, tapi sepertinya diam dulu jauh lebih baik. Sambil menunggu sang mama yang saat ini sudah on the way menuju tujuan, ia sudah mengirimkan lokasinya pada mamanya.
Setelah menunggu selama lima belas menit, akhirnya mobil mamanya mulai terlihat. Leon segera turun dari mobilnya begitu mobil sang mama berhenti di sebelah mobilnya.
"Mana wanita jallang itu Leon? Mama sudah tidak sabar untuk menghabisinya," tanyq Emely memburu.
Leon memberikan ponselnya pada sang mama, di sana terdapat video saat Ava mencium Xander tadi. Leon berhasil merekamnya.
"KURANG AJAR.!" Emely nyari membanting ponsel Leon, beruntungnya Leon segera mengambil alih kembali ponsel dari tangan mamanya.
"Lakukan apapun yang membuat mama puas. Dan satu pesan Leon, ma. Jangan hanya wanita itu yang mendapat hukuman, papa juga!"
__ADS_1
"Wanita jallang itu yang salah Leon, dia sudah berani menggoda papamu. Awas saja, mama akan sulap dia jadi ayam geprek!"
Emely bergegas pergi menuju rumah yang sama seperti di dalam video hasil rekaman Leon. Sementara Leon cukup mengawasinya dari mobil.
Tanpa permisi, Emely langsung masuk ke dalam rumah yang tidak di kunci itu. Ia menemukan wanita yang tengah asik mengeluarkan banyak pakaian dari dalam paper bag pemberian Xander.
"Hei, siapa kau?" tanya Ava begitu Emely masuk begitu saja ke rumahnya.
Emely tidak menghiraukan pertanyaan wanita itu, ia berjalan menghampiri Ava dan langsung menarik rambut panjangnya.
"DASAR WANITA JALLANG KAU, YA..! BERANINYA KAU MENGGODA SUAMIKU..!"
"A aaaw... Lepaskan..!" Ava kesakitan dan berusaha melepaskan tangan Emely yang menarik-narik rambutnya cukup kasar.
"KAU PANTAS MENERIMA INI, SIALAN..!!" maki Emely tanpa henti.
Ava kesakitan di bawah serangan Emely yang bertubi-tubi menarik rambutnya, memukul kepalanya, bahkan merremas payyudarracnya dengan sangat kasar.
"LEPAS...!" Ava mendorong tubuh Emely sampai wanita itu jatuh terhempas ke belakang.
Ava membenarkan rambutnya yang sudah sangat berantakan. "Jangan macam-macam denganku, lagipula apa yang kau lakukan tidak akan bisa mengubah niatku untuk mendapatkan Xander..!" seru Ava dengan lantang.
"DASAR WANITA TIDAK TAHU DIRI..!"
Emely bangkit dan kembali menyerang Ava, kali ini Ava tidak tinggal diam, ia membalas serangan demi serangan yang di berikan Emely. Tapi sayangnya, tenaga Emely lebih besar, sehingga badannya yang tidak sebanding dengan Emely sulit untuk bertahan lama di bawah serangan wanita paruh baya itu.
Dengan sekuat tenaga, Ava mencoba mendoromg tubuh Emely sampai wanita paruh baya itu kembali terjatuh. Ia tersenyum menyeringai lantaran bisa terlepas dari seragan wanita yang tengah membabi buta.
"JANGAN BERMIMPI..! SELAMANYA XANDER ADALAH MILIKKU DAN KAU HANYA PENGGODA YANG HAUS AKAN SENTUHAN DAN JUGA HARTANYA SAJA..!" balas Emely.
"Aku tidak perduli..!"
Emely kembali bangkit, sementara Ava hendak kabur, tapi gaunnya berhasil Emely tarik hingga robek. Emely tidak akan melepaskan wanita itu sampai ia puas menghajarnya.
"Lepas..!" pinta Ava seraya menarik gaunnya.
Tak ingin menyia-nyiakan hal tersebut, Emely menarik gaun Ava sampai robeknya besar. Ava sedikit panik lantaran Emely terus merobek gaunnya.
"AKU AKAN MEMBUATMU TELLANJANG DI DEPAN UMUM UNTUK MENGETES URAT MALUMU MASIH BERFUNGSI ATAU TIDAK..!"
"Aku bilang lepaskan..! Lepaskan..!" pinta Ava.
Emely terus merobek gaun yang di pakai Ava sampai terlepas dari tubuh wanita itu. Kini tersisa pakaian dalam, Emely bahkan menarik pakaian dalam bagian atas Ava sampai terlepas. Setelah itu, talinya ia gunakan untuk mengikat tangan Ava ke belakang.
"LEPAAAASSS..!!" teriak Ava.
Emely tidak memperdulikan Ava, ia menjatuhkan tubuh Ava di kursi dan kini mulai mengikat kaki wanita itu dengan robekan gaun.
"Sial.. Lepaskan..!" Ava berusaha memberontak, tetapi ia kesulitan sekali.
Emely juga merobek ****** ***** Ava sampai wanita itu benar-benar tellanjang bulat sekarang. Emely berdiri di depan Ava dengan melipat kedua tangan di dadanya.
Emely tersenyum remeh memandang tubuh polos Ava. "Ini yang kau jajakan, hah?"
__ADS_1
"LEPASKAN AKU SIALAN..!"
"Tidak akan pernah," jawab Emely.
"LEPAS...!"
Emely puas melihat wanita itu seperti sekarang, ia merremas kedua payyudarra Ava dengan kencang sekali. Sehingga pemiliknya merasa ngilu dan kesakitan.
"Sentuhan seperti ini yang kau inginkan dari suamiku, hah?"
Emely kembali merremas gunung kembar itu berulang kali, sampai Ava menitikan air mata saking sakitnya.
"Menjijikan sekali..!"
Emely memberi tamparan bolak-balik pada Ava sampai kedua pipinya merah, sudut bibirnya mengeluarkan setetes darah segar.
Emely memgambil ponsel dari sakunya, dan mulai merekam tubuh Ava. Ava menundukan wajahnya guna menghindari kamera.
"Ini wanita jallang yang suka menggoda suami orang. Harap para istri di luaran sana lebih berhati-hati jika bertemu dengan wanita ini," ucap Emely sembari merekam.
Emely mendongakan wajah Ava agar wajah wanita itu terlihat jelas di kamera.
"Bohong..!" seru Ava menyangkal. "Di sini aku hanya korban, dialah pelaku sesungguhnya."
Emely langsung mematikan kameranya, ia menampar Ava kembali lantaran sudah berani-beraninya membalikan sebuah fakta. Emely akan memotong video-nya sebelum ia menyebarkan di media sosial.
"Masih bisa membela diri rupanya."
Plak plak plak plak..
Emely terus memberi tamparan sampai Ava benar-benar merasa lemah sekarang.
"SEKALI LAGI DEKATI SUAMIKU, AKU KU BUNUH KAU!" ancam Emely sebelum akhirnya memilih pergi karena sudah puas.
"Tidak masalah..!" sahut Ava saat langkah Emely baru sampai di ambang pintu. "Lagipula aku sudah mendapat kenikatannya dari suamimu. Aku sudah berhasil membuat Xander menyentuhku, mengkhianati dirimu," imbuh Ava.
Kedua tangan Emely mengepal, ia membalikan badannya. Kedua matanya kini tertuju pada gucci kecil. Emely memecahkan gucci yang terbuat dari kaca keramik tersebut, lalu memungut kepingannya.
"Apa kau bilang..?" tanya Emely lirih, sembari melayangkan kepingan gucci tersebut.
"AAAAARRRRGHHH.."
Emely hendak menancapkan kepingan gucci kaca kramik tersebut di kepala Ava, tetapi Leon dengan cepat datang menghengikan aksi mamanya.
"Sudah cukup, ma. Ayo kita pulang!" ajak pria itu.
"Tidak, Leon. Mama harus kasih hukuman lebih pada wanita ini," tolak Emely.
"Cukup, ma. Ayo, kita pulang saja..!"
Leon menarik mamanya keluar dari rumah tersebut, ia tidak ingin mamanya berbuat berlebihan sampai harus berhubungan dengan polisi nantinya, apalagi kasus pembunuhan. Bisa berabe.
Bersambung...
__ADS_1