
Bu Hesti dan Lily berusaha meredamkan amarah pak Tio. Mereka mendudukan pria paruh baya itu di kursi. Kemudian memberi minum teh manis yang belum sempat tersentuh oleh tamu mereka tadi.
"Kurang ajar sekali mereka! Mentang-mentang kita orang gak punya, mereka pikir bisa menginjak dan menghina keluarga kita sesuka mereka? Ayah tidak akan membiarkan siapapun berani menginjak-injak keluarga kita," ucap pak Tio di antara amarah yang masih menggebu.
"Tenang, ayah! Istigfar..!" ujar bu Hesti berusaha menenangkan sang suami.
"Jika mereka saja berani menginjak kaki kita, tidak ada salahnya kita injak balik kepala mereka! Ayah tidak takut," sambung pria itu.
"Tapi kalau begitu kita tidak ada bedanya dengan mereka kan, yah?" sahut Lily.
"Lily, dengarkan ayah! Hidup itu jangan gak apa-apa melulu, sesekali kita memberontak jika mereka sudah keterlaluan!" tutur pak Tio.
Bu Hesti dan Lily terdiam, pak Tio memang selalu tidak terima jika ada orang yang berani menginjak-injak keluarga.
"Ya sudah, sekarang ayah tenang dulu, ya. Ibu mau masak buat makan malam kita. Ly, temani ayahmu, ya!"
Lily mengangguk. "Iya, bu."
"Kamu istirahat ke kamar saja, ayah mau mandi," ujar pak Tio pada putrinya.
"Iya, ayah," jawab Lily menurut.
Pria paruh baya dengan postur tubuh tinggi besar itupun melipir ke arah dapur menuju kamar mandi. Sementara bu Hesti ke dapur untuk memasak, Lily pergi ke kamarnya untuk istirahat kembali.
***
Malamnya, Leon memutuskan untuk kembali ke rumah Lily. Bedanya, sekarang ia memilih untuk datang sendiri. Kebetulan, keluarga pak Tio sedang makan bersama, jadi mereka mengajak Leon untuk ikut makan bareng mereka.
"Tidak usah, saya sudah makan!" tolak Leon, padahal sebetulnya ia belum makan.
"Tidak apa-apa, nak Leon! Ayo ikut bergabung saja bersama kami," ajak bu Hesti.
Kali ini tidak ada kesempatan lagi bagi Leon untuk menolak, ia pun mengikuti langkah bu Hesti menuju meja makan sederhana yang terdapat empat kursi terbuat dari kayu.
"Maaf, ya, meja makan kami tidak mewah seperti milik nak Leon di rumah," ucap bu Hesti, beliau mempersilahkan Leon untuk duduk di dekat pak Tio.
Lily yang baru saja selesai menggoreng tempe kini ia hidangkan ke atas meja makan. Ia sedikit terkejut melihat keberadaan Leon di meja makan dan mau ikut bergabung makan bersama mereka.
Lily pun duduk di hadapan Leon, ia menundukan wajahnya tak berani menatap pria tersebut.
"Sebelumnya saya mau minta maaf atas kejadian tadi mengenai sikap kedua orang tua saya!" ucap Leon begitu semuanya sudah berkumpul di meja makan.
"Bicarakan nanti saja jika sudah selesai makan!" sahut pak Tio.
"Baik."
Mereka pun memulai makan malam ini dengan ucapan basmalah serta do'a. Leon sedikit canggung berada di tengah-tengah keluarga tersebut. Terlebih ia sedikit ragu untuk memakan menu makan yang tak biasa ia makan.
"Jangan sungkan-sungkan, nak Leon. Kalau mau nambah, nambah saja," ujar bu Hesti, padahal nasi dan lauk dalam piring Leon belum tersentuh sedikitpun.
__ADS_1
"Baik, terima kasih," ucap Leon.
Ia pun mulai memakan makanan tersebut. Meski tidak semewah dengan menu makan yang biasa ia makan, tetapi Leon merasa sangat bersyukur sekali. Sebab ini menjadi pertama kali untuk dirinya makan bersama setelah sekian lama ia harapkan. Bedanya, justru ia makan bersama dengan orang tua yang akan menjadi calon mertuanya.
Kedua orang tua Lily baik-baik, sehingga Leon merasakan hangatnya keluarga dari mereka. Ia jadi merasa bersalah telah melakukan apa yang tidak pantas Lily dapatkan. Kini mereka sudah berkumpul di ruang tamu usai makan malam selesai.
"Saya benar-benar minta maaf karena sudah berbuat tidak senonoh pada putri anda. Saya berjanji akan bertanggung jawab atas apa yang sudah saya perbuat pada Lily," ucap Leon mengawali pembicaraan.
"Baguslah jika kamu bisa menyadari kesalahan kamu, saya menghargai," balas pak Tio.
"Saya akan melangsungkan pernikahan dengan putri anda minggu depan, saya minta persetujuan kalian," ujar Leon.
"Lebih cepat lebih baik. Sebab semakin hari perut Lily akan semakin membesar," kata pak Tio.
"Dan satu permintaan saya. Saya tidak mau kalian tinggal bersama orang tuamu jika nanti sudah menikah," pinta pak Tio.
Leon paham akan permintaan calon mertuanya, itu semua tidak terlepas dari sikap kedua orang tuanya tadi yang tidak bisa menjaga lisan.
"Baik, saya sudah punya rumah, dan kami akan tinggal di rumah tersebut setelah menikah," jawab Leon.
"Bagus. Sekarang, apa kamu sudah siap menikah dengan Leon, Ly?" tanya pak Tio pada putrinya.
"Siap, ayah," jawab Lily dengan mantap.
"Ayah percayakan putri ayah padamu, Leon. Jangan pernah menyakiti Lily nanti, ayah akan sangat kecewa jika kau melakukannya," pesan pak Tio.
Leon menganggukan kepalanya. "Iya."
"Kau pintar memasak juga ternyata," puji Leon setelah kedua orang tua Lily pergi.
Lily mengehembuskan napas. "Itu hanya tempe goreng biasa. Aku pikir horang kayah tidak akan menyukainya," sindirnya.
Leon tersenyum kecil. "Selama itu halal, kenapa tidak aku makan? Toh, rasanya juga enak, meski sedikit asin."
Lily mengulum senyum mendengar kalimat terakhir terakhir pria itu. Benar, memang tadi ia kelebihan garam.
"Yang penting enak, kan?"
"Iya," jawab Leon.
Tidak ada perbincangan lagi di antara keduanya, yang ada hanya rasa canggung. Akhirnya Leon kembali membuka suara dengan menanyakan perihal resign Lily dari pekerjaannya.
"Oh ya, apa kau sudah memenuhi permintaanku?" tanya Leon membuat kerutan di kening Lily.
"Permintaan yang mana?"
"Resign."
"Ohh.. Aku sudah mengajukan surat pengunduran diri, dan akan di proses selama satu minggu ke depan."
__ADS_1
"Bagus. Ternyata kau penurut juga. Pantas saja kau menuruti permintaan gilaku saat itu," ujarnya di akhirnya dengan senyum kecil.
Lily mengerucutkan bibirnya. "Iya, kau gila!" sahutnya.
Leon tertawa, ternyata Lily wanita yang menyenangkan untuk di ajak bercanda. Sebelumnya ia tidak pernah bertemu dengan wanita seasyik Lily.
Tiba-tiba saja pandangan Leon tertuju pada perut Lily yang sudah terlihat menonjol. Ia menghentikan tawanya dan menatap wanita di depannya cukup serius.
Lily sedikit takut ketika pria itu menoleh ke arah kamar orang tuanya, kemudian menggeser posisi duduk lebih dekat dengannya.
"Eh, mau apa?" Lily terlonjak pada saat Leon hendak menyentuh dirinya.
"Syutt.. Jangan berisik, nanti orang tuamu bangun!" bisik Leon. "Aku hanya ingin memegangnya saja," imbuhnya.
"Heh, jangan macam-macam!" Lily menggeser duduknya.
"Aku hanya ingin pegang sebentar, aku lihat sekarang tonjolannya besar. Boleh kan?"
Lily menggeleng. Ia hendak bangkit dari duduknya, tapi urung begitu Leon melanjutkan kalimatnya.
"Aku ingin pegang perutmu sebentar, kenapa mau pergi?"
Lily menatap pria itu bengong.
Hah, aku pikir dia mau pegang tonjolan lain. Batin Lily.
"Ohhh.. Ya sudah, sebentar saja."
Leon pun kembali mendekat, ia menatap wajah Lily dengan senyum yang meledek.
"Memangnya kau berpikir aku mau pegang apa?"
Lily menggeleng. "Tidak, aku tidak berpikir apapun!" elaknya.
Leon menyentuh bagian ujung batang hidung Lily yang membuat pemiliknya terbelalak.
"Jangan bohong, kau berpikir tonjolan yang ku maksud di atas perutmu kan?"
Lily kembali menggeleng. "Kau yang memancing duluan. Benar kan?"
Leon tersenyum. "Tapi ternyata kau kepancing juga."
Lily mencubit pinggang pria itu hingga menimbulkan teriakan.
"Aaaww.." teriak Leon spontan, antara geli dan sakit berpadu menjadi satu.
Pak Tio dan bu Hesti yang baru saja akan memejamkan mata kembali terbangun.
"Ada apa, Ly? Leon belum pulang? Sudah malam ini..!"
__ADS_1
Bersambung...