MENGANDUNG ANAK CASSANOVA

MENGANDUNG ANAK CASSANOVA
HAMIL LAGI?


__ADS_3

"Hoeks.. hoeks.. hoeks..."


Baru saja akan pergi ke lapas tempat mama Emely di tahan, tapi entah kenapa tiba-tiba saja Lily mual dan muntah begitu mencium aroma masakan bi Ratih yang terasa menyengat.


"Nyonya, nyonya kenapa?" tanya bi Ratih khawatir.


Lily menggeleng. "Tidak apa-apa, bi. Tapi tidak tahu kenapa, aku mual mencium makanan masakan bi Ratih ini," terang wanita itu.


Bi Ratih terdengar menghela napas dan terlihat sedikit berpikir. "Tapi biasanya teh masakan bibi selalu nyonya bilang harum. Apa jangan-jangan nyonya hamil?"


Lily mendongakan wajahnya menatap asisten rumah tangga yang berdiri di hadapannya.


"Hamil?"


"Iya. Bukannya nyonya teh pernah hamil sebelumnya? Tanda-tandanya sama seperti ini kan?"


Lily terdiam. Hamil pertamanya waktu itu memang di tandai mual dan muntah. Tapi untuk mencium aroma masakan sepertinya tidak.


"Coba deh nyonya ke Apotek beli test pack, siapa tahu beneran positif," usul bi Ratih.


"Positif apa?" tanya Leon yang baru saja datang ke ruang dapur.


Bi Ratih dan Lily menoleh, pria itu berjalan menghampiri mereka.


"Nyonya mual dan muntah-muntah, tuan," jawab Bi Ratih.


Leon memandang ke arah istrinya, wajah Lily tampak sedikit pucat.


"Kau hamil?" tanya Leon.


Lily menggeleng. "Entah."


"Ya sudah kalau kau kurang enak badan, istirahat ke kamar saja, ya. Jenguk mamanya besok saja. Sekarang aku pergi ke Apotek untuk belikan tes kehamilan."


"Iya," jawab Lily.


Leon memapah Lily berjalan sampai ke kamar. Pria itu juga membantu istrinya membaringkan tubuh di atas tempat tidur sebab Lily mengeluh badannya terasa sedikit lemas.

__ADS_1


"Tunggu di sini sebentar ya, sayang. Aku belikan test pack dan vitamin."


Lily menganggukan kepalanya. "Iya."


Leon bergegas pergi dari kamar tersebut. Kini tinggal Lily seorang di sana.


Lily mengusap perutnya yang datar. Apakah benar dia hamil lagi? Jika benar, ia janji akan menjaganya sebisa mungkin. Agar hal-hal buruk yang tidak di inginkan tidaklah lagi terjadi.


"Jika kamu sudah tumbuh di rahim ibu, ibu harap kamu tumbuh dengan baik dan sehat di sana, sayang," ucap Lily dengan seulas senyum yang menghiasi bibir pucatnya.


Tiba-tiba saja ia kembali merasakan mual dan ingin muntah, buru-buru ia bangun dari tempat tidur menuju kamar mandi.


"Hoeks.. hoeks..."


Bukan hanya mual dan muntah, Lily juga sekarang merasa sedikit pusing. Ia menyalakan keran di wastafel, menyiram cairan muntahannya serta membasuh wajah beberapa kali.


Lily menatap pantulan dirinya di cermin, wajahnya tampak pucat sekali, seakan darah terserap habis oleh tenaganya. Ia kembali membasuh wajahnya dan menatap lagi pantulan wajah di cermin.


"Kamu harus bisa melewati fase ini, Lily! Kamu harus kuat! Kamu harus jaga calon bayi kamu dengan sangat baik! Kamu tidak boleh mengecewakan Leon untuk kedua kalinya!" ucap Lily lirih menyemangati dirinya.


Lily kembali membaringkan tubuhnya di atas kasur. Tidak berapa lama, pintu kamarnya di ketuk oleh seseorang.


"Iya, bi... Masuk saja, pintunya tidak di kunci..!"


Pintu pun di buka dan muncul bi Ratih baliknya, wanita paruh baya itu melangkah masuk ke dalam kamar dengan membawa secangkir teh manis hangat.


"Di minum dulu, nyonya. Biar mualnya sedikit berkurang."


Bi Ratih menaruh nampan berisi teh tersebut dan membantu Lily untuk bangun. Wanita paruh baya itu menumpuk tiga dua bantal untuk di jadikan sandaran Lily. Setelah itu barulah bi Ratih memberikan cangkir berisi teh manisnya.


"Terima kasih ya, bi," ucap Lily seraya menerima cangkir teh tersebut.


"Iya, nyonya."


Lily mulai menyeruput teh manis yang masih hangat beberapa kali, lalu menaruh cangkir teh itu ke atas nakas.


"Kalau butuh apa-apa, langsung panggil bibi saja atuh, ya!"

__ADS_1


"Iya, bi."


"Ya sudah, bibi mau jemur pakaian dulu ya, nyonya," pamit bi Ratih.


"Iya, terima kasih teh nya, bi."


"Sama-sama, nyonya."


Setelah bi Ratih pergi, Leon datang. Pria itu membawa kantong kresek putih kecil berisi tes kehamilan dan beberapa vitamin.


"Bagaimana, sayang. Sudah membaik?" tanya Leon begitu masuk ke kamar.


"Sedikit," jawab Lily.


Leon duduk di tepi ranjang, ia mengeluarkan tes kehamilan dari dalam kantong kresek putih kecil tersebut, lalu memberikannya pada istrinya.


"Ini, coba di cek, ya. Siapa tahu kau beneran hamil."


Lily menerima tes kehamilan tersebut, Leon membantu istrinya itu untuk bangun dan memapah ke kamar mandi. Setelah dua menit menunggu, Lily akhirnya keluar.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Leon dengan tidak sabar.


Lily memberikan hasil tes kehamilan tersebut pada Leon. Pria itu menerima tes tersebut dengan tangan yang sedikit gemetar. Begitu tahu hasilnya, ia langsung memeluk tubuh mungil Lily membawanya ke dalam pelukan.


"Alhamdulillaah.. Kau hamil lagi, sayang.." ucap Leon penuh syukur.


Lily mengangguk dalam dekapan pria itu. Semburat kebahagiaan terpancar di kedua wajah mereka. Leon melepaskan tubuh Lily dari pelukannya, setelah itu ia bersujud syukur ke lantai.


Lily yang melihat hal tersebut merasa terharu, betapa bahagianya Leon ketika ia hamil lagi. Ia janji tidak akan mengecewakan Leon untuk kesekian kali. Semoga Tuhan benar-benar mempercayakan mereka menjadi orang tua.


Leon bangun dan kembali memeluk tubuh istrinya. Pria itu menghujani Lily dengan ciuman di bagian puncak kepala.


"Selamat, sayang. Kita akan segera memiliki bayi," ucap Leon lirih dalam puncak kepala wanita itu.


Lily mendongakan wajahnya. "Iya. Kita akan jadi orang tua."


Kebahagiaan tengah mereka rasakan saat ini. Keduanya berharap yang terbaik, dan semoga mereka tidak sampai kehilangan calon bayi untuk kedua kalinya.

__ADS_1


Bersambung...


...Yuk, yang mau ikutan GIVE AWAY tapi belum baca SYARAT & KETENTUAN di video Yuotube aku, segera cek sekarang juga. ...


__ADS_2