
Hari ini Leon mengajak Lily untuk tinggal di rumah pribadinya. Di antar olehpak Tio dan juga bu Hesti. Orang tua Lily terkagum-kagum melihat betapa besarnya rumah Leon, ia merasa bangga akan menantunya itu.
"Leon, ayah titip Lily pada kamu. Ingat pesan ayah, jangan pernah sakiti Lily!" kata pria paruh baya itu.
Leon mengangguk. "Saya akan berusaha mengingat pesanmu, ayah," jawab pria itu tanpa ragu lagi untuk memanggil mertua prianya dengan sebutan ayah.
"Bagus."
"Ly, jaga dirimu baik-baik, ya! Selalu nurut dengan apa kata suamimu, ya, nak. Jangan membantah, sekarang surgamu ada di telapak kaki suamimu," pesan bu Hesti.
"Iya, ibu. Terima kasih sudah mengantar kami kemari," balas dan ucap Lily.
"Sama-sama, sayang."
"Ya sudah kalau begitu ayah dan ibumu pamit pulang, ya," pamit pak Tio.
"Tidak mampir dulu, yah?" tanya Leon, sebab mereka kini hanya berdiri di depan rumah saja.
"Lain kali saja, ya."
"Iya. Hati-hati di jalan!"
Leon dan Lily menyalami pak Tio dan bu Hesti secara bergantian. Mereka pulang bersama supir pribadi orang tua Leon, sebab pria itu yang memintanya untuk mengantarkan kedua orang tua Lily pulang.
Lily melambaikan tangannya begitu mobil yang orang tuanya tumpangi mulai meninggalkan pelataran rumah. Kini hanya ada ia berdua dengan suaminya di sana.
Lily menatap ke arah Leon yang masih memandang ke arah perginya mobil. Ia terheran dengan sikap Leon yang ia dapat baru-baru ini. Baru saja ia dengar jika pria itu akan selalu mengingat pesan ayahnya agar tidak sampai menyakitinya. Tapi semalam, ia justru mendapatkan sebuah fakta baru yang tidak ia ketahui selama mengenal Leon.
Tadi malam, Lily buru-buru menyalakan shower kamar mandi begitu Leon mengangkat telepon dari wanita yang di namai Chika Gemoy. Ia tidak tahu wanita itu siapa dan tidak mau tahu juga. Ia sengaja tidak ingin mendengar pembicaraan pria itu terlalu jauh padahal dalam hati ia merasa sangat penasaran sekali, tapi ia berusaha untuk tidak mau tahu.
Usai mandi tadi malam itu, Lily mendapati suaminya tengah asyik senyum-senyum sendiri sambil menatap layar ponselnya. Sepertinya Leon tengah membalas pesan-pesan dari wanita itu. Sampai-sampai Leon tidak menyadari jika dirinya sudah selesai mandi dan ikut membaringkan tubuh di atas kasur.
Leon juga malah memunggungi dirinya dan masih asyik dengan ponselnya. Hal itu membuat Lily sedikit kesal sampai akhirnya memilih untuk tidur.
"Hei.. Kenapa menatapku seperti itu?"
Pertanyaan Leon memaksa Lily untuk keluar dari segala lamunannya.
"Kau melamun, apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Leon kemudian.
Lily menggeleng cepat. "Tidak, tidak ada."
"Jangan bohong, ceritakan saja apa yang kau rasakan. Aku ini sudah menjadi suamimu, aku berhak tahu apa yang sedang di pikirkan istriku," pinta Leon.
Jika saja Lily tidak kesal pada Leon gara-gara kejadian semalam, mungkin jantungnya sudah berdebar tidak karuan mendengar kata-kata pria itu barusan.
"Aku baik-baik saja," jawab Lily singkat datar.
Kedua mata Leon memicing, ia curiga jika istrinya tengah menyembunyikan sesuatu darinya. Tapi apa?
"Ya sudah kalau begitu. Ayo masuk!"
Lily berjalan di belakang Leon, kedua tangan pria itu menarik dua koper sekaligus. Sampai di dalam rumah, Lily mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan. Ruangannya cukup luas dan belum begitu terisi oleh barang-barang. Hanya ada sofa panjang dan meja di sana. Tidak ada guci maupun figura yang terpajang di sana.
"Aku beli rumah ini satu bulan lalu, aku belum sempat membeli barang-barang untuk mengisi rumah ini," ujar Leon seolah tahu apa yang ada dalam pikiran istrinya.
__ADS_1
"Kamar kita di bawah saja, ya. Aku akan khawatir kalau kau harus naik turun tangga jika kamar kita di atas. Bagaimana, apa kau tidak keberatan?" tanya pria itu.
"Iya, ide bagus juga," jawab Lily setuju.
"Kalau begitu ikut aku!"
Lily kembali mengekor di belakang Leon, sampai akhirnya mereka berhenti di sebuah ruangan yang menjadi kamar untuk mereka berdua. Sudah ada kasur berukuran besar, sofa panjang serta lemari besar di sana.
"Kita bisa tidur di sini. Semoga kau nyaman berada di rumah ini," harap Leon.
"Iya," sahut Lily singkat.
Dari jawaban-jawaban Lily sejak tadi, Leon semakin yakin jika ada sesuatu yang mengganggu pikiran wanita itu. Tetapi kalaupun ia bertanya lagi, Lily pasti akan tetap menjawab kalau dirinya baik-baik saja.
Ting..
Suara notifikasi pesan masuk berasal dari ponsel Leon. Pria itu merogoh benda pipih tersebut dari saku celananya. Beberapa detik kemudian ia berpamitan pada Lily untuk keluar sebentar.
"Tunggu sebentar, ya!"
Leon melangkah meninggalkan Lily begitu saja. Lily jadi penasaran, sebenarnya Leon mendapat pesan dari siapa. Ia pun memutuskan untuk mengikuti langkah Leon keluar rumah.
Langkah Lily terhenti di ruang tamu, ia membungkam mulutnya merasa syok begitu melihat Leon sedang berpelukan mesra dengan wanita seksi di depan rumah.
Dari kejauhan, wanita yang tengah di peluk Leon melihat Lily mendapati mereka. Wanita itu segera melepaskan pelukannya.
"Itu istrimu, kak?" tanya wanita itu pada Leon.
Leon pun membalikan badan dan menoleh ke arah Lily.
Wanita itu menganggukan kepalanya setuju.
Dari percakapan mereka berdua, sepertinya ada yang salah dengan apa yang di pikirkan oleh Lily. Mereka menghampiri Lily dan Leon mengenalkan wanita tersebut padanya.
"Kenalkan ini Chika adik sepupuku," kata Leon.
"Hai.." sapa wanita itu kemudian mengulurkan tangannya.
Lily tidak segera menjabat tangan wanita yang bernama Chika tersebut. Nama itu mengingatkannya pada nama yang tertera di layar ponsel Leon yang membuat pria itu sampai mengabaikannya.
"Ly..?" panggil Leon lirih, Lily langsung sadar dan segera menjabat tangan wanita yang menunggunya sejak tadi.
"Lily," ujar Lily mengenalkan dirinya.
"Nama yang sangat indah," puji wanita itu.
"Terima kasih," ucap Lily.
Leon merasa senang melihat mereka berdua sudah saling berkenalan. Kemudian pria itu mengajak kedua wanita di depannya untuk duduk di sofa yang tidak jauh dari tempat berdirinya.
"Kapan rencana balik ke Perancis?" tanya Leon mengawali percakapan di antara mereka.
"Iiihh.. kan aku baru sampai tadi malam," sahut Chika.
Leon tertawa kecil mendengar jawaban adik sepupunya itu.
__ADS_1
"Mau lama di Indonesia?" lanjutnya.
"Lusa balik lagi ke sana."
"Kenapa tidak sekarang saja?"
Chika menyubit lengan Leon dengan sedikit kesal. "Iiihhh.."
Leon tertawa, ia selalu senang membuat adik sepupunya kesal seperti sekarang. Sementara Lily memilih diam, ia merasa bersalah karena sudah bersikap ketus pada Leon sejak tadi. Ia sudah berpikiran yang tidak-tidak akan suaminya.
"Dasar Gemoyyy..!" Leon mencubit pipi cubby Chika dengan gemas. Sebab wanita itu memiliki tubuh pendek dan cukup berisi.
Selama hampir dua jam Chika berada di rumah Leon. Wanita itu menceritakan kejadian apa pun yang ia alami selama berada di Perancis. Mulai dari hampir terseret ombak saat bermain di pantai, sampai nyaris di lecehkan oleh pria tua di dalam bus.
Leon dan Lily tertawa mendengar setiap cerita Chika, sampai akhirnya wanita itu memutuskan untuk kembali ke rumah Villa tempatnya singgah saat ini dan untuk beberapa hari ke depan.
"Ternyata adik sepupumu itu menyenangkan, ya," ujar Lily ketika Chika sudah pulang.
Leon tersenyum. "Dia yang selalu menghiburku ketika aku mulai putus harapan terhadap kedua orang tuaku," ungkap Leon.
Lily menatap wajah suaminya, ada rasa sedih yang terpancar dari kedua manik mata Leon. Ia semakin merasa bersalah sudah menuduh Leon dengan segala pemikirannya. Pantas saja Leon begitu senang ketika menerima telepon maupun dengan semangat membalas pesan-pesan dari Chika.
"Aku minta maaf, ya!" ucap Lily, membuat kerutan di kening Leon.
"Minta maaf untuk apa?"
"Mmmm.. Aku sudah menuduhmu," jawab Lily.
Leon semakin tidak paham akan maksud Lily. "Katakan yang jelas, menuduh apa maksudmu?"
Lily mulai menyusun kata-kata dalam pikirannya. Memilih kata yang pas agar Leon tidak tersinggung akan apa yang ia ucapkan.
"Aku.. Semalam aku tidak sengaja lihat nama adik sepupumu di layar ponselmu. Aku pikir... Mmmm, aku sudah menuduhmu dengan segala pikiranku. Aku sudah berpikir yang macam-macam tentang itu," jawab Lily jujur.
Leon mengulum senyum mendengar pengakuan Lily. Di balik pengakuan istrinya, rupanya Lily merasa cemburu pada si Gemoy.
"Pantas saja kau ketus padaku sejak bangun tidur. Padahal semalam kau tidur nyenyak dan begitu nyaman karena memelukku," goda Leon.
"Heh, aku memelukmu?" tanya Lily salting.
"Hm."
"Ka-kapan? Aku tidak memelukmu, aku memeluk guling," ujar wanita itu merasa salah tingkah.
"Guling hidup," balas Leon.
"Iiihh.. Apaan, sih? Kau pasti bohong," tuduh Lily, ia segera masuk ke dalam rumah karena ia merasa pipinya mulai memanas sekarang.
Sementara Leon tersenyum melihat ekspresi Lily yang tampak begitu menggemaskan.
Bersambung...
...Jangan lupa dukungannya, teman-teman. LIKE, KOMEN, VOTE, HADIAH POIN/KOIN, dan tekan LOVE untuk menambahkan ke rak FAVORIT....
...Follow Ig @wind.rahma...
__ADS_1