
Bi Ratih merasa ada yang aneh dengan nyonya majikannya sepulang entah dari mana. Lily tampak murung dan gelisah, bi Ratih ingin bertanya tapi beliau tidak berani. Takutnya itu hal pribadi dan beliau bisa di katakan urus campur masalah orang.
Akhirnya bi Ratih berinisiatif untuk membuatkan teh manis hangat untuk nyonya majikannya itu. Lalu menghidangkan di atas meua ruang tamu dimana nyonya majikannya itu berada.
"Nyonya, bibi buatkan nyonya teh manis hangat. Di minum, ya..!" kata bi Ratih, tetapi majikannya itu seperti tidak melihat kehadirannya lantaran tenggelam dalam lamunan.
"Nyonya.." panggil bi Ratih seraya menyentuh bahu Lily pelan.
"Hm, iya, bi? Ada apa?" Lily sedikit terlonjak kaget.
"Bibi buatkan teh manis hangat untuk nyonya, di minum, ya..!"
Lily melirik ke arah meja, ia baru menyadari jika mungkin bi Ratih sudah sejak tadi berada di sana.
"Iya, bi. Terima kasih, ya.." ucap Lily.
"Sama-sama, nyonya. Kalau begitu bibi ke dapur lagi, ya," pamit wanita paruh baya bertubuh gemuk pendek itu.
"Iya, bi Ratih. Silahkan..!"
Lily meraih cangkir teh manis di atas meja, tetapi urung begitu pandangannya tertuju pada sosok pria yang kini sudah berdiri di ambang pintu.
"Leon.." ucap Lily lirih.
Lily meletakan cangkir teh manisnya ke tempat semula, ia bangkit berdiri dan berjalan menghampiri pria tersebut. Ia juga berusaha memasang mimik wajah senyum seolah tidak ada sesuatu yang terjadi.
"Leon.. Kok sudah pulang..? Bukankah kau ada meeting nanti sore?" tanya Lily.
Leon bergeming. Ia menatap wajah Lily datar. Sampai akhirnya Lily menyadari ada lebam di ujung ekor mata Leon.
"Leon.. Kau kenapa..??" tanya Lily cemas, ia hendak menyentuh luka tersebut namun seketika Leon memeluknya.
Lily terheran dalam dekapan Leon, kenapa pria itu tiba-tiba bersikap tidak seperti biasanya.
"Leon, katakan apa yang terjadi?" pinta Lily di dalam pelukan suaminya.
"Biarkan seperti ini dulu, aku masih ingin memelukmu lebih lama," jawab Leon lirih.
Lily menelan salivanya dengan susah payah, ia masih penasaran dengan apa yang sudah terjadi pada Leon.
Setelah merasa puas, Leon pun melepaskan pelukannya secara perlahan. Ia menatap kedua manik mata Lily dengan lekat.
"Apa yang terjadi, Leon? Jangan buat aku cemas seperti ini?" tanya Lily sekali lagi.
Leon masih tak mau angkat bicara, pria itu malah mengusap bibirnya dengan lembut menggunakan ibu jari. Berulang kali Leon lakukan dan berakhir dengan mencium bibir milik wanita tersebut.
"Hanya aku yang boleh melakukan ini padamu, sebab kau hanyalah milikku," ucap Leon usai mencium bibir Lily.
Lily sedikit terkejut dengan pernyataan Leon barusan. Entah kenapa ia merasa Leon tahu sesuatu tentang maksud ucapannya itu.
"Laon, kau-"
"Dia sudah ku beri pelajaran. Jadi kau tidak usah khawatir, dia tidak akan bisa mengganggumu lagi," pangkas Leon.
Lily membulatkan mata, ternyata dugaannya benar jika Leon sudah tahu apa yang terjadi dengannya hari ini.
__ADS_1
Lily ikut mendaratkan tubuhnya di sofa dan menatap Leon dengan sejuta pertanyaan.
"Apa maksudmu, Leon..?"
Leon menghembuskan napas. Ia menatap Lily yang terlihat ketakutan. Leon memegang kedua sisi bahu Lily dan kembali menatap wanitanya dengan tatapan cukup serius.
"Apapun yang terjadi padamu, jangan pernah kau sembunyikan seorang diri. Aku suamimu, aku memiliki kewajiban untuk melindungimu sebagai istriku. Aku tidak akan tinggal diam begitu dengar ada pria lain yang hendak kurang ajar terhadap istriku. Sampai di sini paham..?!"
Lily diam untuk beberapa saat. "Jadi siapa yang sudah memberi tahumu?"
"Itu tidak penting. Yang terpenting sekarang, jangan pernah lagi berhubungan dengannya, apapun alasannya..!"
Lily mengangguk. "Iya, Leon. Maaf, aku tidak tahu jika kejadiannya akan seperti itu. Aku hanya berpikir jika Hi-"
"Jangan sebut lagi namanya, aku tidak suka!"
"Iya, maaf."
Lily menundukan wajah, ia merasa sangat bersalah sekali. Kejadian hari ini bisa jadi pelajaran untuknya, orang yang kita anggap baik sekalipun bisa saja berniat jahat.
"Lalu bagaimana dengan meeting-mu sore nanti?" tanya Lily berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
"Aku bisa minta Drew untuk handle. Sebab ada yang lebih penting dari itu."
"Apa?"
"Istriku."
Lily mengulum senyum, ia tidak menyangka jika Leon bisa bijak dalam menyikapi situasi dan kondisi sekarang ini. Ia pikir Leon akan marah besar padanya lantaran tidak bisa menjaga diri sebagai seorang istri.
"Aku suka senyummu, itulah yang membuat aku semakin jatuh cinta setiap hari padamu," ungkap Leon.
Leon mencubit kedua pipinya dengan gemas.
"Aaaww.. Sakit, Leon..!" ringisnya.
"Iya, maaf. Salahmu karena terlalu menggemaskan..!"
Lily mengusap-usapi wajahnya yang kini di buat merah akibat Leon. Sementara Leon terkekeh melihat ekspresi istrinya.
Leon membawa Lily kembali ke dalam pelukannya, sebb jika tidak, Lily akan menyerangnya dengan cubitan di pinggang saat dia sudah kesal.
"Sekali lagi, maafkan aku, Leon..!!" ucap Lily.
Wanita itu mendongakan wajahnya, Leon tersenyum. "Iya, sayang. Jangan di ulangi, ya!"
Lily mengangguk. Leon mencium kening wanita itu singkat lalu memeluk tubuh Lily erat-erat.
***
Malamnya.
"Aku buatkan masakan spesial untukmu makan malam ini sesuai janjiku tadi pagi," ujar Lily sembari menghidangkan menu masakan yang baru saja ia tuangkan dari papan penggorengan.
"Apa itu?" tanya Leon penasaran.
__ADS_1
"Ayam kari spesial."
Leon tersenyum melihat begitu semangatnya Lily memasak menu makan malam ini untuknya.
"Terima kasih, sayang."
"Sama-sama. Ayo cobain..!"
Lily menaruh mangkuk yang sudah ia isi dengan menu tersebut ke hadapan Leon. Pria itupun dengan semangat mencicipi makanan spesial yang di buatkan oleh istri tercinta.
"Enak," puji Leon.
"Sungguh?"
"Hm. Tapi-"
"Tapi? Asin lagi?" tanya Lily memotong kalimat suaminya.
Biasanya Leon akan berkomentar jika masakannya selalu asin. Padahal rasanya cukup, mungkin Leon memmg tidak terlalu suka garam.
"Bukan," sahut Leon.
"Lalu apa?"
"Lebih enak kalau kau suapi aku," pinta pria itu mencipatakan senyum-senyum malu-malu Lily.
"Baiklah," jawab Lily setuju.
Wanita itu lekas menyuapi suaminya, Leon tak henti-hentinya memandang wajah Lily. Selain masakannya yang sedap, si hadapannya juga ada sosok wanita yang tak kalah sedapnya bila di padang lama-lama.
"Leon, jangan menatapku seperti itu..!"
Lily selalu memprotes jika Leon sudah menatapnya demikian.
"Memangnya kenapa?"
"Aku malu," ungkap Lily.
Leon menyunggingkan bibirnya. "Semalam polos di depanku saja kau tidak malu," goda pria itu.
"Iiih.. Apaan sih..?"
Leon terkekeh jika ekspresi wajah Lily sudah berubah kesal, tampak begitu menggemaskan.
Di tengah makan malamnya yang di selingi canda tawa, tiba-tiba ada seseorang yang menggedor pintu rumahnya cukup keras. Lily memandang ke arah Leon dengan rasa takut.
"Leon, itu siapa..?"
Leon menggeleng. "Aku tidak tahu. Kau tunggu saja di sini, ya, biar aku yang ke depan!"
Lily mengangguk. Leon pun beranjak dari sna guna membukakan pintu yang baru saja di ketuk dengan sangat keras oleh tamu yang datang malam-malam ini.
Begitu pintunya Leon buka, muncul sosok pria paruh baya di baliknya. Pria itu menghunuskan tatapan penuh amarah.
"Ayah.."
__ADS_1
Bersambung...
...LIKE, KOMEN, VOTE VOTE VOTE, dan HADIAH kopinya ya teman-teman. Jangan lupa tekan LOVE-nya. ...