MENGANDUNG ANAK CASSANOVA

MENGANDUNG ANAK CASSANOVA
UNDANGAN MAKAN MALAM


__ADS_3

Hari ini Leon mengantar istrinya untuk berbelanja di Supermarket. Lantaran stok bahan masakan di dapur sudah hampir menipis. Sebenarnya bisa saja bi Ratih yang pergi untuk belanja, tapi entah kenapa Lily rindu berbelanja bahan masakan setelah bi Ratih mengambil alih tugas yang sebelumnya ia lakukan.


"Dan yang membuat aku pertama kali jatuh cinta denganmu itu karena masakan mu," ucap Leon ketika Lily sedang mengambil daging segar, sementara ia mendorong keranjang.


"Meski hanya tempe goreng yang kelebihan garam, asin," lanjut pria itu membuat Lily menoleh lalu tersenyum.


"Asin saja sudah bisa membuatmu jatuh cinta, apalagi kalau rasanya pas," sahut Lily.


Leon pun ikut tersenyum mendengar jawaban istrinya. Kemudian mereka berpindah mencari bahan masakan lain.


"Oh ya, bagaimana kalau kita undang Chika dan juga Drew untuk makan malam bersama? Siapa tahu mereka bisa lebih dekat dengan itu, aku yakin Chika pasti setuju dengan ide-ku ini," usul Lily.


"Iya, boleh. Si Gemoy bukan hanya setuju, dia pasti girang sekali jika kau beri tahu ide-mu ini. Lebih baik kau tidak katakan dulu jika kita undang Drew juga. Aku ingin lihat bagaimana reaksinya."


"Ok. Nanti aku yang undang Chika, kau yang undang Drew. Bagaimana?"


"Ok. Ya sudah, sekarang kau pilih bahan masakan lebih banyak, ya!"


"Iya.."


Setelah hampir setengah jam lamanya, Leon dan Lily kembali ke mobil dengan menenteng dua kantong plastik besar di tangannya. Leon segera memasukan belanjaan tersebut ke bagasi mobil. Kemudian mereka tidak langsung pulang ke rumah, mereka pergi ke kafe dulu.


Sementara di tempat lain. Hiko dan Ava kembali bertemu. Hiko masih penasaran dengan cerita Leon, meski sebelumnya Ava sudah menjelaskan banyak.


"Oh ya, apa dia masih mengajakmu untuk tidur bersama lagi?" tanya Hiko penasaran.


"Oh, tentu saja. Leon bahkan sering mengajakku vcs dan sembunyi-sembunyi dari istrinya. Dia sering sembunyi di kamar mandi, hanya sekedar ingin melihat tubuhku," jawab Ava mengada-ada.


"Memang brengsek pria itu. Bisa-bisanya dia mengkhianati wanita sebaik Lily. Aku tidak akan membiarkan Lily bersama orang salah. Aku harus melindunginya," ujar Hiko terbawa emosi.


"Iya, memang kau harus melindunginya. Sebab aku pun tidak tahu jika Leon hanya melakukan hal semacam itu denganku atau dengan banyak wanita lainnya."


Ava terus mengompori Hiko sampai pria itu merah padam menahan amarah. Ia tidak bisa membiarkan Lily di tipu oleh Leon.


"Kalau begitu aku pergi duluan, ya. Aku ada acara lain dengan temanku. Bye.."


Ava pamit terlebih dahulu dan melambaikan tangannya pada Hiko. Sementara pria itu masih duduk di kursi meja kafe. Tidak berapa lama kemudian, ia mendengar suara dari meja sebrang yang tak asing di telinganya. Begitu di lihat, ternyata itu Lily dan Leon.

__ADS_1


"Mereka ada di sini," gumam Hiko.


Hiko hendak beranjak dari duduknya untuk menghampiri mereka, tetapi ia urungkan sejenak.


"Oh ya, Leon. Aku jadi penasaran dengan nasib wanita yang merebut papamu dari mama Emely. Bagaimana kabaranya sekarang ya?"


Leon sedikit terkejut dengan pertanyaan istrinya.


"Itu tidak penting, sayang," jawab Leon.


"Iya, sih. Tapi aku hanya penasaran saja. Mmm.. siapa nama wanita itu? Ana?"


"Ava," jawab Leon membenarkan.


Seketika Hiko tertarik dengan obrolan mereka. Ia memasang Ciput hoodienya agar mereka tidak sampai mengenali dirinya.


"Nah iya Ava. Aku jadi penasaran, deh. Kenapa juga ya dia mau berhubungan dengan papamu? Padahal jika aku lihat dari video-nya yang tersebar itu, dia cantik, seksi. Harusnya dia cari lah pria yang seusianya tanpa harus merebut pria milik wanita lain," ucap Lily.


Leon terdiam sejenak. Lily memang tidak pernah tahu dan tidak pernah ia kasih tahu jika pria yang Ava inginkan sesungguhnya itu bukanlah papanya, tapi dirinya. Dan Lily juga tidak perlu tahu jika wanita yang sudah merebut papanya itu adalah wanita yang pernah tidur dengannya sebelumnya.


Lily pun mengangguk. "Iya juga, sih. Maaf ya jika perkataan ku ini menyinggung perasaanmu."


Lily dan Leon kembali mengobrol membahas tentang rencana mengundang Drew dan Chika. Sementara Hiko kini di buat kebingungan. Ia jadi berpikir mana seharusnya yang ia percaya, ucapan Ava atau Lily barusan. Sebab Lily menyebut-nyebut nama Ava, itu artinya Lily memang tahu siapa Ava. Dan anehnya, Lily menyebut jika Ava adalah wanita yang sudah merebut papa suaminya.


Sepertinya Hiko harus cari tahu kebenarannya. Pertama melalui video yang tadi Lily maksud. Lily mengatakan jika Ava sempat viral di media sosial. Jika hal itu benar, berarti Ava yang sudah berbohong dan mengada-ada.


Hiko pergi dari sana dengan cukup hati-hati, ia menundukkan wajah yang setengah tertutup oleh Ciput Hoodie hitam yang ia kenakan.


***


Malam ini Cika datang ke rumah kakak sepupunya dengan pakaian khas budaya luar. Elegan namun terbuka. Sehingga buah dadanya yang berisi dan Gemoy itu tampak jelas sebagian. Dan jangan lupakan panjangnya yang hanya sebatas pahha. Sehingga membuat pria manapun jika melihatnya akan memandangnya dengan tatapan lapar.


"Kalau kau seseksi ini, aku kalah, dong," ujar Lily bercanda saat mereka tengah duduk di sofa ruang tamu.


"Hahaha.. kak Ly tenang saja. Seseksi apapun aku, kak Leon mana mungkin tergoda. Kak Ly tetap paling seksi di matanya," ujar gadis itu.


"Apa bawa-bawa namaku?" sahut Leon begitu muncul dari arah belakang.

__ADS_1


"Tidak, tidak ada apa-apa, kak. Aku hanya bilang pada kak Ly, agar tidak insecure lihat penampilanku yang seksi ini. Sebab di mata kak Leon kak Ly terseksai. Aku tidak salah bicara, bukan?"


Leon ikut duduk di samping istrinya.


"Oh tentu. Istriku ini tidak ada yang menandingi pesona keseksiannya. Apalagi kalau sudah siap tempur. Habislah aku di bantai," ujar pria itu membuat Lily mencubit pinggangganya.


"Apaan, sih. Malu tahu."


Chika terkekeh melihat kakak sepupunya itu di hujani cubitan oleh Lily. Tiba-tiba tawanya berubah ganti menjadi senyum takjub begitu melihat sosok pria yang kini berdiri di ambang pintu.


"Assalamu'alaikum.." salam dari seseorang membuat perhatian Leon dan Lily teralih.


"Walaikumussalaam.. Drew, silahkan masuk!" jawab serta perintah Leon.


Pria itu bukannya masuk usai di perintahkan oleh tuannya, ia justru malah mematung di ambang pintu dengan tatapan yang tertuju pada gadis yang mengembangkan senyum padanya.


Ya Tuhan.. Kenapa dia ada di sini? Batin Drew.


"Ayo masuk, Drew! Kita mulai langsung saja makan malamnya," ajak Lily.


Drew pun tersadar dari segala pemikirannya. Ia mengangguk patuh.


"B-baik, terima kasih, nyonya," ucap Drew.


Lily dan Leon lebih dulu pergi menuju ruang makan, di ikuti oleh Chika. Sementara Drew masih mematung di tempat.


Drew menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, serta mengelap keringat dingin yang mulai menetes.


"Kendalikan dirimu, Drew!" ujarnya seraya mengatur deru napas.


Bersambung...


...LIKE, KOMEN, VOTE VOTE VOTE....


^^^Tekan tombol LOVE dan beri HADIAH KOPI^^^


...Follow juga akun media sosialku @wind.rahma...

__ADS_1


__ADS_2