MENGANDUNG ANAK CASSANOVA

MENGANDUNG ANAK CASSANOVA
SURAT UNTUK LEON


__ADS_3

Emely duduk di pojokan dalam sel jeruji besi. Wajahnya tenggelam dalam kedua lutut yang sengaja ia tekuk. Jatah makannya masih utuh tak tersentuh. Entah kenapa ia merindukan masakan Lily.


Wanita paruh baya itu mendongakkan wajahnya. Ia menghirup banyak-banyak oksigen agar tetap bisa bertahan hidup. Sudah dua hari ini ia menahan lapar. Lalu ia putuskan untuk meminjam telepon pada petugas yang berjaga.


"Apa aku boleh pinjam teleponnya sebentar?"


Petugas wanita itu menoleh, lalu menghampiri ke arah sel.


"Dalam satu Minggu, napi di sini bisa menggunakan telepon sebanyak tiga kali. Jika kau mau menggunakannya, silahkan..!"


"Terima kasih," ucap Emely.


Petugas itupun membuka gembok sel, namun dengan penjagaan yang ketat.


Emely meraih telepon di meja penjaga dan mulai menekan tombol seseorang. Baru saja memijat dua angka, ia sudah berhenti.


Aku tidak hafal nomer Leon. Lalu aku harus menghubungi siapa? Batinnya.


"Maaf, aku tidak jadi," ucapnya pada petugas.


"Ya sudah, kalau begitu kau bisa masuk sel lagi."


Emely mengangguk dan masuk ke dalam sel. Saat petugas kembali mengunci gembok sel, ia bertanya satu hal pada petugas tersebut.


"Aku tidak bisa menelepon putraku karena tidak hafal nomernya. Tapi apakah aku bisa mengirim surat untuknya?"


Petugas itu diam sejenak. "Akan coba kami bantu."


Emely mengembangkan senyumnya. "Terima kasih banyak," ucapnya.


"Kalau begitu tunggu sebentar, saya akan ambilkan pulpen dan kertasnya!"


"Iya, baik."


Emely sudah tidak sabar untuk menuliskan pesan melalui secarik kertas. Setelah ia pikir-pikir, membenci Leon ternyata suatu kerugian baginya. Sebab hanya Leon lah yang saat ini ia milikki.


Petugas itu kembali dan memberikan kertas beserta pulpen pada Emely.


"Ini."


"Terima kasih banyak. Terima kasih," ucap Emely lagi sembari menerima kertas dan pulpen tersebut.


Emely kembali duduk di pojokan. Ia memikirkan kata yang pas untuk ia tulis di kertas tersebut. Setelah hampir sepuluh menit ia menulis, ia berikan lagi kertas tersebut pada petugas.


"Aku sudah menulis alamat putraku di sini, tolong antarkan dengan segera!" pinta Emely memohon.


"Baik."


Petugas itu pun pergi membawa harapan terbesar Emely.


Emely berharap Leon segera membaca surat darinya dan cepat datang menjenguk.


***

__ADS_1


Sorenya, Leon baru saja pulang dari kantor. Ia turun dari mobilnya dan hendak melipir masuk ke dalam rumah. Tetapi security rumahnya menghampiri.


"Tuan, ada titipan untuk tuan," security tersebut memberikan sebuah amplop putih panjang majikannya.


"Titipan? Dari siapa?"


"Dari-"


Baru saja security akan mengatakan pengirim titipan tersebut, tetapi urung begitu tuannya menerima telepon.


"Halo, Drew. Ada apa?"


Leon melipir masuk ke dalam rumah, ia meletakan amplop tersebut di dekat guci yang ia beli satu bulan lalu.


Usai menerima telepon dari Drew, Leon langsung masuk ke kamar duduk di sofa.


"Sudah pulang?" tanya Lily begitu baru saja keluar dari kamar mandi.


"Iya, sayang."


"Mau mandi sekarang? Aku siapkan air hangat untukmu, ya."


"Nanti saja!"


Leon menarik lengan istrinya dan membawanya ke dalam pangkuan. Ia memeluk istrinya dari belakang.


"Leon.. aku sedang datang bulan, kau lupa?"


Leon menggesek-gesekan ujung batang hidungnya di bahu Lily. Istrinya ini begitu wangi sehingga ia betah dekat berlama-lama seperti sekarang.


"Jangan kemana-mana, sayang. Tetap di sini..!" pintanya.


Kini ujung batang hidung itu mulai menciumi leher Lily, sehingga menimbulkan sensasi senyar yang menggelikan.


"L-leon.. aku siapkan air hangat dulu ya!"


Lily berusaha menghindar, sebab jika Leon terus berbuat seperti ini, maka ia akan merasa cairan darah haid nya akan semakin banyak mengalir.


Lily merasakan sesuatu yang mengeras di bawah tempat yang ia duduki. Yakni tepat ia duduk di benda pusaka milik suaminya. Jika sudah seperti itu, maka Leon sudah sulit untuk di kendalikan.


"Lihat sini, sayang..!" Leon meminta Lily untuk duduk menghadapnya.


Nada bicara pria itu sudah terdengar beda, jika ia menolak maka Leon akan semakin agresif. Mau tidak mau, Lily pun duduk menghadap Leon masih di atas pangkuannya.


"Leon, aku sedang haid, Leon," kata Lily sekali lagi mengingatkan.


"Tidak apa-apa, sayang. Aku tahu kau sedang datang bulan. Aku hanya ingin bibir dan dadamu saja," jawab pria itu.


Leon menenggelamkan wajahnya tepat di belahan dada Lily. Pria itu mencium dalam-dalam aroma payyudarra Lily. Sementara Lily hanya bisa pasrah saat suaminya sudah seperti sekarang. Cukup nikmati saja.


***


Sementara di tempat kediaman pak Tio. Kampung mereka tengah di hebohkan oleh maling yang membawa lima ekor sapi ternak milik juragan Mongol. Dua orang yang biasa bertugas menjaga kandang sapi berhasil di hajar oleh maling yang berjumlah tiga orang itu.

__ADS_1


"Mungkin itu balasan untuk si Mongol karena dia sudah sempat melecehkan putri kita," ujar pak Tio usai menyeruput kopi di ruang tengah.


"Jangan bicara seperti itu, ayah. Itu gak baik. Ya namanya musibah kan tidak ada yang tahu," sahut Bu Hesti.


"Iya, musibah karena hartanya gak berkah, Bu."


Bu Hesti berdecak. "Ayaaahh.."


Pak Tio menghembuskan napasnya. Melihat jarum jam sudah hampir menunjukan pukul satu dini hari. Beliau kembali mengajak istrinya untuk tidur. Kebetulan ini malam Jum'at, dan kebetulan sudah tidak lama ia mendapat jatah.


"Bu.." panggil pak Tio lirih seraya menarik nurunkan alisnya.


"Apa sih, ayah?"


"Ini malam apa, Bu?"


Bu Hesti terlihat mengingat-ingat sejenak. "Malam Jum'at, yah. Kan tadi kita yasinan selepas shalat magrib," jawab wanita paruh baya itu.


"Selain yasinan, biasanya malam Jum'at ngapain aja, Bu?" tanya pak Tio berusaha memancing.


"Gak ngapa-ngapain. Emangnya ngapain, yah?" Bu Hesti malah balik bertanya.


"Ibu ini, gak peka banget sama ayah," gerutu pak Tio.


"Gak peka apanya sih, ayah? Malam Jum'at itu ya biasanya kita yasinan. Atau kalau enggak kita..."


Bu Hesti menghentikan kalimatnya. Wajah pak Tio berubah senang begitu istrinya ingat apa saja yang biasa mereka lakukan di malam Jum'at.


"Kita tahajjud, yah. Kebetulan kan kita sudah tidur barusan. Kebangun gara-gara rame ada maling," lanjut Bu Hesti.


Senyum pak Tio memudar, ia pikir istrinya itu ingat rutinitas malam Jum'at yang biasa mereka lakukan.


"Ah ibu ini, dasar gak peka..!"


Pak Tio beranjak dari duduknya menuju kamar, meninggalkan Bu Hesti yang masih duduk sendiri di atas kursi ruang tengah.


Bu Hesti membungkam mulutnya tertawa kecil. Sebenarnya beliau tahu akan maksud suaminya. Hanya saja beliau pura-pura tidak tahu, sebab malu sudah tua.


Bu Hesti pun menyusul masuk ke kamar. Begitu masuk, ia mendapati pak Tio sudah terlentang di atas kasur tanpa menggunakan sarung yang beliau tadi pakai alias tellanjaang.


"Astaghfirullah... Ayaaaahh..!!" pekik Bu Hesti.


"Biar ibu gak lupa ingatan," jawab pak Tio dengan begitu santai.


Bersambung...


...Jangan lupa untuk dukungannya ya teman-teman....


...LIKE, KOMEN, VOTE VOTE VOTE...


...Beri HADIAH KOPI...


...Tekan LOVE...

__ADS_1


...Dan follow akun Instagram @wind.rahma...


__ADS_2