
Leon memarkirkan mobilnya di pelataran rumah orang tuanya. Sebelumnya ia sudah menanyakan pada supir pribadi mengenai kondisi mamanya sekarang. Supir pribadi mamanya mengatakan jika Emely belum juga keluar rumah ataupun bekerja.
Leon melangkah masuk ke dalam rumah, ia meniti anak tangga dan berhenti tepat di depan pintu kamar.
Tok tok tok..
"Ma.." panggil Leon lirih.
Tidak ada sahutan dari dalam kamar, Leon mencoba mengetuk pintunya lagi.
"Maaa... Ini aku Leon. Mama ada di dalam kan? Aku boleh masuk?"
Tidak ada sahutan juga. Akhirnya Leon memutuskan untuk langsung masuk saja. Kebetulan pintunya tidak di kunci.
"Ma.."
Leon melangkah lebih dalam, ia tidak menemukan sosok yang ia cari. Sampai akhirnya ia mendengar suara rintihan yang berasal dari kamar mandi.
"To.. Tolong.."
Suara tersebut berasal dari mamanya, Leon melangkah tergesa menuju kamar mandi.
"Ma.. Mama kenapa? Ma.." Leon menggedor-gedor pintu kamar mandi.
"Leon.. Tolong mama..!" pinta wanita itu, suara terdengar seperti orang menahan sakit.
Lantaran pintunya terkunci, Leon pun memutuskan untuk mendobrak pintu kamar mandinya. Tendangan pertama gagal, kedua juga gagal, ketiga kalinya berhasil.
"Mama.." Leon mendapati Emely terduduk di lantai depan wastafel. Ia langsung menghampiri wanita paruh baya itu dan membantu membangunkannya.
Leon memapah mamanya sampai ranjang tempat tidur. Wanita itu Leon baringkan, setengah tubuhnya pria itu selimuti. Leon duduk di tepi ranjang, ia cemas dengan apa yang terjadi.
"Apa yang terjadi, ma?" tanya Leon setelah memastikan mamanya terbaring nyaman.
"Lantainya licin, mama kepeleset," jawab wanita itu sambil masih menahan sakit di bagian bokongnya.
Leon terdiam sejenak, ia merasa kasihan juga melihat mamanya kesakitan seperti saat ini.
"Mau ke rumah sakit?" tawar Leon.
Emely menggeleng. "Tidak perlu," tolaknya.
Leon menghela napas. "Papa kerja?"
"Iya."
__ADS_1
Leon diam sejenak, ia menatap wanita yang sudah melahirkannya cukup dalam. Keheningan mulai menyelinap di antara mereka.
"Jadi siapa yang sudah ada ketika mama sedang butuh bantuan? Papa atau pekerjaan mama?"
Emely terdiam, ia menatap putranya yang tumbuh dewasa tanpa perhatian, kasih sayang, dan didikan darinya.
"Apa kau menuntut pengakuan dari mama, Leon?" Emely bertanya balik.
Leon menyunggingkan bibirnya. "Tidak, ma. Aku rasa mama juga sudah mengakui dalam hati, kalau akulah yang selalu ada di saat mama membutuhkan seseorang. Bahkan papa tidak datang saat mama di rumah sakit kan?"
"Leon-"
"Aku harap mama sadar, kalau dalam keegoisan mama ada seorang anak yang membutuhkan perhatian mama, kasih sayang mama, pelukan mama, dekapan mama, cinta mama, bukan hanya uang."
"Ma, lihat aku sekali saja. Lihat, ma, anakmu sudah tumbuh dewasa. Seharusnya mama bersyukur, aku tidak pernah dendam akan apa yang mama berikan untukku. Bahkan, sedikitpun tidak ada kebencian yang tertanam untuk mama. Setiap hari, aku masih dengan harapanku yang sama. Menunggu mama di meja makan, berharap kita bisa makan bersama. Aku selalu menunggu mama sebelum tidur, berharap mama menemani aku tidur sampai terlelap. Tapi setiap hari aku harus mengubur harapan itu dalam-dalam, setiap hari aku harus menelan kekecewaan. Tapi setiap hari aku masih menciptakan harapan, meski pada akhirnya aku tahu, sia-sia," sambung pria itu.
Tanpa sadar, Emely menitikan air matanya mendengar setiap kata yang di ungkapkan Leon. Tapi ia berusaha mencegah air matanya agar tidak sampai mengalir deras.
"Ok, Leon. Ok. Mama akui kau yang ada di saat mama butuh bantuan. Sekarang katakan, kau butuh imbalan apa?"
Leon menatap mamanya dengan terheran, apa mamanya sama sekali tidak mengerti akan apa yang saja ia ungkapkan. Bahkan mirisnya, mamanya menawari sebuah imbalan.
"Aku tidak tahu hati mama terbuat dari apa, padahal yang aku tahu hati sosok ibu itu lembut, penyayang, tidak seperti mama!"
Leon bangkit dari duduknya kemudian beranjak dari sana.
Leon sama sekali tidak menghiraukan panggilan mamanya, ia benar-benar sudah menyerah untuk membuat hati mamanya luluh dan berperasaan. Tapi semuanya terasa sia-sia begitu saja.
Jika saja saat ini ia belum menikah dengan Lily, mungkin sekarang ia sudah pergi ke klub untuk melampiaskan amarahnya. Menjadikan para wanita sebagai pelariannya.
Sementara di rumah, Lily baru saja akan memejamkan mata untuk beristirahat. Tetapi di luar ada orang yang mengetuk pintunya berulang kali. Ibunya sedang berada di kamar mandi, jadi Lily putuskan dirinya yang membuka pintu.
"Selamat siang, nyonya. Tuan Leon ada di rumah?" tanya seorang pria yang tak lain merupakan Drew.
"Loh, bukannya anda ada janji dengan Leon?"
Drew terlihat kebingungan. "Janji?"
"Iya, Leon tadi pamit pergi karena ada janji denganmu," jawab Lily.
Drew menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, perasaan ia tidak ada janji apapun dengan tuannya. Bahkan semalam tuannya yang meminta agar siang ini ia datang ke rumah tersebut.
"Saya tidak ada janji apapun dengan tuan Leon, nyonya. Justru saya datang kemari karena semalam tuan meminta saya untuk datang ke rumah."
Mendengar jawaban asisten pribadi Leon membuat Lily semakin yakin jika pria itu sedang menutupi sesutu darinya. Tapi apa?
__ADS_1
Lalu kau pergi kemana, Leon? Pikir Lily.
Sementara Drew berpikir mungkin tuannya sedang ada janji dengan wanita lain. Tapi pikiran tersebut segera ia tepis dengan kasar, ia tidak boleh berpikiran yang buruk-buruk. Sebab wanita minggu lalu yang datang ke kantor pun di usir paksa atas permintaan tuannya.
Dari luar gerbang, terlihat mobil Leon memasuki halaman rumah. Lily meminta Drew agar masuk ke dalam rumah, sementara ia berdiri di ambang pintu.
"Tapi, nyonya-" protes Drew.
"Aku butuh kejujuran Leon," pungkas Lily, Drew pun akhirnya menuruti permintaannya.
Leon turun dari mobilnya dengan wajah tampak murung. Tapi begitu melihat Lily berdiri di ambang pintu, ia segera memasang wajah full senyum.
"Kenapa berdiri sini? Menungguku?"
Leon hendak merangkul tubuh Lily, tapi segera di tepis oleh wanita itu. Leon jadi bingung akan sikap Lily.
"Kenapa?"
"Dari mana?" Lily bertanya balik.
"Tadi kan aku sudah bilang, aku ada janji dengan Drew," jawab Leon dengan penuh percaya diri.
"Sungguh?"
"Iya, memangnya kenapa?"
"Apa benar begitu, Aspri Drew?" tanya Lily setengah berteriak, tentu saja hal itu membuat Leon terheran.
"Tanya siapa?" Leon mulai panik.
Tiba-tiba Drew muncul dari dalam rumah, Leon semakin ketar-ketir karena ketahuan bohong.
"Drew?"
Leon menoleh ke belakang, ia tidak menyadari ada mobil asistennya terparkir di sana.
"Maaf, tuan. Saya datang kesini atas permintaan tuan semalam," ucap Drew.
"Beneran tukang bohong, kan?" kata Lily, ia tidak habis pikir jika Leon berani membohongi dirinya.
"Lily, aku bisa jelaskan padamu. Ly.." Leon berusaha mengejar langkah Lily yang kini sudah duluan masuk ke dalam.
Bersambung...
...Jangan Lupa untuk tekan LOVE agar masuk ke daftar favorit kalian. Supaya kalian dapat notifikasi ketika bab selanjutnya di publish. ...
__ADS_1
...Tong hilap HADIAH kopi-na juga, ya, hehehe. ...