
Mobil yang Xander kendarai berhenti di sebuah Apatemen miliknya. Dari kedua Apartemennya yang lain, ia tidak menemukan keberadaan Emely. Ia berharap bisa menemukan Emely di Apartemen ini.
Kata security di sana, Emely tidak pernah datang lagi ke Apartemen tersebut setelah dua bulan terakhir. Tetapi Xander tidak percaya begitu saja sebelum ia yang cek senditi. Tapi ternyata Emely memang tidak ada di sana. Kini ia harus pergi rumah Villa, dan yang terakhir rumahnya yang lain.
Seharian penuh Xander mencari keberadaan istrinya, tetapi wanita itu tetap tidak di temukan. Berulang kali ia menghubungi nomer Emely, tetapi rupanya Emely sudah memblokir nomernya.
"Aaaarrrghhh.. SIAAAL..!!" umpat Xander seraya menendang ke sembarang arah.
Saat ini sedang berada di depan rumah Villa, tempat pencarian terakhirnya.
"Aku tidak bisa mencari keberadaan Emely sendiri, aku harus meminta beberapa orang kepercayaanku untuk ikut turun tangan," ujarnya.
"Leon," tiba-tiba saja nama putranya melintas dalam pikiran Xander.
"Iya, Leon pasti tahu keberadaan Emely," pikirnya.
"Aku harus bertemu dengan Leon sekarang."
Xander hendak kembali masuk ke dalam mobilnya, tapi urung begitu ia mengingat apakah Emely sudah menyebarkan identitasnya atau belum di media sosial.
"Jangan sampai Emely membuka identitasku," Xander membuka berita terkini terkait video pelakor yang sedang viral di media sosial.
"Aman.." ucapnya begitu tidak menemukan berita mengenai siapa pria di balik beredarnya video tersebut.
Xander bergegas masuk ke dalam mobilnya, ia melajukan mobil keluar dari area pelataran Villa.
***
Leon menghubungi Lily jika malam ini ia tidak bisa pulang. Meski Lily mengharapkannya pulang dengan alasan khawatir, Leon tetap tidak bisa pulang.
"Aku minta maaf, sayang. Tahan dulu rindunya sebentar, ya!" kata Leon dari sambungan telepon.
"Iiihh.. Rindu apaan, sih. Aku itu cemas tahu gak?" sangkal Lily.
"Sedikit cemas banyak rindunya, iya kan?" goda Leon.
Lily diam sambil menahan senyum. Jujur, ia memang tidak bisa jauh-jauh dari Leon sekarang. Terlebih keadaan suaminya di luaran sana sedang tidak aman.
"Kenapa diam? Benar kan apa yang aku katakan?"
__ADS_1
Lily terbangun dari lamunannya. "Iya," jawabnya tanpa sadar. "Eh, e-enggak. Bukan begitu."
Terdengar Leon tertawa di sebrang sana.
"Nanti aku akan ganti rindumu dengan bersenang-senang sepanjang malam. Deal?"
Lily bergeming. Ia benar-benar mencemaskan Leon sekarang.
"Ly.." panggil Leon.
"Iyaaa.." jawab Lily sedikit malas.
"Aku janji akan segera menuntaskan masaah keluargaku. Aku harap kau tidak mencemaskanku terlalu lebih. Percaya saja, aku bisa jaga diri baik-baik," ucap Leon berusaha menenangkan perasaan istrinya yang kalut.
"Iya. Ya sudah kalau begitu, aku mau istirahat."
"Iya, sayang," jawab Leon sebagai kalimat penutup telepon tersebut.
"LEOOOOOOONNN...!"
Lily membulatkatkan matanya mendengar teriakan berasal dari suara yang asing baginya di deti-deti terakhir Leon mematikan sambungan teleponnya.
"Leon.. Leon.." panggil Lily berulang kali, tapi sayangnya Leon benar-benar sudah mematikan teleponnya.
"Itu bukannya suara papanya Leon?" gumam Lily di antara cemas dan rasa takut.
Lily kembali menelepon Leon, tetapi kali ini nomer suaminya berubah tidak aktif. Kekhawatirannya kian menjadi. Ia khawatir sesuatu buruk menimpa pada suaminya.
"Ya Allah.. Jauhkanlah suamiku dari hal-hal yang buruk.." Lily memanjatkan do'a pada sang pencipta.
***
Leon terperanjat mendapati papanya datang ke kantornya. Pasalnya ia malam ini berencana untuk bermalam di kantornya saja. Tetapi ternyata papanya sampai datang ke sana.
"Papa.." ucap Leon lirih.
Leon melihat layar ponselnya memastikan jika sambungan telepon dengan istrinya sudah terputus. Ia khawatir Lily mendengar suara teriakan papanya.
"Cepat katakan dimana mamamu sekarang?!" seru Xander.
__ADS_1
Leon berusaha tenang dan tidak terpancing oleh papanya.
"Kenapa tanya padaku? Bukankah baik papa maupun mama tidak memperdulikan aku? Kenapa aku harus memperdulikan keberadaan mama?" balas Leon.
Xander hampir termakan begitu saja oleh jawaban Leon. Tetapi sedetik kemudian ia menganggap jika Leon tengah membodohi dirinya.
"Jangan bohong! Pasti kau kan yang memberi tahu mamanya soal wanita itu? Dan papa juga yakin kau pun tahu dimana tempat persembunyian mamamu sekarang. Cepat katakan!" pinta Xander memaksa.
"Lalu apa untungnya aku memberi tahu mama? Apa untungnya aku menyembunyikan tempat dimana mama berada? Toh, hal itu tidak akan membuat aku mendapatkan perhatian kalian. Jadi stop bertanya padaku!" balas Leon tak kalah tegas.
"Ohhh.. Begitu. Baiklah jika kau maunya begitu. Jika istrimu hilang, jangan pernah tanyakan pada papa dimana keberadaan istrimu!" ancam Xander.
"Ok, silahkan!" Leon tidak takut.
Xander pun pergi, akhirnya Leon bisa bernapas sedikit lega. Tetapi meski demikian, ia harus ekstra hati-hati. Ia akan meminta Lily untuk tidak kemana-mana. Tetap berdiam diri di rumah.
Sementara di tempat lain, Emely pasti tahu saat ini suaminya tengah gencar mencari keberadaannya. Beruntungnya Xander tidak tahu rumah peninggalan ibunya. Jadi, Xander tidak bisa dengan mudah menemukan keberadaannya.
Emely sedang memantapkan diri untuk membuka identitas suaminya di publik. Dengan video yang sempat Leon ambil ketika wanita selingkuhan suaminya mencium Xander di depan rumah. Tetapi ia juga masih di terpa keraguan, lantaran itu sama saja dengan membuka aibnya sendiri.
Semua orang pasti akan tahu aib rumah tangganya. Dan Emely belum siap menerima komentar banyak orang.
"Aku akan mengunggah video ini jika waktunya mendesak saja," putus Emely.
Emely membaringkan tubuhnya, ia membuka foto-foto lama di album galeri ponsel. Ternyata di sana tidak terdapat foto-foto kenangan bahagia atara dirinya dengan suami, begipula dengan putranya.
Yang ia miliki hanyalah satu foto saat pernikahan, dan satu foto lagi ketika Leon masih bayi. Tidak ada kenangan terindah lainnya selain itu. Ia sadar jika waktunya di habiskan begitu saja hanya untuk masalah pekerjaan. Bahkan dengan uang yang saat ini ia miliki, ia tidak bisa membeli waktu agar ia bisa kembali ke masa dimana ia baru saja menikah dengan Xander.
Emely memperbesar foto Leon saat bayi, ia mencium foto bayi tersebut cukup dalam. Andai ia bisa kembali ke waktu itu, ia akan memilih untuk menjadi ibu rumah tangga saja dan mengurus Leon hingga tubuh sedewasa sekarang. Sayangnya itu tidak bisa. Tapi yang masih bisa ia syukuri, Leon sama sekali tidak tunbuh membencinya.
"I LOVE YOU MY SON, LEONARD BAGASKARA. "
Tanpa sadar, air mata Emely menetes.
Bersambung...
...Tinggalkan jejak LIKE, KOMEN, VOTE, dan HADIAH sebanyak-banyaknya. Tekan LOVE untuk menambahkan ke list favorit. ...
...Follow juga kun media sosialku @wind.rahma...
__ADS_1