MENGANDUNG ANAK CASSANOVA

MENGANDUNG ANAK CASSANOVA
Happy Birthday Leon


__ADS_3

Leon langsung pulang begitu pekerjaannya hari ini sudah selesai. Di jalan, ia bertemu dengan pedagang kue crepes, ia pun lekas membeli kue tersebut untuk Lily. Istrinya pasti akan sangat senang jika ia membelikan kue kesukaannya.


Kebetulan jalanan hari ini tidak terlalu macet, sehingga ia dengan cepat sampai ke rumah. Mobilnya kini sudah memasuki pelataran rumah yang luas.


"Tuan, di dalam ada.." pak security tidak melanjutkan kalimatnya. Hal tersebut menciptakan kerutan dalam di kening Leon.


"Ada? Ada siapa?"


"Mmmm.." pak security tampak kebingungan,ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Perasaan Leon sedikit tidak tenang, ia langsung melangkah masuk ke dalam rumah.


"Sayang... Aku pulang..! Sayang..." teriak Leon, namun tidak jawaban.


Leon melihat ada bi Ratih melintas tidak jauh dari tempat berdirinya, ia langsung memanggil asisten rumah tangganya itu.


"Bi, istriku mana?"


"Nyonya Lily ada di kamarnya. Nyonya sedang bersama..-" bi Ratih pun tidak melanjutkan kalimatnya.


Wanita paruh baya itu membungkam mulutnya, hal tersebut semakin membuat perasaan Leon semakin di selimuti rasa penasaran.


Akhirnya Leon pergi meninggalkan bi Ratih menuju kamarnya. Tanpa mengetuk terlebih dahulu pintu kamar, Leon langsung menerobos masuk begitu saja.


"Sayang.." panggil Leon.


Ia masuk ke kamarnya, namun entah kenapa ruang kamarnya gelap sekali.


"Ly.." panggil Leon sekali lagi.


Tiba-tiba saja lampu di nyalakan.


"SURPRISEEE...!!!" ucap Lily dan Chika secara serempak.


"Happy birthday to you.. Happy birthday to you.. Happy birthday happy birthday, happy birthday to you.."


Lily berdiri tepat di depan Leon, wanita itu membawa kue tar di tangannya. Chika segera menyalakan lilin angka usia Leon yang ke dua puluh lima.


Leon menatap istrinya dengan senyum haru, lalu berganti menatap adik sepupunya itu.


"Kau masih ingat ulang tahunku?"


"Tentu saja. Kalau bukan aku, siapa lagi?" balas Chika.


Leon tersenyum. "Terima kasih. Terima kasih juga istriku," ucap Leon.


"Sama-sama. Kalau begitu tiup dulu lilinnya..!"


"Iya."

__ADS_1


Leon hendak meniup lilin tersebut, tetapi Chika segera mencegahnya.


"Tunggu tunggu..!" cegah wanita itu. "Kak, berdo'a dulu, dong. Buat lagi banyak harapan," kata Chika mengingatkan.


"Aku sudah tidak mengharapkan apapun lagi, aku sudah memiliki apa selama ini aku inginkan. Yaitu, wanita yang saat ini ada di depanku," ujar pria itu seraya menatap ke arah Lily.


Chika memutar bola matanya. "Yaelah.. iya deh iya.. Aku hanya ingatkan kakak saja. Kalau begitu langsung tiup saja lilinnya..!"


"Ok."


Leon pun meniup lilin angka usianya itu. Chika bersorak tepuk tangan.


"Yeeeee... Happy birthday ya, kak Leon," ucapnya kemudian.


"Makasih, gemoy."


"Selamat ulang tahun juga, suamiku. Semoga panjang umur, di sehatkan selalu, di mudahkan rejekinya, dan hubungan rumah tangga kita langgeng sampai maut memisahkan," ucap serta do'a Lily untuk Leon.


"Aamiin... Terima kasih, sayang. Terima kasih. Terima kasih untuk semuanya, ya."


"Iya, sama-sama."


Mereka saling bertatapan cukup lama, hingga membuat Chika merasa jadi obat nyamuk di sana.


"Hem Hem Ehemmmzzz.." wanita itu berdeham pura-pura batuk untuk menyadarkan dua sosok manusia yang tak menganggap kehadirannya.


"Makanya cari jodoh," sindir Leon seraya mengusapkan krim kue ke ujung batang hidung adik sepupunya itu.


Chika membalas Leon dengan mengusapkan krim kue ke pipinya. Hingga mereka saling mengusapkan krim kue tersebut, Lily pun ikut kena.


Kedua wanita itu sama-sama menyerang Leon. Sampai Leon menyerah meminta ampun.


Usai main usap-usapan krim kue, mereka duduk di sofa ruang tamu. Lily meminta bi Ratih untuk membuatkan mereka minuman dingin.


"Padahal mah kue-nya buat bibi aja atuh, nyonya. Kan mubajir jadi gak kemakan," ujar bi Ratih saat menyodorkan minuman.


"Tahu tuh kak Leon. Aku mahal-mahal beli malah di buat mainan," sunggut Chika.


"Cuma seratus ribu doang, kan?" ucap Leon meremehkan.


"Enak aja, mana pernah aku beli yang murah. Lagipula seratus ribu juga kan uang," balas Chika.


Leon terkekeh jika Chika sudah sudah tampak kesal seperti itu, Lily pun senang dengan kehadiran Chika di rumahnya.


"Non Chika teh orangnya asik juga ya kayaknya, rame atuh kalau non Chika tinggal di sini," sahut bi Ratih.


"Dia orangnya bawel, makanya rumah gak bakal sepi kalau ada dia," jawab Leon.


"Enak aja bawel..!" sunggut Chika.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu bibi ke belakang lagi aja ya," pamit bi Ratih.


"Iya, bi," jawab Lily.


"Oh ya, omong-omong kau tiba di Tanah Air ini kapan?" tanya Leon setelah beberapa saat mereka diam untuk meneguk minuman dingin barusan.


"Kemarin," jawab Chika. "Padahal aku sibuk loh di sana, tapi sebisa mungkin aku luangkan waktu untuk surprise-in kakak sepupu aku yang paling nyebelin ini.”


Leon mengacak pangkal rambut wanita itu. "Terima kasih, ya."


"Iyaaaa.. Sama-sama."


"Oh ya, om Xander dan Tante Emely gak ada ngucapin ulang tahun lagi buat kak Leon?" tanya Chika kemudian.


Leon melirik sekilas pada istrinya, ia memang belum ceritakan masalah ini pada Chika. Dan sebaiknya ia tidak ceritakan dulu, sebab ini adalah hari kebahagiaannya. Ia tidak ingin merusak momen.


"Oh ya, sayang, tadi aku belikan kue crepes untukmu. Tunggu sebentar, ya, aku ambil di mobil."


Leon beranjak dari sana, kening Chika tiba-tiba berkerut. Kenapa kakak sepupunya itu tidak menjawab pertanyaannya. Atau mungkin kakak sepupunya itu tidak ingin membahas tentang kedua orang tuanya. Sebab setiap tahun pun mereka tidak pernah ada untuk sekedar mengucapkan ulang tahun pada anaknya.


Tidak berapa lama, Leon kembali dan memberikan kantong plastik berisi kue crepes itu pada istrinya.


"Kak Ly doang yang di beliin? Untukmu mana?"


"Mana tahu aku kau ada di sini," jawab Leon membuat adik sepupunya itu memanyunkan bibir.


"Ini, coba deh, enak tahu," Lily membagi kue crepes tersebut pada Chika.


"Beneran enak?" tanya Chika tidak yakin.


"Coba aja dulu..!"


Chika pun mengambil satu kemudian menggigitnya. Dan benar, begitu masuk ke dalam mulut membuatnya nagih.


"Aku boleh minta lagi, gak?"


"Tidak..!" jawab Leon.


Chika memanyunkan lagi bibirnya, meski Leon hanya sekedar bercanda. Leon mencubit kedua pipi chubby Chika dengan gemas sampai wanita itu kini di buat benar-benar kesal sekarang.


"Menyebalkan..!!" seru Chika.


"Aku tidak perduli. Sebab menyebalkan begini pun istriku cinta tetap sama aku. Benar kan, sayang..?"


"Hm," jawab Lily membenarkan.


Bersambung...


...Jangan lupa LIKE, KOMEN, VOTE VOTE VOTE, dan HADIAH POIN/KOIN. Tekan juga LOVE ya teman-teman supaya kalian itu dapet notifikasi ketika bab selanjutnya publish....

__ADS_1


...Jangan lupa follow ig @wind.rahma...


__ADS_2