MENGANDUNG ANAK CASSANOVA

MENGANDUNG ANAK CASSANOVA
KEJUTAN


__ADS_3

Di tengah makan malamnya yang di selingi canda tawa, tiba-tiba ada seseorang yang menggedor pintu rumahnya cukup keras. Lily memandang ke arah Leon dengan rasa takut.


"Leon, itu siapa..?"


Leon menggeleng. "Aku tidak tahu. Kau tunggu saja di sini, ya, biar aku yang ke depan!"


Lily mengangguk. Leon pun beranjak dari sna guna membukakan pintu yang baru saja di ketuk dengan sangat keras oleh tamu yang datang malam-malam ini.


Begitu pintunya Leon buka, muncul sosok pria paruh baya di baliknya. Pria itu menghunuskan tatapan penuh amarah.


"Ayah.."


"Kenapa tidak ajak ayah untuk hajar Hiko..?" seru pria paruh bayu sambil menahan amarah.


Leon mengerutkan keningnya. "Jadi, ayah-"


"Iya, ayah tahu karena video perkelahian kalian sudah tersebar di media sosial. Ayah sangat geram begitu Hiko mengatakan sudah mencicipi. Apa maksudnya? Jelaskan pada ayah bagaimana cerita sebenarnya?"


Leon menghela napas, ia mengajak ayah mertuanya untuk masuk ke dalam rumah lalu mempersilahkannya untuk duduk di sofa ruang tamu.


.


"Awalnya aku juga tahu dari Drew, ayah. Tadi sih Lily sempat cerita, kalau laki-laki itu ternyata memiliki perasaan untuknya. Jadi begitu dia tahu asal mula pernikahan kami, dia berpikir kalau dia lebih cocok untuk jadi suami Lily, bukan aku. Setelah mengungkapkan perasaannya, dia dengan berani mencium Lily," jelas Leon apa adanya.


"Kurang ajar..!" maki pak Tio. "Ayah tidak menyangka kalau Hiko akan berbuat kurang ajar pada putri ayah."


"Kalau saja tadi kamu ajak ayah buat hajar dia sama-sama, ayah pasti akan dengan senang hati melakukannya," imbuh pak Tio.


Sementara di ruang makan, Lily tidak mendapati Leon kembali lagi ke sana. Ia jadi penasaran, siapa tamu yang datang malam-malam ke rumahnya itu.


"Aku coba cek ke depan aja deh," ujarnya lalu beranjak dari sana.


"Kalau dia berani lagi macam-macam dengan Lily, jangan segan-segan untuk bicarakan pada ayah. Sebab ayah pun tidak akan tinggal diam mendengar putri ayah di sakiti," pinta pk Tio pada Leon.


"Ayah.." panggil Lily lirih begitu sampai di ruang tamu.


Leon dan pak Tio menoleh, Lily ikut bergabung duduk di antara mereka.


"Sayang.." pak Tio memeluk tubuh Lily, wanita itu sedikit terheran.


"Ayah.. Ada apa? Ibu mana?" tanya Lily begitu pak Tio sudah melepaskan pelukannya.


Pak Tio terdengar menghembuskan napas. Ia menatap wajah putrinya dengan jarak yang cukup dekat.


"Ayah minta kamu jangan berhubungan lagi dengan dia, ya!"


Permintaan pak Tio membuat Lily sedikit tidak paham. "Dia?"

__ADS_1


"Hiko," jawab pak Tio memperjelas.


Lily sedikit terkejut, rupanya ayahnya sudah tahu juga tentang kejadian hari ini.


"Ayah tahu dari mana? Apa ibu juga tahu?"


Pak Tio menganggukan kepalanya. "Ibu sama ayah tahu dari tetangga, katanya menantu ayah berkelahi sampai tersebar di media sosial."


"Maaf sudah membuat ayah sama ibu khawatir. Ibu pasti cemas di rumah," ucap Lily.


"Bukan kamu yang salah, nak. Dia yang kurang ajar. Maka dari itu, stop untuk berhubungan dengan dia, meski sebagai teman..!" pinta pak Tio menegaskan.


Lily mengangguk. "Iya, ayah."


"Tapi untuk kejadian ini, apakah rumah tangga kalian baik-baik saja?" pak Tio menatap putri dan menantunya secara bergantian.


"Baik, baik ayah. Kita baik-baik saja. Benar kan, Leon?"


Leon menganggukan kepalanya.


"Sungguh?" tanya pak Tio memastikan.


"Ayah tenang saja, aku tahu ini bukan salah Lily. Jadi, aku tidak ambil emosi dengan menyalahkan istriku sendiri," tutur Leon.


"Bagus kalau begitu. Ayah harap hubungan kalian bisa lebih baik lagi."


"Iya, terima kasih, ayah."


"Aku belum sempat kesana lagi, tapi minggu depan sidang keputusan hakim akan segera di gelar," sahut Leon.


"Ayah harap orang tua kamu itu bisa jera dengan hukuman yang akan di berikan hakim nantinya."


"Iya, aku juga berharap demikian."


Lima belas menit pak Tio berada di sana, akhirnya beliau memutuskan untuk pulang. Leon dan Lily mengantar pak Tio sampai depan rumah.


"Selalu ingat pesan ayah, ya, nak Leon..!" ucap pak Tio mengingatkan, Leon pun mengangguk.


"Iya, ayah bisa hukum aku sesuka hati ayah jika aku sampai menyakiti Lily."


Pak Tio tersenyum. "Ayah harap tidak sampai terjadi. Ya sudah, kalau begitu ayah pulang, ya. Kasihan ibu di rumah, takutnya ada yang godain," ujar pria paruh baya itu.


Leon dan Lily tersenyum.


"Assalamu'alaikum," pamit pak Tio kemudian melajukan sepeda motornya.


"Walaikumussalaam.. Hati-hati, ayaah..!"

__ADS_1


"Iyaaa.."


***


Seorang wanita dengan kaca hitam yang terpasang berdiri di depan sebuah rumah besar milik Xander yang kini sudah di segel oleh polisi.


Ia membuka kaca mata hitamnya lalu tersenyum menyeringai.


"Aku tidak akan pernah menyerah untuk dapatkan Leon. Terlepas video-ku yang sudah tersebar luas itu, aku tidak perduli," ujarnya.


.


Wanita tersebut kembali memasang kaca matanya, lalu bergegas pergi dari sana.


Sementara di tempat lain, Lily sedikit merasa takut begitu ada seseorang yang mengetuk pintu rumahnya pagi-pagi. Mana Leon sudah berangkat ke kantor. Bi Ratih sedang keluar untuk berbelanja untuk kebutuhan dapur.


Lily menarik napas panjang, kemudian mengeluarkannya dari mulut secara perlahan.


"Tenang, Ly. Tenang. Kamu gak usah takut, lagipula pak security tidak akan sembarang lagi membukakan pintu gerbang untuk orang asing," ujarnya berusaha meyakinkan diri sendiri.


Perlahan Lily melangkah ke arah pintu, ia buka pintu tersebut dengan mata terpejam.


"Surpriseeee...!!" seru seorang wanita dengan membawa kue di telapak tangannya.


Lily membuka kedua matanya, ternyata adik sepupu Leon yang datang. Seketika senyum di bibir Chika menghilang.


"Loh, kak Leon nya kemana, kak?" tanya Chika sembari mencari sosok yang ia niat beri surprise.


"Leon sudah berangkat ke kantor barusan. Jadi hari ini ulang tahunnya?" jawab serta tanya Lily.


"Iya, kak Ly."


"Oh ya, aku benar-benar tidak tahu. Tapi omong-omong kok kamu bisa di sini? Bukannya sudah kembali ke Prancis?"


Chika tersenyum "Jadi aku nggak di suruh masuk dulu nih..?"


"Oh iya iya maaf. Ayo masuk..!"


Lily dan Chika duduk di sofa ruang tamu, wanita itu memadamkan dulu api di lilin angka usia Leon kemudian menaruh kue-nya di meja.


"Iya aku emang udah kembali ke Prancis, kak. Tapi kemarin aku balik lagi ke sini untuk kasih kejutan buat kak Leon. Setiap tahun aku surprise-in dia, karena cuma aku saat itu yang paling ngertiin kak Leon. Sedangkan orang tuanya? Aku yakin kak Ly pun sudah tahu lah gimana keluarganya itu," terang Chika.


Lily mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. "Kalau begitu, gimana kalau kita nanti surprise-in Leon sma-sama?" usul Lily.


"Iya, aku setuju."


Bersambung...

__ADS_1


...Jangan lupa HADIAH KOPI ya teman-teman. ...


...Yuk, follow ig aku @wind.rahma...


__ADS_2