
Seminggu pasca operasi, Emely sudah sedikit lebih baik dari sebelumnya. Leon jadi tidak tega jika mamanya harus kembali ke lapas. Pasalnya, luka mamanya belum sepenuhnya sembuh. Ia jadi berpikir untuk mencari pengacara agar bisa membebaskan atau setidaknya meringankan hukuman mamanya itu.
"Aku turut prihatin atas meninggalnya tuan Xander dan juga sakitnya nyonya Emely, tuan Leon. Semoga tuan bisa sabar dan kuat menghadapi cobaan ini," ujar Drew, pria itu sudah kembali kemarin.
"Terima kasih, Drew. Terima kasih karena kau juga yang selalu membantuku," balas Leon.
"Ya, tuan. Oh ya, ini aku bawakan buah untuk nyonya Emely. Semoga nyonya Emely cepat sembuh dan sehat seperti semula." Drew memberikan parsel buah pada Leon.
"Terima kasih banyak, Drew."
"Sama-sama, tuan."
Leon menaruh parsel buah pemberian Drew di atas kursi besi yang ada di sampingnya. Sebab saat ini mereka sedang duduk di deretan bangku besi yang ada di depan ruang kamar rawat inap Emely.
"Oh ya, aku tiba-tiba saja kepikiran untuk menyewa pengacara agar mamaku bisa segera di bebaskan, Drew. Menurutmu bagaimana?"
Drew mengangguk. "Iya, tapi kalau menurutku, nyonya Emely tidak bisa bebas begitu saja, tuan. Hanya saja, mungkin hukumannya bisa di ringankan. Kita bisa ajukan naik banding," usul Drew.
"Iya, aku setuju. Kalau begitu, aku minta kau untuk mencari pengacara terbaik!"
"Baik, tuan. Aku ada beberapa kenalan pengacara, nanti aku akan hubungi salah satu dari mereka."
"Bagus."
"Kalau begitu, aku pamit pergi, tuan. Salam untuk nyonya Emely." Drew bangkit dari duduknya begitupula dengan Leon.
"Iya."
__ADS_1
Leon mematung untuk beberapa saat, sampai akhirnya ia masuk ke dalam ruang rawat inap mamanya dengan membawa parsel yang tadi Drew berikan.
***
"Ada pekerjaan apalagi dari kak Leon?" tanya Chika pada saat ia tengah makan siang bersama Drew.
Drew mengunyah terlebih dahulu makanan di dalam mulutnya, sebelum akhirnya ia menjawab pertanyaan Chika.
"Mencari pengacara untuk nyonya Emely," jawab Drew singkat lalu kembali menyuap makanan ke dalam mulut.
"Tante Emely mau di bebaskan?" tanya Chika lagi.
"Hanya untuk meringankan hukumannya, kalau langsung bebas tidak akan bisa," jawab Drew.
Chika mengangguk-anggukan kepalanya.
"Oh ya, besok aku ada reuni teman SMA. Kau mau ikut?" ajak Chika.
Chika mengangguk membenarkan. "Iya, ada. Bahkan angkatanku lebih banyak laki-laki di banding perempuan."
Drew meneguk salivanya dengan susah payah. Entah apa yang sedang ada di dalam pikiran pria itu. Tapi, kalimat ajakan Chika barusan kini sedikit mengganggu pikirannya.
"Jadi bagaimana, kau mau ikut?"
"A-aku .. aku tidak bisa. Aku harus mencari pengacara dan masih banyak kerjaan lainnya," tolak Drew.
"Oh, ya sudah kalau begitu. Biar nanti aku bareng temanku saja."
__ADS_1
"Teman? Siapa?"
"Entah. Nanti tunggu siapa saja yang mau bareng denganku."
Drew menghela napas, entah kenapa ia sedikit mengkhawatirkan sesuatu jika Chika ikut reuni dengan teman lamanya.
"Nanti biar aku antar saja ke tempat reuni-nya. Terus nanti kalau sudah selesai, biar aku yang jemput," ucap Drew lirih hampir tak terdengar.
"Ya sudah kalau begitu ikut saja, lagipula tidak lama, kok. Sekitar dua sampai tiga jam saja," ajak Chika lagi.
"Memangnya tidak apa-apa kalau aku ikut?"
"Tidak apa-apa. Banyak juga yang bawa pasangan, pacar, suami, istri, mungkin ada juga yang bawa anak."
Drew diam untuk beberapa saat.
"Kalau nanti mereka ada yang ada aku siapa, kau jawab apa?"
Chika mengulum senyum mendapat pertanyaan demikian.
"Aku bisa jawab kau ini calon suamiku. Bagaimana, apa kau tidak keberatan?"
"Iya, tidak apa-apa. Its ok."
"Itu artinya, kau tidak keberatan jadi calon suamiku sungguhan?"
Drew tampak salah tingkah oleh jebakan pertanyaan Chika. Ia berusaha mengalihkan perhatian juga tidak lagi berani menatap Chika.
__ADS_1
Chika hanya geleng-geleng dan senang melihat tingkah Drew yang lucu baginya. Ia sengaja menatap wajah Drew selama mereka makan, hal tersebut membuat hati Drew semakin tidak karuan.
Bersambung ...