MENGANDUNG ANAK CASSANOVA

MENGANDUNG ANAK CASSANOVA
BISNIS GELAP MAFIA


__ADS_3

"Katakan, hal penting apa yang ingin kau bicarakan, Drew!" pinta Leon begitu dirinya sudah duduk berhadapan di sebuah kursi meja kafe tempat mereka saat ini ketemuan.


Drew memberikan beberapa berkas yang ada di atas meja pada tuannya.


"Aku menemukan berkas tentang bisnis gelap yang selama ini di jalankan oleh tuan Xander, tuan," jelas pria itu.


Leon terbelalak. "Bisnis gelap?"


"Betul, tuan."


Leon terdiam sejenak. Ia betul-betul tidak tahu jika selama ini papanya menjalankan sebuah bisnis gelap. Dan apakah itu artinya mamanya juga tahu dan terlibat?


"Dan aku pikir, tuan Xander bekerja sama dengan sekelompok mafia yang juga menjalankan sebuah bisnis rahasia, tuan," sambung Drew.


"Bisa jadi, Drew. Sebab tidak mungkin papaku menjalankan bisnis ini sendiri, dan yang aku khawatirkan saat ini, mamaku ikut terlibat."


"Itu artinya nyonya Emely pun akan ikut terseret jika tuan Xander kita laporkan ke polisi demi menghentikan aksi pencarian nyonya Emely?"


"Papaku sudah berada di kantor polisi, Drew," ujar Leon membuat Drew sedikit terkejut.


"K-kenapa?"


"Papa di seret warga ketika akan membawa istriku secara paksa," jelas Leon.


"Kalau begitu, apakah kita masih perlu untuk membongkar bisnis gelap ini, tuan?" tanya Drew kemudian.


"Seertinya untuk saat ini kita tahan dulu saja, aku akan memastikan apakah mamaku ikut terlibat dalam bisnis gelap ini."


"Baik, tuan."


Leon membuka berkas-berkas yang Drew dapatkan dari kantor perusahaan yang di pimpin oleh Xander. Jadi ia mengaku di tugaskan oleh Emely untuk mengambil sebuah dokumen yang akan di bawa meeting keluar kota. Beruntungnya rencananya itu lancar tanpa mengalami kendala sedikitpun.


***


Usai bertemu dengan Drew, malamnya Leon pergi ke tempat persembunyian mamanya. Ia turun dari mobil dengan membawa berkas-berkas yang di dapat oleh Drew tadi.


Baru satu ketukan, Emely sudah membuka pintu begitu melihat putranya yang datang.


"Leon.. Akhirnya kau datang lagi untuk mama, sayang," ujar wanita paruh baya itu merasa senang.


Tanpa basa-basi, Leon langsung meletakan berkas-berkas itu di meja ruang tamu.


"Jelaskan padaku, ma. Apa mama terlibat dalam bisnis gelap yang selama ini papa jalankan?"


Mendengar pertanyaan Leon membuat wajah Emely seketika menegang.

__ADS_1


"B-isnis gelap apa maksudmu, Leon? Kau menuduh mama?" Emely kelihatannya panik sekali dan merasa tidak terima.


"Aku bukan menuduh, ma. Aku bertanya. Kenapa mama harus ketakutan? Apa mama benar-benar tahu soal bisnis gelap itu?" seru Leon membuat Emely merasa tersudutkan.


"Jangan sembarangan, Leon. Mama tidak tahu-menahu soal bisnis itu!" Emely terud berusaha menampik tuduhan Leon.


"Aku akan sangat kecewa dengan mama jika mama memang ikut terlibat," ungkap pria itu.


Emely duduk mendekat di samping putranya. Ia berusaha meyakinkan Leon agar mau percaya kalau ia sama sekali tidak tahu mengenai bisnis gelap yang di jalankan suaminya.


Emely meraih buah tangan Leon dan berusaha bicara selembut mungkin.


"Leon.. Percaya pada mama, mama berani bersumpah, mama sama sekali tidak terlibat dalam bisnis gelap itu. Justru mama baru tahu darimu sekarang."


Kedua mata Leon memicing menatap kedua bola mata mamanya cukup lekat.


"Baguslah kalau begitu. Aku akan melaporkan bisnis gelap papa ini pada pihak berwajib," ujar pria itu.


"Jangan..!" seru Emely.


Mendengar seruan mamanya membuat Leon terheran tapi kalimatnya berhasil membuat mamanya masuk perangkap umpan.


"Kenapa, ma?"


Kini Emely merasa serba salah. Jika ia mengatakan jujur pada Leon soal dirinya memang menjalankan bisnis gelap itu bersama Xander, Leon pasti akan sangat kecewa padanya.


Leon tidak bisa percaya begitu saja dengan ucapan mamanya. Ia yakin jika mamanya memang ikut dalam bisnis gelap tersebut.


"Aku akan tetap melaporkan kejahatan papa, ma. Dengan begitu, papa tidak akan memiliki kesempatan lagi untuk bebas apalagi sampai menyuap para oknum dengan harta yang papa miliki saat ini."


Leon hendak beranjak dan mengambil berkas tersebut untuk di jadikan sebagai barang bukti, tetapi Emely lebih cepat mengambil berkas tersebut.


"Tidak, Leon! Jangan nekad!" Emely menyembunyikan berkas tersebut di belakang tubuhnya dan berjalan mundur menjauh dari Leon.


"Dengan sikap mama yang seperti ini sudah cukup membuktikan jika mama memang terlibat," sergah Leon.


"Terserah apa katamu, Leon. Mama tidak ingin kau melaporkan tentang bisnis gelap itu pada polisi."


Emely tampak ketakutan sekali saat Leon berjalan selangkah lebih maju.


"Berikan berkas itu, ma!" pinta Leon.


"Tidak, Leon. Mama akan bakar berkas-berkas ini!"


Emely berjalan mundur ke arah dapur, Leon tetap melangkah perlahan demi mendapatkan berkas-berkas tersebut.

__ADS_1


"Kebakaran..!" seru Leon menunjuk ke arah belakang tubuh mamanya yang sudah hampir sampai ke arah dapur.


Emely menoleh ke arah yang di tunjuk Leon, dengan cepat pria itu mengambil berkas-berkas itu dari tangan mamanya.


"Leon..!" teriak Emely begitu sadar jika Leon hanya mengelabuhinya.


"Leon.. Berikan berkas-berkas itu pada mama, Leon..!"


Emely mengejar langkah Leon, pria itu segera masuk ke dalam mobilnya dan bergegas pergi dari sana.


"Leon...! Leon..! Kembalikan berkas-berkas itu..!"


Emely merasa dirinya kini sedang berada di ambang kehancuran. Ia tidak bisa membiarkan Leon melaporkan kejahatan atas bisnis gelap yang di lakukannya dengan Xander. Emely berlari ke dalam rumah untuk mengambil kunci mobil, setelah itu ia pergi menuju garasi mobil rumah tersebut untuk mengejar mobil Leon.


***


Bi Ratih terheran-heran melihat nyonya-nya tengah senyum-senyum sendiri sambil menatap ke arah langit-langit kosong. Padahal di sana tidak ada apapun selain laba-laba kecil yang tengah membuat sarang.


Bi Ratih refleks ikut memegang bibirnya ketika wanita di sampingnya memegang bibir. Tangannya juga refleks ikutan memegang dada begitu Lily memegang ke bagian dada.


Lily tersenyum membayangkan bagian manis tadi siang berasama Leon di kamarnya. Sayangnya hal itu terlalu singkat. Lily mengubah posisi tidurnya menjadi miring ke arah bi Ratih tanpa memudarkan senyum di bibirnya.


"Astagfirullahal'adziim.." ucap Lily kaget begitu sadar kalau saat ini ia sedang tidur bersama bi Ratih.


"Astagfirullah.. Astagfirullah.. Eh, nyonya teh ngagetin bibi saja," ujar wanita paruh baya itu refleks.


Lily bangun sembaru mengatur deru napasnya. "Maaf, bi," ucap Lily.


"Lagian kenapa atuh nyonya teh senyum-senyum terus dari tadi? Kangen sama tuan, ya?"


"Hm?" Lily terkejut karena ternyata bi Ratih memperhatikannya sejak tadi.


"E-enggak kok, bi. Saya gak senyum-senyum," elak Lily sambil menahan malu.


"Ih nyonya, dari tadi teh nyonya senyum-senyum terus. Pasti ke inget tuan Leon, ya?" tebak wanita itu.


Akhirnya Lily tidak bisa menyangkal lagi, ia hanya menanggapi ucapan bi Ratih dengan senyum tersipu.


"Udah ah tidur, bi. Udah malam," Lily kembali membaringkan tubuhnya, kini dengan posisi memunggungi bi Ratih.


Entah kenapa, membayangkan wajah Leon begitu menyenangkan juga menenangkan bagi Lily sekarang. Tapi tiba-tiba saja perasaannya berubah tidak enak. Entah kenapa ia merasa Leon sedang berada dalam keadaan baik-baik saja.


Lily ambil ponsel yang tidak jauh dari jangkauan tangannya, ia tekan nomer Leon dan menelepon pria itu. Sekali panggilan tidak Leon angkat, kedua kalinya berubah jadi tidak aktif. Hal tersebut membuat Lily kian di kungkung dalam rasa cemas.


"Leon.. Apa kau baik-baik saja di sana?" gumam Lily.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2