MENGANDUNG ANAK CASSANOVA

MENGANDUNG ANAK CASSANOVA
Acara Empat Bulanan


__ADS_3

Detik berganti menit, berganti jam. Siang berganti malam. Hari berganti Minggu, lalu berganti bulan. Kini usia kehamilan Lily sudah memasuki usia yang keempat bulan.


Seperti rencana sebelumnya, Bu Hesti akan menggelar syukuran kecil-kecilan empat bulanan. Dan tepat di hari bahagianya, Leon juga mendapat kabar baik mengenai keputusan hakim perihal proses naik banding yang belakangan ini di ajukan. Meski mama Emely tidak bisa bebas begitu saja, setidaknya hukumannya bisa berkurang.


"Alhamdulillaah ... Aku ikut senang dengarnya," ucap Lily begitu Leon memberi tahu kabar baik tersebut pada Lily. Ada Bu Hesti dan pak Tio juga di sana.


"Iya, ibu juga ikut senang. Semoga, dengan ini mata hati ibu kami bisa lebih terbuka, melihat betapa sayangnya kamu sebagai anaknya, nak Leon," sahut Bu Hesti sembari mendo'akan.


"Aamiin ... Terima kasih atas do'anya, Bu," jawab Leon.


"Nanti jangan lupa antar makanan ke lapas mama kamu, biar ngerasain rezeki syukuran kecil-kecilan cucu kita," kata pak Tio.


"Iya, ayah. Nanti rencananya aku sama Leon mau ke sana untuk jenguk mama Emely," sahut Lily.


"Iya bagus kalau begitu."


Sementara Bu Hesti dan bi Ratih menyiapkan makanan untuk di bawa ke lapas Emely, Lily dan Leon tengah bersiap-siap. Tidak berapa lama kemudian, Lily dan Leon keluar dari kamar rumah pak Tio tersebut.


"Nyonya, ini makanannya," bi Ratih memberikan rantang empat susun dari tangannya pada Lily.


"Terima kasih, bi," ucap Lily.


"Sama-sama."


Lily berpamitan pada kedua orang tuanya, begitupula dengan Leon. Mereka pun pergi dan harus segera kembali sebelum acaranya di mulai.


***


Di lapas, Emely baru saja selesai menunaikan shalat dzuhur. Pasca operasi, ia tidak lagi berani meninggalkan kewajibannya sebagai seorang muslim. Sebab baginya, hidup yang ia jalani saat ini merupakan kesempatan kedua dari Tuhan, dan ia tidak ingin menyia-nyiakannya lagi.


Meski demikian, Emely belum memiliki keberanian untuk meminta maaf pada Leon, Lily, maupun kedua besannya. Sebab ia merasa belum pantas mereka maafkan. Terlalu banyak dosa yang selama ini ia lakukan.


"Ibu Emely ... Ada kunjungan," ujar petugas perempuan yang ada di sana.


Emely menoleh lalu mengangguk. Ia buru-buru melepas mukena yang masih terpasang di tubuh. Melipat lalu menyematkan ke dalam gulungan sejadah. Setelah itu ia keluar usai pintu sel petugas itu bukakan.


Emely melangkah dengan senyum yang mengembang di kedua sudut bibirnya. Ia sudah tidak sabar menemui orang yang berkunjung untuknya. Siapa lagi jika bukan Leon dan menantunya? Begitu pikir Emely.


Begitu sampai di ruang kunjungan, senyumnya perlahan memudar. Raut wajahnya tiba-tiba menegang dan mulai memerah menahan gejolak amarah.

__ADS_1


"Hai ..." sapa orang itu seraya melempar senyum ejekan.


Kedua tangan Emely mengepal, jika saja petugas tidak memborgol kedua tangannya, mungkin sebuah tamparan kini sudah kembali mendarat di pipi wanita yang saat ini ada di hadapannya.


"Beraninya kau datang kemari..!!" seru Emely dengan sorot mata tajam.


Wanita itu menyunggingkan bibirnya. Ia berjalan mengitari tubuh Emely, lalu berhenti tepat di sampingnya.


Wanita itu sedikit membungkukkan badannya, wajahnya sedikit ia condongkan ke arah telinga Emely.


"Rupanya kau masih mengingat Ava Angelista, wanita yang sudah berhasil merebut Xander Bagaskara," bisik Ava lembut namun terdengar begitu menusuk.


Emely tidak ingin terpancing oleh kata-kata wanita busuk itu. Sekarang ia sedang berusaha bersikap baik agar bisa cepat keluar dari lapas. Ia tidak ingin membuat keributan yang bisa membuatnya terkena hukuman lebih lama.


Ava berpindah tempat, berdiri tepat di depan Emely.


"Kenapa? Mau marah? Ayolah marah..! Mana Emely yang dulu? Tunjukkan padaku..! Ayo tunjukan..!!" kata Ava lagi berusaha memancing wanita paruh baya di depannya.


Emely sama sekali tidak menggubris, toh ia tahu jika Ava sedang memancingnya. Tidak, ia tidak boleh terpancing oleh wanita itu.


"Cih .. Kenapa diam saja? Apa karena kau sudah semakin tua, sehingga kekuatanmu ikut melemah? Payah..!" Ava tersenyum remeh.


"Oh ya, satu hal yang harus kau tahu. Sebenarnya target utamaku itu bukanlah Xander, melainkan putra kalian. Leonard Bagaskara."


Kedua alis Emely seketika menyatu. "Apa maksudmu?" tanyanya kemudian.


"Iya, biar aku jelaskan sekarang." Ava duduk di pinggir meja menghadap ke arah Emely. "Jadi, putramu itu merupakan seorang CASSANOVA. Dan aku adalah salah satu wanita yang pernah Leon tiduri."


"Itu tidak mungkin. Jangan pernah membuat karangan cerita bodoh..!" sergah Emely.


"Dengarkan aku dulu!" sentak Ava. "Aku belum selesai bicara. Kau harus dengar dan percaya apa yang aku katakan. Leon meniduriku dan aku ketagihan. Tapi begitu aku datang untuk memintanya hal yang sempat kami lakukan, ternyata dia sudah beristri. Aku tidak rela, aku marah. Dan aku lampiaskan kemarahanku pada suamimu-Xander. Jika aku tidak bisa memiliki Leon, setidaknya aku bisa memiliki papanya. Bagaimana, sekarang kau percaya?"


Emely menggeleng. "Omong kosong! Kau pikir aku akan percaya dengan tipu dayamu? Tidak akan pernah!"


Mama Emely berusaha menampik semua ucapan Ava. Semua ucapan Ava tidak boleh ia percaya.


"Baiklah kalau kau tidak percaya dengan apa yang sudah aku katakan yang sebenarnya. It's okay. Tidak apa-apa. Lagipula sekarang Xander pun sudah tiada," imbuh Ava.


Kalimat terakhir wanita itu membuat seluruh perhatian Emely teralih.

__ADS_1


"Apa maksudmu bicara seperti itu? Tiada apa maksudmu?"


Ava bengong mendengar pertanyaan Emely. Rupanya Emely belum tahu jika suaminya sudah meninggal tiga bulan lalu.


"Hei .. kau belum tahu jika suamimu sudah meninggal? Istri macam apa kau ini? Pantas saja Xander lebih memilih aku daripada kau sebagai istrinya."


"Jangan berkata omong kosong. Suamiku belum meninggal. Suamiku masih hidup."


"Stress..!!"


"SUAMIKU MASIH HIDUP ... SUAMIKU BELUM MENINGGAL .. KATAKAN JIKA SUAMIKU MASIH HIDUP, KATAKAN ...!!"


Eemely menarik rambut Ava dengan sekuat tenaga, ia tidak terima Ava mengatakan jika suaminya sudah meninggal.


Teriakan histeris Emely terdengar menggema di ruangan, sehingga membuat petugas yang ada di sana dengan sigap melerai keributan tersebut.


Leon dan Lily yang baru saja datang pun ikut panik begitu mendengar suara teriakan yang berasal dari mamanya.


Kedua petugas berusaha membantu Ava yang kesakitan saat rambutnya di tarik oleh Emely. Wanita paruh baya itu terlihat semakin membabi buta dan sulit untuk di kendalikan.


"Mohon untuk pergi sekarang juga!" usir salah satu petugas pada Ava.


Wanita itupun menurut. Ia tidak menyangka jika Emely akan semarah itu.


Saat Leon hendak masuk ke ruang kunjungan, ia berpapasan dengan Ava. Pria itu tidak terlalu memperdulikan, sebab fokus utamanya saat ini adalah mamanya.


Leon bergegas menghampiri mamanya saat meronta begitu petugas mengamankan.


"Ma ... Ini aku, ma .. Ini aku Leon .."


Leon berusaha menyadarkan mamanya dari kemarahan yang membuatnya seperti sekarang.


Emely berhenti meronta. Ia menatap Leon dengan tatapan yang tak biasa.


Leon mengulas senyum agar mamanya bisa tenang. Tapi justru ia terkejut begitu mendengar pertanyaan yang tiba-tiba keluar dari mulut mamanya.


"Papamu masih hidup kan, Leon? Papamu belum meninggal kan? Dia berkata bohong kan?" pertanyaan lirih itu membuat wajah Leon seketika berubah menegang. Entah apa yang harus ia katakan pada mamanya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2