
Pemakaman jenazah ibunda Drew pagi ini telah selesai, semalam Leon dan Lily tidak pulang. Mereka menemani Drew yang tengah berduka, sebab bagi Leon, Drew sudah ia anggap sebagai keluarganya sendiri.
Leon mengusap bahu Drew, memberi kekuatan pada asistennya itu.
"Yang tabah, Drew," ucap Leon.
Di balik kaca mata hitam yang terpasang, air mata Drew terus mengalir. Matanya terus memupuk cairan bening yang ia sendiri tidak bisa hentikan.
Sementara Leon dan Lily pamit untuk pulang, Chika tetap ingin menemani Drew. Gadis itu tidak terus berada di sampingnya.
"Terima kasih sudah menemaniku," ucap Drew pada Chika dengan suara yang terdengar sumbang.
Chika mengulas senyum. "Iya, sama-sama. Aku harap kau tidak terlalu berlarut dalam kesedihan. Ibumu pasti akan sedih juga jika melihatmu seperti ini," tutur Chika.
"Iya," jawab Drew.
"Mau pulang sekarang atau masih ingin di sini?" tanya Chika.
"Aku masih ingin di sini, jika kau mau pulang, pulang saja. Aku tidak apa-apa."
"Tidak. Aku akan tetap di sini bersamamu."
Drew menghela napas, sebenarnya ia tidak enak juga jika harus merepotkan Chika.
***
__ADS_1
Sementara di rumah Leon, pria itu hampir muntah-muntah begitu masuk ke dalam kamar mandi. Lily jadi khawatir atas apa yang terjadi pada suaminya.
"Hoekk.. hoekkss.."
Rasanya Leon mual mencium aroma yang tidak sedap dari dalam kamar mandinya.
"Leon, kau kenapa?" tanya Lily begitu suaminya keluar dari kamar mandi.
"Kamar mandi, bau," kata Leon sembari menahan mual.
Lily mengernyit, namun begitu ia cek ke kamar mandi, bau yang menyengat begitu menusuk hidung. Ia kembali pada Leon.
"Itu bau apa, sih?" tanya Leon pada istrinya.
Sementara Leon duduk di tepi ranjang, ia menggibas-gibaskan tangannya di depan wajah mengusir bau.
Setelah hampir sepuluh menit membersihkan kamar mandi, Lily kembali keluar. Kini kamar mandi sudah kembali wangi.
"Nanti kalau kau buang air kecil, jangan lupa siram pakai pewangi sedikit, ya," kata Lily mengingatkan.
"Iya."
Lily ikut duduk di tepi ranjang di samping suaminya. Tiba-tiba saja ia melihat perubahan raut wajah Leon yang tiba-tiba menunduk seperti memikirkan sesuatu.
"Kenapa?" tanya Lily.
__ADS_1
Leon melirik sekilas, sebelum akhirnya matanya kembali menunduk.
"Apa yang kau pikirkan, Leon?" ulang Lily.
Leon masih diam, pria itu enggan untuk menjelaskan apa yang saat ini ia rasakan. Mendengar berita kematian ibunda Drew membuat hatinya ikut tersayat, sebegitu kehilangannya Drew saat ibunya pergi meninggalkan untuk selamanya.
Sementara dirinya, masih punya mama yang sehat. Ia jadi takut jika suatu saat harus kehilangan sang mama dalam keadaan hubungan yang masih kurang begitu baik.
Lily memandang wajah suaminya dari samping, meski Leon tidak menjelaskan apa yang tengah di pikirannya, tapi Lily tahu dan mengerti apa yang saat ini suaminya tengah pikirkan.
Lily meraih buah tangan Leon, kemudian menggenggamnya erat. Leon menoleh pada Lily yang memberinya seulas senyum dan tatapan yang meneduhkan.
"Jangan takut, meski sudah kehilangan banyak waktu, tapi selama masih di beri waktu, kita gunakan sebaik-baiknya. Aku yakin, jika kita berusaha, takdir baik pasti akan berpihak," tutur Lily.
Leon menatap kedua manik mata istrinya cukup dalam, Lily selalu bisa membuatnya sedikit tenang. Ya, selagi ada waktu, harapan terbesarnya untuk bisa membuat orang tuanya sadar itu masih ada. Dan semoga, takdir baik kali ini berpihak.
Leon menarik tubuh Lily membawanya ke dalam pelukan, ia peluk istrinya itu cukup erat.
"Terima kasih, sayang. Aku akan berusaha menggunakan waktu yang masih tersisa ini dengan sebaik-baiknya. Aku tidak ingin menyesal suatu hari nanti."
"Iya, nanti kita coba jenguk mama Emely lagi, ya," ajak Lily di angguki oleh Leon.
"Iya, sayang."
Bersambung...
__ADS_1