
Di tempat Leon tinggal, pria itu sudah tampak rapi dengan stelan jas hitam. Ia meniti anak tunggu dan pergi ke meja makan untuk sarapan. Selang beberapa menit, mama dan papanya pun turun dari tangga.
"Ma, pa, ayo sarapan bersama!" ajak Leon, ia kembali menanamkan harapan agar bisa sekedar berkumpul di meja makan.
"Maaf, Leon, kami sibuk!" tolak Emely, lagi-lagi mematahkan harapan Leon.
Xander dan Emely bahkan tidak menatap ke arah putranya, ia tetap melanjutkan langkahnya dengan memandang lurus ke depan.
"AKU AKAN MENIKAH...!"
Teriakan Leon berhasil membuat langkah kedua orang tuanya terhenti, mereka membalikan badan dan memandang ke arah putranya dengan rasa terkejut.
"Apa kau bilang?" tanya Emely, memastikan jika dirinya tidak salah dengar.
"Aku, akan, menikah!" ulang Leon lirih namun penuh penekanan.
Xander dan Emely saling menatap, kemudian mereka berjalan menghampiri putranya ke meja makan.
"Kau mau menikah?" tanya Emely lagi dan mendapat anggukan dari Leon.
Pernyataan pria itu berhasil menarik perhatian kedua orang tuanya. Akhirnya ia bisa bertatap muka sedekat ini dengan mereka setelah sekian lama ia menanti momen seperti ini.
"Menikah dengan siapa, Leon? Dia dari keluarga mena? Apa pekerjaan orang tuanya? Apa mereka setara dengan kita? Apa-"
"Kenapa mama begitu memperdulikan siapa yang yang menjadi pasangan aku, sementara aku saja tidak di perdulikan oleh mama dan papa?"
"Jaga bicaramu, Leon!" tegur Xander.
Leon menatap papanya. "Kenapa, pa? Memang begitu kenyataannya, kan?"
"Begitukah caramu bicara dengan orang tua?"
Leon meyunggingkan sebelah sudut bibirnya mendengar pertanyaan yang saja papanya lontarkan.
"Orang tuanya saja tidak pernah memberi didikan bagaimana caranya anak menghormati mereka," sahut Leon.
Wajah Xander terlihat menahan amarah. "Kami memasukanmu ke sekolah terbaik agar kau bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Apakah kau tidak pernah di ajarkan bagaimana cara menghormati orang tua? Atau kau yang tidak pernah mendengarkan apa yang guru sampaikan? Seharusnya kau bisa lebih sopan ketika berbicara dengan kami!"
Leon tersenyum mendengar penuturan sang ayah. "Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk memberiku nasihat, pa! Sebab inilah yang selama ini aku inginkan dari kalian."
Xander mengerutkan keningnya, ia menatap ke arah istrinya dan mata mereka saling bertemu.
"Leon, seharusnya kau mengertikan mama dan papa. Kami ini sibuk. Dan semua yang kami lakukan itu untukmu juga, Leon," tutur Emely.
"Iya, ma, aku tahu. Tapi seharusnya mama dan papa juga bisa mengerti, bahwa ada orang yang butuh perhatian kalian," balas Leon.
"Aku tidak meminta apapun dari kalian, aku hanya ingin setiap aku mengajak kalian untuk sekedar makan bersama, seharusnya kalian temani aku. Jangan menunggu waktu luang, tapi luangkan waktu kalian untukku," imbuh pria itu.
Xander dan Emely terdiam. Selama ini mereka memang terlalu di sibukan oleh pekerjaan, sampai ia terkejut begitu mendengar akan menikah. Ternyata putranya sudah tumbuh dewasa.
"Jika kalian terburu-buru, pergilah! Aku sudah menyampaikan apa yang ingin aku sampaikan pada kalian. Oh ya satu lagi, aku menikah karena aku menghamili anak orang."
__ADS_1
Sepasang mata Xander dan Emely terbuka sempurna. "Apa?" ujar mereka serempak.
***
Sore ini Leon pergi bersama kedua orang tuanya untuk menemui orang tua Lily. Sebelumnya Drew sudah memberi alamat Lily pada Leon, maka dari itu Leon bisa berpapasan dengan Lily ketika wanita itu hendak pergi bekerja ke minimarket.
Drew juga tidak lupa mengatakan jika warna cat rumah Lily berwarna biru langit dan tidak jauh dari mushala setempat. Jadi begitu Leon melihat rumah seperti yang di sebutkan Drew, ia langsung memarkirkan mobilnya di pelataran rumah tersebut.
"Kenapa berhenti di sini?" tanya Emely begitu Leon hendak turun dari mobil.
"Mama sama papa tunggu di sini dulu!" pinta Leon, ia bergegas turun dari mobil dan berjalan menghampiri rumah tersebut.
Tok tok tok..
Leon mengetuk pintu rumah tersebut, tidak lama kemudian muncul seorang wanita paruh baya dari balik pintu.
"Permisi! Apa benar ini rumah Lily?" tanya Leon.
Wanita paruh baya itu masih terpaku pada penampilannya.
"Permisi!" ulang Leon.
"Eh, i-iya, benar. Ini rumah Lily, kamu siapa?" tanya wanita paruh baya yang tak lain adalah bu Hesti.
Leon mengulurkan tangannya pada bu Hesti, lalu memperkenalkan dirinya. "Saya Leonard Bagaskara."
Bu Hesti tercengang mendengar nama pria yang baru saja pria itu katakan. "Leon?"
Bu Hesti rasanya tidak percaya jika Leon yang di maksud oleh putrinya ini sama dengan Leon yang saat ini berdiri di depannya.
"Saya datang kemari untuk menyampaikan sesuatu yang penting mengenai hubungan saya dengan Lily," ucap Leon.
"I-iya, kalau begitu silahkan masuk!"
"Terima kasih, kalau begitu saya panggilkan kedua orang tua saya terlebih dahulu di mobil."
Leon beranjak dari sana, sementara bu Hesti terlihat ketar-ketir mendapati tamu yang tak biasa datang ke rumahnya. Ia langsung masuk ke dalam rumah guna memberi tahu putrinya, jika Leon bersama keluarganya datang ke sana.
"Ayo, ma, pa," ajak Leon meminta kedua orang tuanya untuk turun.
"Jadi ini rumah perempuan itu, Leon?"
"Iya, ma. Ini rumah Lily," jawab pria itu.
"Tidak, mama tidak mau masuk ke sana. Rumahnya kecil dan pasti kotor. Mama juga tidak mau besanan sama orang miskin, Leon!" seru Emely.
"Iya, Leon. Kalau cari wanita itu pilih-pilih lah, masa iya kau mau menikah dengan wanita yang berasal dari keluarga miskin," tambah Xander.
Leon menghela napas. "Ya sudah, kalau begitu biar aku saja yang masuk ke sana. Lagipula, aku akan tetap menikahi Lily. Karena bagaimanapun, aku harus bertanggung jawab. Aku bukan pecundang yang tidak memikirkan anaknya!"
Leon beranjak dari sana. Ia tidak memperdulikan teriakan kedua orang tuanya yang memanggil namanya.
__ADS_1
"Leon..!"
"Keterlaluan sekali dia," ujar Xander.
Mau tidak mau, akhirnya mereka pun turun dari mobilnya. Kemudian menyusul langkah Leon yang sudah lebih dulu masuk.
"Silahkan duduk, nak Leon, pak, bu," bu Hesti menpersilahkan mereka untuk duduk di kursi ruang tamu yang sederhana.
Leon langsung duduk di sana, sementara Xander dan Emely masih memilih untuk berdiri, rupanya mereka enggan untuk duduk di kursi yang terbuat dari anyaman bambu tersebut.
"Lihat, Leon, bahkan di sini tidak ada sofa. Mereka miskin sekali," ucap Emely.
Tentu saja bu Hesti merasa terkejut oleh ucapan wanita itu yang terdengar menghina. Tidak hanya itu, Emely melontarkan hinaan lainnya dengan mengatakan orang miskin memang tidak mampu membeli AC, ia menggibas-gibaskan tangannya karena merasa gerah.
"Kalau mama sama papa tetap mau berdiri, ya, terserah! Lagipula ibunya Lily sudah mempersilahkan kita untuk duduk," ujar Leon.
Bu Hesti menundukan kepalanya mendengar setiap hinaan yang keluar dari mulut orang tua Leon.
Tidak berapa lama, Lily yang sebelumnya sudah di beri tahu oleh ibunya akan kedatangan tamu kini datang dengan membawa beberapa gelas teh manis hangat untuk di sajikan.
"Silahkan di minum," ujar Lily usai menaruh minuman tersebut di atas meja.
Lily hendak menyalami kedua orang tua Leon, tapi urung begitu Emely menepis tangannya.
"Ini perempuan yang kau hamili, Leon?" tanya Emely sembari memandang remeh Lily.
Lily sampai terbelalak mendengar pertanyaan orang tua Leon.
"Cih.. Kenapa kau bisa tertarik dengan perempuan modelan seperti ini, Leon? Bahkan kau sampai menghamilinya? Semenarik apa dia di matamu sampai kau mau memakainya?"
Kalimat yang di lontarkan mama Leon terdengar begitu menyakitkan, tapi mereka tidak bisa membalas hinaan tersebut dan memilih untuk diam.
"Siapa dia, nak?" pertanyaan tersebut berasal dari pak Tio yang baru saja pulang bekerja.
Pak Tio menatap kedua orang di hadapannya, serta satu pria yang duduk di kursi ruang tamunya. Dari sana pak Tio jadi paham, mungkin pria yang duduk itu merupakan calon menantunya, dan kedua orang yang berdiri di hadapannya itu calon besannya.
"Kalian orang tua dari pria yang menghamili putriku?" tanya pak Tio. "Tolong jaga sikap kalau bertamu! Sekali lagi saya dengar kalian hina putriku, saya pastikan kalian pulang dengan keadaan mulut robek!" ancam pak Tio, ia tidak memperdulikan jika mereka berasal dari keluarga berada.
"Hei.. Beraninya kau mengancam kami!" seru Xander.
Ia berjalan selangkah dan berdiri tepat di hadapan pak Tio.
"Kau yang harus jaga bicara! Saya bisa ratakan rumah anda dengan tanah jika kau berani pada kami," balas Xander tak kalah sengitnya.
Pak Tio tersenyum. "Tapi sebelum itu, anda yang akan saya masukan ke dalam tanah!"
"Sialan!" seru Xander.
Nyaris terjadi baku hantam di antara keduanya, tetapi Leon, Lily, dan bu Hesti segera melerai mereka. Pertemuan pertama antara dua belah pihak keluarga pun berakhir dengan keributan. Leon meminta maaf pada Lily dan keluarga atas ketidak nyaman ini. Leon berjanji akan kembali ke rumah tersebut setelah mengantar kedua orang tuanya pulang.
Bersambung...
__ADS_1