MENGANDUNG ANAK CASSANOVA

MENGANDUNG ANAK CASSANOVA
RENCANA LEON


__ADS_3

Keesokan harinya, Xander meminta orang-orang kepercayaannya untuk ikut membantu mencari keberadaan Emely. Sebab ia tidak mencari Emely seorang diri. Akan sangat mudah menemukan Emely di cari secara ramai-ramai.


Sementara Leon pun tak tinggal diam. Ia meminta Drew melakukan sesuatu agar aksi papanya bisa di hentikan. Ia memikirkan banyak hal bagaimana cara menghentikan papanya supaya tidak berlanjut mencari keberadaannya.


"Ok, Drew, apa kau paham dengan yang ku maksud?" tanya Leon usai mengatakan rencananya.


"Baik, tuan. Saya paham."


"Tapi kau harus hati-hati, ini tidak mudah," pesan Leon sebelum Drew pergi dari ruangan kerjanya.


Sementara Drew pergi untuk menjalankan tugasnya, Leon akan pergi ke tempat persembunyian sang mama.


Di tempat lain, Lily sedikit mengeluh sakit perut karena hari ini ia kembali datang bulan. Lantaran kehabisan pembalut, akhirnya ia izin keluar rumah sebentar untuk ke warung terdekat sebelum darah di celananya semakin banyak.


"Bibi temani ya, nyonya," tawar bi Ratih.


"Tidak usah, bi. Gak apa-apa, saya sendiri aja, lagian cuma ke warung sebelah, kok," tolak Lily.


"Oh, ya sudah kalau begitu. Hati-hati, nyonya."


"Iya, bi."


Lily pergi ke luar rumah, lebih tepatnya ke warung sebelah yang jaraknya tidak jauh dari rumah. Bu Hesti berjalan dari arah dapur dengan membawa sepiring pisang goreng menuju ruang tengah, dan di sajikan ke atas meja.


"Lily belum bangun, bi?" tanya bu Hesti pada bi Ratih.


"Sudah, bu. Barusan pergi ke warung," jawab bi Ratih sembari menyomot satu potong pisang goreng yang di sodorkan bu Hesti.


"Mau apa?" tanya bu Hesti, entah kenapa tiba-tiba perasannya berubah tidak enak.


"Katanya mau beli pembalut, datang bulan."


"Oh.."


Bu Hesti melihat ke arah luar pintu yang terbuka, meski Lily pergi untuk ke warung, tetapi perasaannya kini mulai gelisah.


"Aduuuhh.. Pembalutnya habis, Ly. Gimana, dong?" ujar pemilik warung.


"Yaahh.. Ya udah deh kalau begitu aku ke minimarket saja, siapa tahu sudah buka."


"Iya, maaf ya."


"Iya, gak apa-apa."


Lily pun akhirnya bergegas pergi ke minimarket tempat dulu ia kerja. Pasalnya tidak ada lagi warung terdekat, jadi ya mau tidak mau ia harus ke minimarket langsung saja.


Beruntungnta, begitu Lily sampai di minimarket, minimarket tersebur sudah buka. Lebih tepatnya baru buka.


"Eh, Ly. Apa kabar?" sapa Ridwan.


"Baik, Wan. Kamu sendiri apa kabar?" Lily bertanya balik.

__ADS_1


"Alhamdulillaah, seperti yang kamu lihat sekarang. Aku baik," jawab Ridwan.


"Syukurlah kalau begitu. Oh ya, Yuna bagian shif berapa?" Lily tidak melihat keberadaan temannya di sana.


"Kamu belum tahu, Ly? Yuna ikut resign setelah kamu," ujar pria muda itu.


"Hah, serius? Kenapa?" tanya Lily penasaran.


Ridwan maju selangkah dan mulai bisik-bisik pada Lily.


"Katanya mau cari kerja yang gajinya lebih gede, di sini kan tahu sendiri tiap bulan kena potongan."


"Hahaha.. Iya, sih. Gaji empat, kena potong hampir setengah gaji, emang rugi sih kalau di pikir-pikir," sahut Lily.


"Iya gitu."


"Terus kamu juga mau nyusul?"


"Gak tahu, info loker, ya!"


"Iya, nanti aku cariin kalau ada. Tapi kerja apa dulu, nih?"


"Apa aja. Yang penting gajinya gede."


"Hahaha..."


Lily benar-benar merasa senang bisa berbincang-bincang dengan teman kerja lamanya. Akhirnya setelah mendapatkan apa yang dia cari, ia membayarnya ke kasir.


"Iya, nih," jawab Lily.


"Oh ya, denger-denger, ada gosip miring tentang kamu itu. Apa itu benar? Maaf ya kalau pertanyaan aku menyinggung!"


Lily tidak menjawab pertanyaan Ridwan, ia cukup membalasnya dengan senyum kecil sekilas. Setelah itu ia pergi usai membayar totalnya.


***


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua jam, kini Leon sampai di tempat persembunyian mamanya. Yaitu rumah peninggalan sang nenek. Rumahnya tidak besar, tapi sederhana dan begitu asri.


Tok tok tok..


Leon mengetuk pintu rumah tersebut, dari arah jendela Emely mengintip dari dalam dan segera membuka pintu rumahnya.


"Leon.."


Emely dengan cepat menatik lengan putranya untuk segera masuk ke dalam rumah. Setelah iru ia kembali mengunci pintu rumah.


"Mama baik-baik saja kan di sini?" tanya Leon khawatir.


"Iya, Leon. Lalu papamu bagaimana, apa masih cari mama?" jawab dan tanya Emely.


Leon menghembuskan napas. "Iya, ma. Bahkan papa sampai mengancam keselamatan Lily."

__ADS_1


Emely masih tidak suka ketika Leon menyebut nama perempuan itu di hadapannya.


"Mama takut, Leon. Mama ingin kau di sini temai mama, ya!" pinta wanita paruh baya itu.


"Leon pasti akan lindungi mama, tapi aku gak bisa diam saja, ma. Aku harus bergerak untuk menghentikan aksi papa."


"Lalu apa rencanamu?"


Leon bergeming. Ia menatap kedua manik mata mamanya lekat. Sebaiknya ia tidak katakan rencananya dengan Drew pada mamanya, sebab mamanya pasti akan tidak setuju.


"Apapun itu, yang terpenting mama aman."


Sebenarnya Emely masih penasaran dengan rencana putranya, tapi lebih baik ia tidak bertanya-tanya dan ikut baiknya saja. Yang terpenting ia aman, dan Xander tidak akan lagi mengejar-ngejar lagi dirinya.


"Oh ya, mama ingin minta pendapatmu, Leon."


"Apa?"


"Mmm.. Apa sebaiknya mama buka identitas papamu di publik juga? Siapa tahu dengan itu papamu akan berhenti mencari mama."


"Sebaiknya jangan dulu, ma. Sebab hal itu justru akan membuat papa semakin gencar mencari mama," saran Leon.


"Tapi, Leon-"


Sebuah dering panggilan masuk terdengar nyaring dari ponsel milik Leon. Pria itu segera menjawab panggilan tersebut begitu nama Lily muncul di layar hp.


"Halo, sayang.." jawab Leon.


Emely mengerutkan alis merasa tidak suka mendengar sebutan yang baru saja Leon ucapkan.


Seketika wajah Leon menegang, Emely tidak tahu apa yang terjadi. Tetapi setelah menerima panggilan tersebur Leon langsung pamit untuk pergi.


"Aku harus pergi sekarang, ma," pamit Leon terlihat buru-buru sekali.


"Ada apa, Leon?" tanya Emely penasaran.


Leon tidak menjawab pertanyaan mamanya, pria itu langsung pergi dengan langkah tergesa.


"Leon.. Leon..!" teriakan Emely bahkan tidak Leon dengar, putranya masuk begitu saja ke dalam mobil dan pergi dari sana.


"Ini pasti gara-gara perempuan itu. Ternyata dia pandai sekali mencuri perhatian Leon. Awas saja, aku akan mengalihkan semua perhatian Leon padaku mamanya!" desis Emely.


Bersambung...


...Jangan lupa DUKUNGAN kalian, karena itu sangat berarti....


...LIKE, KOMEN, VOTE, dan kumpulin POIN sebanyak-banyaknya untuk kasih aku HADIAH....


...Tekan LOVE nya juga biar masuk ke rak favorit, agar kalian dapat notifikasi ketika bab selanjutnya publish....


...Yang punya akun INSTAGRAM, follow ya @wind.rahma...

__ADS_1


__ADS_2