MENGANDUNG ANAK CASSANOVA

MENGANDUNG ANAK CASSANOVA
Hukuman untuk Emely & Xander


__ADS_3

Detik berganti menjadi menit, berganti hari, berganti Minggu. Hari ini merupakan sidang keputusan hakim tentang hukuman yang akan di jatuhkan pada Xander dan Emely.


Sidang pun selesai, Xander dan Emely mendapatkan hukuman yang sesuai dengan perbuatannya. Serta seluruh aset dan kekayaannya akan di sita lantaran hasil bisnis gelap.


"Puas kau melihat mama seperti ini, Leon?" seru Emely begitu berpapasan saat akan di bawa ke lapas.


"Aku sama sekali tidak berniat melakukan ini pada mama, ma. Tapi yang namanya kejahatan, suatu saat pasti akan tercium juga baunya. Dan mama harus bisa bertanggung jawab atas apa yang sudah mama perbuat sebab ini konsekwensinya," jawab Leon.


Emely menyunggingkan bibirnya. "Pandai sekali kau bicara. Dalam hati kau pasti senang bukan, karena kau berhasil membalaskan dendam-mu sebab kau merasa tersakiti oleh mama?"


"Itu hanya pikiran mama saja. Aku harap, mama bisa sadar akan perbuatan mama dan semoga mama bisa terima kenyataan ini dengan lapang dada," tutur Leon.


"Tidak usah berlaga so bijak, Leon," ucap wanita paruh baya itu, dan matanya kini tertuju pada wanita yang berdiri di samping Leon.


"Dan kau. Aku ucapkan selamat karena kau berhasil membuat Leon durhaka pada mamanya sendiri," ucap Emely dengan nada penuh kebencian.


Lily hanya diam, ia tidak terlalu menghiraukan perkataan mama mertuanya.


"Berhenti menyalahkan orang lain atas kesalahan mama sendiri..!" tegur Leon, membuat Emely semakin berada di puncak kemarahan.


"DASAR ANAK DURHAKA..!" seru Emely lirih namun penuh penekanan.


Setelah itu Emely di bawa oleh petugas, Leon masih berdiri mematung di tempat. Lily mengusap bahu suaminya berusaha menenangkan. Dan tidak perlu memasukan ucapan mamanya ke dalam hati.


"Aku yakin suatu saat mamamu pasti akan sadar. Ini hanya perihal waktu," tutur Lily.


Leon menghembuskan napas dan menoleh pada istrinya dengan ulasan senyum. "Iya. Terima kasih, sayang."


Begitu akan beranjak dari sana, Leon melihat papanya keluar di bawa petugas. Pria paruh baya itu meminta kedua petugas yang membawanya untuk berhenti sejenak. Mereka berhenti tepat di depan Leon.


"BERANI-BERANINYA KAU MENGUNGKAP INI SEMUA, HAH..???"


Xander hendak menghajar Leon, tetapi segera di tahan oleh petugas.


"LEPASKAN AKU SEBENTAR..!! ANAK INI PERLU AKU HAJAR...!!"


Xander memberontak, tetapi kedua petugas segera menyeret pria itu untuk masuk ke mobil menuju lapas.


"AWAS SAJA, KAU..!!! AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN KAU BERNAPAS BEBAS...!!!" teriak Xander mengancam.


Xander terus meneriakkan kata ancaman. Sampai suaranya hilang lantaran sudah di bawa pergi oleh petugas.

__ADS_1


Leon terdiam, kini kedua orang tuanya begitu membencinya. Rupanya ia harus mengubur lagi dalam-dalam harapan orang tuanya mengharapkan kehadirannya. Sebab sudah tidak ada lagi kemungkinan mereka akan baik, tetapi mengingat kata-kata istrinya barusan, membuat Leon sedikit tenang. Dan semoga ada keajaiban orang tuanya akan berubah dan sadar.


Usai dari tempat sidang tadi, Leon dan Lily pergi ke restoran untuk makan siang.


"Kau benar-benar sangat beruntung memiliki orang tua seperti ayah Tio dan Bu Hesti. Mereka bisa sedekat itu denganmu, bercanda tawa bersama. Dan aku sangat bersyukur bisa berada di tengah-tengah keluarga harmonis mu itu," ujar Leon tiba-tiba.


Lily paham betul apa yang tengah di rasakan oleh suaminya. Leon pasti sangat sedih sekarang. Mengingat begitu bencinya orang tuanya tadi. Sepertinya ia harus menghibur pria itu. Tapi dengan cara apa?


"Leon," panggil Lily.


"Hm."


"Kau tahu? Saat aku pertama kali bertemu denganmu malam itu, aku sempat sembunyi di gerobak sampah untuk menghindari juragan Mongol."


Leon menaikan sebelah alisnya. "Benarkah..?"


"Iya. Terus waktu kau mengajakku untuk melakukan syaratmu, sebenarnya aku itu bau sekali. Aku pikir kau akan jijik denganku," sambung Lily.


Leon mengangkat sebelah sudut bibirnya membentuk sebuah senyum kecil. "Pantas saja aku mencium bau yang aneh. Aku pikir itu bau kepunyaanmu."


"Heh, enak saja. Aku rutin pakai sabun daun sirih, mana ada punyaku bau," cetus Lily membuat Leon tertawa kecil.


"Tapi tetap saja, serutin apapun pakai sabun merk apapun tetap saja tidak bisa menghilangkan khas baunya."


"Baaau..!"


"Wangi..!"


"Baaauuu..!!"


"Wangiiiiii..."


"Bauuuu, sayaaang.. Tapi aku suka..!"


Kalimat terakhir Leon membuat Lily tersipu malu. Wajahnya merona saking malunya. Tetapi tidak apa-apa, yang terpenting Leon bisa sejenak melupakan kesedihannya.


Lily tersenyum sambil menatap kedua manik Leon cukup lekat.


"Kenapa menatapku sampai seperti itu? Kau pasti terpesona dengan ketampanan aku ini, bukan?" tanya Leon dengan penuh percaya diri.


"Aku senang melihat kau seperti ini, Leon. Aku senang melihat senyummu. Aku tidak suka melihatmu murung seperti tadi, itu bukan Leon yang aku kenal. Tetap seperti ini, aku sayang padamu," ucap serta ungkap Lily.

__ADS_1


Leon membalas tatapan Lily bukan hanya tatapan senang, bahagia, tetapi juga haru. Ia meraih kedua buah tangan istrinya itu lalu di genggamnya dengan erat.


"Terima kasih atas semua yang kau berikan untukku, sayang. Terima kasih atas raya sayangmu untukku. Love you."


"Love you more, Leonard Bagaskara bin Xander," balas Lily menciptkan senyum yang mengembang di bibir Leon.


Leon mencondongkan wajahnya untuk mencium bibir Lily, hal tersebut di pergoki oleh pelayan pria yang mengantar menu makan pesanan mereka.


"Maaf, di sini bukan kawasan untuk bermesraan..!" ucap pelayan pria tersebut.


Leon menoleh pada pelayan tersebut. "Jomblo, ya? Pantas iri."


"Iri itu tanda orang tidak mampu. Tapi saya mampu kok bikin cewek anda ini jatuh cinta sama saya," jawab pelayan itu dengan penuh percaya diri.


"Ok, silahkan. Tapi jangan salahkan aku jika dagingmu yang jadi menu makan siangku."


"Yaelah, gitu aja baper. Santai aja kali," pelayan itupun pergi usai menghidangkan menu makan di meja mereka.


"Lucu juga ya dia," ujar Lily.


"Kau menyukainya?"


"Tidak. Tidak ada yang lebih menarik selain kau, Leon," jawab Lily.


Leon mengangkat sebelah sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman. Biasanya dia yang akan menggoda, tapi kali ini justru ia yang di goda.


"Sudah pintar menggoda ya rupanya."


"Oh, tentu. Tapi kau tenang saja, aku hanya akan menggodamu, suamiku."


Lagi-lagi Leon tersenyum, Lily benar-benar sudah pandai menggoda.


"Selamat makan," ucap Lily.


"Selamat makan."


Bersambung...


...Semoga sehat selalu untuk kalian yang selalu setia menunggu kelanjutan cerita ini. ...


...Maaf ya jika saya telat up, karena saya sedang kurang sehat. Mudah-mudahan kita semua selalu di beri kesehatan. ...

__ADS_1


...Mohon tinggalkan jejak dengan LIKE, KOMEN, VOTE VOTE VOTE, dan beri HADIAH KOPI yaaaa teman-teman. ...


...Jangan lupa untuk follow juga akun media sosialku @wind.rahma...


__ADS_2