MENGANDUNG ANAK CASSANOVA

MENGANDUNG ANAK CASSANOVA
Resign


__ADS_3

Pagi ini seperti biasa Leon sarapan sendiri di rumah. Ia pikir, mama dan papanya akan membahas kejadian sore kemarin. Tentang kejadian yang tidak mengenakan antara mereka dengan calon besan. Tapi ternyata kedua orang tua Leon sama sekali tak acuh dan kembali sibuk dengan aktivitasnya.


"Ma.. Pa.. Sarapan dulu!" teriak Leon saat kedua orang tuanya turun dari tangga.


Mereka sama sekali tidak memperdulikan panggilan putranya, bahkan mereka tampak seperti orang yang tidak pernah menganggap kehadirannya.


Leon menghembuskan napasnya sedikit kasar. Ingatannya tentang makan bersama tadi malam bersama keluarga Lily setidaknya membuatnya menciptakan harapan. Harapan merasakan keluarga hangat nantinya setelah menikah.


Leon sendiri mungkin bukan pria baik-baik. Dia seorang pria yang bisa merayu banyak wanita untuk bisa menemaninya, tapi bukan makan melainkan tidur. Sebab ia tidak pernah merasakan tidur dalam dekapan kedua orang tuanya, maka dari itu ia melampiaskannya ke sana.


Sejauh ini, belum ada korban yang menyatakan jika wanita yang pernah ia tiduri itu hamil. Hanya Lily satu-satunya wanita yang datang kepadanya dan mengaku hamil. Dan kenapa ia tidak menyangkal, sebab ia mengakui jika itu anaknya.


Sebagai anak yang merasa seperti di telantarkan oleh kedua orang tuanya, Leon tentunya merasa terpanggil agar menjadi pria yang tidak boleh mengikuti jejak kedua orang tuanya. Terlantar di sini, yaitu merasa tidak mendapat perhatian dan kasih sayang.


Leon bangkit dari kursi makan, ia beranjak dari sana meniti anak tangga untuk sampai di kamarnya. Leon menyambar jas serta ponselnya yang tergeletak di sofa kamar. Kemudian ia pergi bersama mobilnya menuju kantor.


"Selamat pagi, tuan Leon."


"Selamat pagi, tuan."


Sapa para karyawan kantornya begitu ia sudah sampai. Leon tak menanggapi sapaan mereka, ia terus berjalan menuju Lift agar sampai di lantai tempat ruangannya berada.


"Selamat pagi, tuan," sapa Drew yang berdiri di depan pintu ruangannya.


"Masuk!" pinta Leon agar Drew mengikuti langkahnya masuk ke dalam ruangan.


"Baik, tuan, " jawab Drew menurut.


Di dalam, Leon mempersilahkan Drew untuk duduk. Wajah keduanya tampak serius sekali.


"Bagaimana, Drew, apa kau sudah mengurus apa yang aku minta?" tanya Leon mengawali pembicaraan.


"Sudah, tuan. Saya sudah meminta WO terbaik untuk acara pernikahan tuan dengan nona Lily. Saya juga sudah menemui seorang MUA yang tentu saja bisa merias wajah nona Lily dengan sempurna," jawab Drew.


"Bagus. Untuk tamu undangan, kau cukup mengundang rekan terdekat dan kalangan petinggi perusahaan saja. Tidak usah terlalu banyak tamu," pinta Leon di angguki oleh Drew.


"Ya sudah, kalau begitu kau bisa kembali ke ruanganmu!"


"Baik, tuan."

__ADS_1


Drew pun keluar dari ruangan tersebut. Kini tinggal Leon seorang di sana. Ia merogoh ponsel dari saku celana, dan mencari-cari nomer seseorang di kontaknya. Berulang kali ia scrool ke bawah, ke atas, ke bawah lagi, ke atas lagi, sampai ia di sadarkan oleh tepukan jidat oleh tangannya sendiri.


"Oh ya, aku lupa. Aku belum sempat bertukar nomer dengan Lily," ujarnya.


Leon bangkit dari duduknya, semalam Lily mengatakan hari ini akan pergi ke minimarket untuk menandatangani surat-surat resign. Apa salahnya jika ia pergi ke minimarket itu agar bisa bertemu dengan Lily.


***


Teman kerja Lily selama dua tahun terakhir ini tengah mengguncang-guncangkan tubuh Lily begitu mendengar berita pengunduran dirinya dari pekerjaan. Pasalnya, Lily tidak menjelaskan kenapa dirinya berhenti bekerja.


"Kamu yakin mau berhenti kerja, Ly? Terus nanti kalau aku mau curhat ke siapa lagi kalau bukan ke kamu?"


Lily bukannya sedih, tetapi justru ia ingin tertawa mengingat temannya kerap kali curhat mengenai gebetan yang sulit untuk di dapatkan.


"Ya Tuhan... Yuna. Kan kamu bisa curhat ke Mila, ada Desi juga, kamu bisa curhat ke mereka," usul Lily.


"Enggak, Ly. Aku enggak bisa, mereka itu ember bocor. Cuma kamu satu-satunya tempat yang bisa nampung curhatan aku, Ly. Please, jangan resign, ya!" Yuna menelungkupkan tangannya memohon agar Lily tidak jadi resign.


"Maaf, Yuna. Aku harus tetap berhenti bekerja," ucap Lily.


"Kenapa? Apa kamu sudah menemukan tempat kerja yang lebih bagus? Lebih besar gajinya? Atau kamu.." Yuna memicingkan matanya menatap Lily curiga.


"Kamu-"


"Lily," panggil seorang laki-laki yang kini satu shift dengan Yuna.


"Iya."


"Kamu di panggil kepala toko," ucap laki-laki itu memberi tahu.


"Iya, aku ke sana sekarang," sahut Lily. "Yun, aku ke belakang dulu, ya," pamit Lily.


Lily pun pergi dari hadapan Yuna, sebenarnya ia harus menanda tangani surat resign di kantor minimarket tersebut. Hanya saja, kebetulan kepala toko itu ada jadwal ke minimarket, jadi sekalian membawa berkas dan surat-surat resign Lily ke minimarket.


Leon melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, sudag hampir satu jam ia menunggu di dalam mobil depan minimarket tersebut. Tetapi tidak ada tanda-tanda Lily akan keluar dari sana.


"Apa Lily sudah pulang, ya?" pikirnya.


Leon kembali memandang ke arah pintu minimarket. "Apa sebaiknya aku masuk ke dalam berpura-pura jadi pembeli?"

__ADS_1


Setelah memantapkan diri dengan keputusannya, Leon pun turun dari mobil. Ia masuk ke dalam minimarket tersebut dan membeli satu kaleng minuman soda, dan satu botol minuman teh. Ia langsung membayarnya ke kasir.


"Jadi delapan belas ribu saja," ucap kasir.


Leon mengeluarkan selembar uang seratus ribu dan di berikan pada kasir tersebut. "Ambil saja kembaliannya," ujar Leon.


Kasir itu menatap Leon bengong tidak percaya. "Beneran?"


Leon tidak menjawab, ia mengambil kedua minuman yang baru saja ia beli tanpa menggunakan kantong plastik.


"Lily... Aku dapat tip gede banget..!" teriak wanita itu kegirangan.


Leon menghentikan langkah membalikan badannya. Kedua bola matanya kini bertemu dengan bola mata Lily yang sedang berdiri tidak jauh darinya.


"Ly, sumpah mimpi apa aku semalam ketemu pembeli ganteng banget terus baik?" ujar Yuna girang.


Lily menanggapi Yuna dengan senyum sekilas. Sebelum akhirnya Yuna di buat bengong kembali oleh sikap pria yang ia maksud baik itu.


"Bagaimana surat resign-nya? Sudah selesai? Ayo pulang!" tanya dan ajak Leon pada Lily.


Yuna membuka mulutnya lebar, ia menatap ke arah Lily dan Leon secara bergantian.


"Iya, sudah. Yun, aku duluan ya," pamit Lily.


Leon meraih pergelangan tangan Lily dan menggandengnya keluar minimarket. Yuna masih bengong dan terheran-heran sampai akhirnya teman laki-laki satu shif nya datang memukul pundaknya pelan.


"Kenapa, lo? Kesambet?"


Yuna menelan ludahnya dengan susah payah, kemudian ia menatap teman laki-lakinya itu


"Wan, tampar aku, wan! Tampar aku!" pinta Yuna untuk memastika apa dirinya tidak sedang bermimpi.


Teman laki-lakinya yang bernama Ridwan itu bergidik takut, rupanya Yuna kesambet beneran.


Bersambung...


...Jadilah PEMBACA BUDIMAN ya teman-teman. Tinggalkan jejak kalian dengan LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAH POIN. Tambahkan ke rak favorit juga dengan cara tekan LOVE....


...Follow Akun Sosial Media-ku insatgram @wind.rahma...

__ADS_1


__ADS_2