
Pagi harinya, Lily beraktivitas seperti biasanya. Ia menyiapkan sarapan untuk Leon juga membuatkan kopi untuk suaminya itu. Tapi ternyata begitu ia ke dapur, bi Ratih sudah terlebih dahulu ada di sana.
"Biar aku saja, bi," kata Lily berusaha mengambil alih pisau yang di gunakan bi Ratih untuk memotong bahan masakan.
"Tidak usah, nyonya. Biar bibi aja," bi Ratih tidak memberi kesempatan Lily untuk mengambil pisau tersebut.
"Tapi, bi-"
"Sudah, biar bibi aja, ya. Bibi tahu nyonya pasti cape kan?" tebak wanita paruh baya dengan postur tubuh gemuk pendek itu seraya menahan tawa.
"Hm, cape?" tanya Lily bingung.
"Iya, kan habis tidur panjang. Kemarin, habis magrib nyonya kan langsung tidur, sampai melewatkan makan malam. Betul?"
Lily menganggukan kepalanya sekali. Sebenarnya ia masih bingung dengan maksud cape yang di katakan oleh asisten rumah tangganya. Tapi ya sudahlah.
"Gimana tidurnya semalam, nyonya. Nyenyak?"
Lily kembali menganggukan kepalanya. "I-iya. "
"Ya iyalah nyenyak, orang habis wuenak-wuenak," ucap bi Ratih lirih sambil cekikikan.
"Apa, bi? " tanya Lily, wanita itu langsung membungkam mulutnya.
"E-nggak, nyonya. Bibi teh gak ngomong apa-apa," elak bi Ratih.
"Oh.. Kalau begitu, yang buat kopi untuk Leon biar aku saja, ya."
"Iya, nyonya."
Lily lekas mengambil cangkir dan satu saset kopi bungkusan. Usai menuangkan air panas dan mengaduk kopinya, Lily taruh cangkir tersebut di atas meja. Setelah itu ia kembali ke kamar guna menyiapkan baju untuk Leon.
Sampai di kamar, ternyata Leon belum juga selesai mandi. Tidak berapa lama, pria itu teriak memanggil namanya.
"Ly..."
"Iya.." sahut Lily, ia menaruh pakaian Leon yang baru saja ia ambil ke atas tempat tidur.
"Aku lupa bawa handuk, bisa tolong ambilkan?"
"Iya, tunggu sebentar!"
Lily mengambil handuk Leon, lalu mengetuk pintu kamar mandinya.
__ADS_1
"Ini," Lily menyodorkan handuknya begitu Leon membuka pintunya.
Alih-alih mengambil handuk, pria itu menarik lengan Lily dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
"Leon... Aaaaaaaaa..." Lily menutup kedua matanya begitu melihat batang pusaka Leon berdiri tegak dan terlihat begitu jelas.
"Leon.. Aku mau keluar," pinta Lily seraya mencari-cari knop pintu kamar mandi tersebut.
Dengan nackalnya Leon berdiri di depan pintu tersebut, menutupi bagian knop pintu. Sehingga begitu tangan Lily mulai meraba-raba, justru yang saat ini ia pegang merupakan batang hidup milik Leon.
Lily merasa aneh saat knop pintu itu terasa beda, berulang kali ia memutarnya tetapi tidak bisa ia tarik. Lalu ia membuka sebelah matanya guna melihat apa sebenarnya yang saat ini ia pegang. Dan..
"Lagi, sayang.." ucap Leon dengan nada bicara yang terdengar kental akan hasrat birraahi.
"Aaaaa.." Lily refleks dan langsung melepaskan tangannya dari batang keras yang hidup tersebut.
"Leon.. Jahat..!" Lily memukuli dada bidang suaminya, pria itu terkekeh melihat ekspresi wajah Lily.
Meski sebenarnya ia ingin sekali Lily memainkan batang keras miliknya, tapi ia tidak ingin memaksa. Ia ingin Lily sendiri yang datang kepadanya untuk memainkan benda pusaka tersebut dengan suka rela. Itu akan lebih menyenangkan.
"Ya sudah, kau boleh keluar," Leon membukakan pintunya, dengan cepat Lily keluar dari sana.
Akhirnya, Leon memilih untuk virtual dulu saja sementara. Ia mengambil sabun cair, berikutnya bla bla bla.
"Jangan marah, nanti aku gigit!" kata pria itu.
Lily sama sekali tak menghiraukan ucapan suaminya, sampai akhirnya Leon benar-benar menggigit pipi istrinya.
"Mmmmm..."
"Aaaaww.." Lily memekik kesakitan, sementara Leon tertawa puas.
Pipi mengusap pipinya, tampak bekas gigitan Leon di sana. Sebelum mendapat amukan berupa hujan cubitan, Leon segera kabur dari sana menuju mobilnya.
"Aku berangkat, sayaaang..." teriak Leon.
"Iiihhh... Sakit tauuu.."
***
Di perjalanan menuju kantor, Leon menghentikan mobilnya ketika lampu merah lalu lintas menyala. Ia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama, menerobos lampu merah sampai ia di panggil ke kantor polisi. Beruntungnya ia bisa mengatasi masalah tersebut dengan mengatakan alasan jika ia memang sedang buru-buru, dan ia juga berjanji tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi.
Sebuah mobil ikut berhenti di sampingnya, tampak seorang wanita muda dan seksi sedang bergelayut manja di lengan pria paruh baya. Leon terperangah, ia membuka kaca pintu mobilnya sedikit guna memastikan apakah orang itu sama seperti dugaannya?
__ADS_1
Benar, itu adalah Xander-papanya. Dan yang membuatnya tidak kalah terkejut, wanita yang bergelayut manja di lengan papanya itu merupakan wanita yang minggu lalu di usir paksa oleh kedua security kantornya. Wanita yang pernah ia tiduri plus minta di tiduri kembali.
"Keterlaluan!"
Leon keluar dari mobilnya dengan amarah yang meluap-luap. Ia berjalan menghampiri mobil papanya dan menggedor-gedur kaca mobil tersebut.
"KELUAR..!" teriak Leon.
Xander yang melihat Leon memergoki dirinya sama sekali tidak ada rasa cemas maupun panik. Ia membuka kaca pintu mobilnya dan terlihat begitu santai.
"Ada apa, Leon?"
"Ada apa kata papa? Papa gak sadar kalau apa yang saat ini papa lakukan itu mengkhianati mama?" seru Leon mulai menyita perhatian banyak orang.
"Dan kau!" tunjuk Leon pada wanita yang juga tidak merasa bersalah akan perbuatannya. "Jangan pernah berani menggangu rumah tangga orang tuaku!" ancam Leon.
"Daddy, ayo pergi! Lampunya sudah hijau, jangan perdulikan dia," ujar wanita itu dengan kurang ajar.
"Iya, cantik," jawab Xander seraya mencubit pelan dagu runcing wanita selingkuhannya.
Xander pun melajukan mobilnya, lantaran mobil yang di belakang kini sudah memberi peringatan klakson dan sudah tidak sabar.
"Pa.. Pa.. Pa.." Leon menggedor-gedor kaca pintu mobilnya sampai mobil papanya melesat dari sana.
"BANG*SAT..!" umpat Leon.
Ia kembali ke mobilnya untuk mengejar mobil papanya. Ia tidak akan membiarkan wanita itu menghancurkan hubungan rumah tangga orang tuanya, meskipun rumah tangga orang tuanya memang dari awal tidak harmonis.
"Daddy.. Dia mengikuti mobil kita," ujar wanita selingkuhan Xander memberi tahu.
Xander melihatnya dari kaca spion, ternyata benar Leon mengikuti mobilnya. Ia menambah laju kecepatan mobilnya berusaha menghindar.
Sementara Leon, melihat mobil papanya semakin jauh, ia pun tak kalah mempercepat laju mobilnya. Ia tidak ingin kehilangan jejak mobil papanya.
"Sial.. Kenapa dia mendekati papaku?" Leon memukul setir lumayan keras guna melampiaskan amarahnya.
Ting..
Ponselnya mendapat sebuah notifikasi pesan masuk, takut itu Lily, Leon segera merogoh ponselnya dan membaca pesan tersebut.
08xxx:
Kalau kau tidak mau memenuhi permintaanku, maka jangan salahkan aku jika papamu jadi milikku, Leon.
__ADS_1
Bersambung...