MENGANDUNG ANAK CASSANOVA

MENGANDUNG ANAK CASSANOVA
CEMBURU


__ADS_3

Lily terbangun dari tidurnya, begitu melihat jarum jam sudah menunjukan pukul dua dini hari. Ia merasa pengap sekali, lantaran Leon memeluknya begitu erat.


Mengingat masalah yang tengah di alami suqminya sekarang begitu berat, tidak ada salahnya juga jika ia membangunkan Leon untuk menunaikan shalat malam, berdo'a meminta agar Allah bisa mengurangi beban pikiran suaminya.


"Leon.." Lily menepuk-nepuk pipi Leon pelan.


"Leon.. Bangun, yuk..!" panggilnya sekali lagi.


Bukannya bangun, Leon justru malah semakin mempererat pelukannya. Sepanjang malam pria itu sama sekali tidak mau melepaskan pelukan tersebut.


"Leon.. Bangun..! Kita shalat malam, yuk..!"


Tiba-tiba saja Leon membuka mata, ia menatap Lily mendengar ajakan tersebut.


"Kita shalat malam, supaya Allah meringankan beban masalah yang saat ini kita hadapi," ajak Lily sekali lagi.


Leon masih bergeming. Pasalnya ia sudah melewatkan ibadah itu selama bertahun-tahun. Sehingga ia ragu apakah ia masih hafal doa'doa shalat atau justru sudah lupa.


"Ayo bangun..!!" Lily menarik tangan Leon agar segera turun dari tempat tidur, tetapi pria itu enggan untuk bergerak.


"Aku tidak bisa, Ly," ucap Leon membuat Lily terpaku menatapnya. .


"Maksudmu?" tanya Lily.


"Aku hampir lupa bacaannya, sudah lama aku tidak melakukannya," jawab Leon jujur.


Lily menghela napas kemudian tersenyum.


"Tidak apa-apa, kita mulai lagi dari sekarang,ya. Hanya karena kau sudah lama tidak melakukannya, aku yakin kau pasti tidak sepenuhnya lupa akan bacaannya. Ayo ambil wudhu sekarang..!"


Lily kembali menarik tangan Leon, sejujurnya masih berat, tetapi Leon berusaha menuruti apa kata Lily. Akhirnya mereka mengambil wudhu secara bergantian, setelah itu mulai menunaikan shalat malam.


Lily mencium punggung tangan setelah mengucapkan salam terakhir. Leon mengusap kepala Lily dengan Lembut.


"Masih ingat bacaannya kan?" tanya Lily memastikan.


Leon mengangguk. "Hanya saja, tadi aku berhenti sejenak untuk mengingat-ingat," jawab pria itu.


"Tidak apa-apa lupa bacaan masih wajar, yang gak wajah kalau sampai lupa gerakan."


Leon menekan ujung batang hidung Lily pelan karena wanita itu meledeknya.


"Mana ada lupa gerakan, apalagi kalau gerakan di atas ranjang."


Kini Lily yang menekan ujung batang hidung lancip pria itu. "Iiihh.. Dasar..!"


Leon terkekeh.

__ADS_1


"Kalau begitu kita berdo'a dulu, minta sama Allah agar kita selalu di beri kemudahan dalam segala urusan. Di sehatkan selalu dan tentunya bersyukur atas apa yang kita milikki saat ini," tutur Lily.


"Iya, sayang. Dan yang paling aku syukuri adalah memilikimu," ucap Leon.


Lily mengulum senyum bahagia mendengar ungkapan suaminya. Tetapi dengan cepat ia pejamkan mata dan mulai melangitkan do'a do'a pada Sang Pencipta.


***


Paginya Lily meminta bantuan bi Ratih untuk membuatkan lebih banyak masakan. Sebab rencananya Lily akan pergi ke kantor polisi untuk menjenguk mertuanya, tetapi ia belum bilang pada Leon.


"Itu untuk siapa?" tanya Leon begitu sampai di meja makan mendapati Lily tengah memasukan makanan ke dalam sebuah kotak makan.


"Aku ingin menjenguk mamamu," kata Lily.


Leon mengerutkan alisnya. Sejujurnya ia ingin mengatakan jangan dulu, sebab kondisi mamanya saat ini sedang tidak baik-baik saja. Ia tidak ingin mamanya membuat Lily sakit hati seperti sebelumnya. Tapi melihat semangat wanita itu membuat tidak tega jika harus melarangnya.


"Aku boleh kan jenguk mamamu, Leon?" itu pertanyaan Lily yang kesekian kali, lantaran Leon sedari tadi melamun sampai mengabaikan pertanyaannya.


"Iya, boleh."


Lily terlihat makin semangat, Leon semakin tidak tega melihat wajah itu nantinya berubah menjadi raut kesedihan.


Usai sarapan, Leon dan Lily berangkat ke tempat kini mamanya di tahan. Mereka meminta ijin untuk bertemu dengan Emely, awalnya tidak di ijinkan. Sampai akhirnya Leon meminta biar dirinya saja yang menemui mamanya ke sel.


Emely mendongakan wajah begitu mendengar suara derap langkah mendekat. Begitu wajahnya terangkat, alisnya menyatu dan amarahnya kembali bergejolak begitu kedua manik matanya mendapati sosok wanita yang tidak ia suka.


"Aku bawakan makanan untuk mama," Lily menyodorkan kotak makan tersebut pada Emely.


Emely menyunggingkan sebelah sudut bibirnya. Ia mengambil kotak makan tersebut. Kebetulan, ia belum makan dari kemarin lantaran makanan yang di sediakan di sana tidak membuatnya berselera.


Lily menoleh ke arah Leon dengan senyum senang, ia pikir mamanya akan menolak mentah-mentah. Sementara Leon merasa terheran.


"Kalau begitu kalian pergi dari sini," usir Emely namun dengan nada bicara normal.


"Tapi-"


"Pergi dari sini dan jangan lupa untuk kembali lagi setiap hari dengan bawakan makanan!" pinta wanita paruh baya itu.


Lily dan Leon saling menatap satu sama lain.


"Kenapa? Kalian keberatan?" seru Emely.


"Tidak, ma," jawab Lily.


"Bagus, sekarang kalian bisa pergi?"


Lily mengangguk, itu tidak masalah baginya. Dengan mama Leon mau menerima makanannya saja sudah membuat ia lega dan senang.

__ADS_1


"Aku pergi dulu, ma. Jaga diri mama baik-baik selama di sini, ya!" pesan Leon sebelum akhirnya pergi bersama istrinya.


Emely tersenyum menyeringai melihat kepergian putra dan menantunya.


"Setidaknya aku bisa manfaatkan makanannya. Makanan di sini seperti makanan untuk seekor kucing," ujarnya.


Emely membuka kotak makan tersebut, terdapat nasi dan juga lauk pauk di sana.


"Lumayan," gumamnya.


***


Di perjalanan pulang, Lily mengungkapkan rasa senangnya pada Leon. Setudaknya itu bisa jadi awal yang baik untuk hubungan mereka.


"Meski mama Emely sekarang harus mendekam di penjara, tapi aku sangat bahagia jika beliau sudah menerima aku sebagai menantunya," ungkap Lily.


Leon menoleh ke arah istrinya sekilas. Ia juga merasakan hal yang sama. Ia berharap ke depannya mamanya bisa berubah lebih baik lagi.


"Iya, sayang."


Kini keheingan menyelinap di antara mereka, hanya sebuah mesin mobil yang terdengar. Tiba-tiba saja ponsel Lily mendapat notifikasi pesan masuk.


"Dari siapa?" tanya Leon.


"Tidak tahu, aku baca dulu sebentar," sahut Lily.


08xxx:


Hai, Ly. Ini aku Hiko, aku lagi butuh karyawan baru nih buat di tempatkan di resto. Kalau ada yang cari loker segera hubungi aku, ya!


"Dari Hiko," jawab Lily tanpa beban.


Sementara telinga pria di sampingnya merasa panas begitu mendengar nama itu.


Leon mengambil ponsel Lily dan membaca isi pesan tersebut.


"Tidak usah di balas, tidak penting. Itu cuma modus biar bisa chatingan denganmu," kata Leon ketus.


"Tapi temen aku Ridwan lagi butuh loker, ini kabar bagus buat dia," kata Lily.


Mendengar nama laki-laki lainnya lagi di sebut-sebuf oleh Lily membuat Leon semakin kepanasan. Kenapa teman Lily itu harus laki-laki?


"Siapa lagi Ridwan?"


"Temanku."


"Mulai sekarang tidak usah berteman dengan laki-laki. Apapun itu alasannya!" pinta Leon tidak dapat di ganggu gugat.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2