MENGANDUNG ANAK CASSANOVA

MENGANDUNG ANAK CASSANOVA
Urusan Pekerjaan


__ADS_3

Hari sudah larut malam. Leon baru saja menyelesaikan pekerjaannya di laptop. Ia bangkit dari duduknya menuju tempat tidur, lalu duduk di tepi ranjang.


Pandangannya tertuju pada perut datar sang istri yang tengah terbaring terlentang di atas kasur dengan kondisi terlelap. Leon menyingraikan anak sulur rambut yang menutupi pelipis Lily. Satu kecupan singkat pria itu daratkan di kening sang istri. Tiba-tiba saja kelopak mata Lily perlahan bergerak dan matanya mulai terbuka.


"Leon.. Sudah selesai?" tanya Lily seraya bangun.


Leon mengulas senyum. "Sudah. Kau kenapa terbangun? Ayo tidur lagi!"


"Aku bukan tidur, aku ketiduran. Maaf ya, tadinya aku mau nungguin untuk tidur bareng, tapi aku gak kuat ngantuk banget."


"Ya sudah kalau begitu tidur lagi."


Lily hendak membaringkan tubuhnya kembali, namun ia melihat seperti ada yang mengganggu pikiran suaminya. Entah apa.


"Kenapa?" tanya Lily.


"Kenapa apa?" Leon malah bertanya balik.


"Aku merasa ada yang kau sembunyikan dariku. Benar kau menyembunyikan sesuatu dariku?"


Leon menghela napas berat. Ia menatap sang istri cukup serius.


"Sebenarnya ada yang ingin aku katakan padamu," ungkap Leon.


"Apa itu?" tanya Lily penasaran.


"Lusa aku harus pergi keluar kota, ada urusan selama dua Minggu kedepan," terang Leon jujur.

__ADS_1


Lily terdiam. Sebenarnya Leon merasa sangat berat dengan situasi sekarang, ia tidak tega meninggalkan istrinya di rumah sendiri meski hanya dua Minggu. Pasalnya Lily ini tengah mengandung. Dan ia tidak bisa meninggalkan urusan pekerjaan itu.


"Jika itu untuk urusan pekerjaan, aku tidak apa-apa. Ada bi Ratih juga kan di rumah, atau aku bisa tinggal di rumah ayah ibu selama kau tidak ada, seperti waktu itu," jawab Lily.


"Tapi aku tetap saja merasa berat, sayang. Dua Minggu aku tidak bertemu denganmu."


"Kita kan masih bisa bertukar pesan, telepon, atau video call."


"Tetap saja, aku tidak kuat rasanya."


Lily mengulas senyum. Tentu saja Leon tidak bisa lama-lama jauh darinya, sebab Leon merupakan tipe pria yang manja jika mereka berduaan.


"Aku akan merindukan ciummu, pelukanmu, tubuhmu dan sentuhan kenikmatan-"


"Iiihhh.. Kau selalu saja memikirkan kenikmatan. Ingat, aku ini sedang hamil, sayaaang..."


"Nanti kita bisa melakukannya lagi setelah kau pulang," jawab Lily.


"Benarkah? Janji?"


Lily menganggukan. "Aku akan memuaskan suamiku, tapi.."


"Tapi apa?" tanya Leon dengan tidak sabar.


"Tapi ingat, main lembut jangan kasar-kasar. Kasihan anak kita di dalam."


"Iya, sayang. Aku pasti tidak akan sampai melukai anakku di dalam perutmu. Janji."

__ADS_1


"Iya. Bagaimanapun, aku ini sedang MENGANDUNG ANAK CASSANOVA."


Leon menyunggingkan sebelah sudut bibirnya, lalu berlanjut menggesek-gesekkan ujung batang hidungnya pada belahan gunung kembar Lily yang terlihat semakin membesar setelah hamil sekarang ini.


***


Keesokan harinya, di tempat tinggal pak Tio.


"Lily mau kemari, Bu?" tanya pak Tio saat sedang sarapan singkong goreng di ruang tengah.


Bu Hesti yang baru saja meletakan teh manis di atas meja hadapan suaminya ikut duduk di kursi panjang.


"Iya," jawab Bu Hesti membenarkan.


"Memangnya ada apa? Bertengkar dengan Leon? Ayah dengar tadi di telepon mau nginap dua Minggu di sini."


"Bukan, mana ada bertengkar. Jadi nak Leon ada urusan pekerjaan di luar kota. Makanya Lily memutuskan untuk menginap di rumah kita selama nak Leon di sana," jelas Bu Hesti.


"Ohhh.. Ayah pikir ada apa."


"Makanya ibu mau pergi ke pasar belanja, nanti ibu ikut, ya."


"Iya, ikut di ban saja, ya," jawab pak Tio.


Bu Hesti menyubit lengan pak Tio kesal, sementara pria paruh baya itu malah tertawa cekikikan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2