MENGANDUNG ANAK CASSANOVA

MENGANDUNG ANAK CASSANOVA
Kabar Buruk


__ADS_3

Leon sudah tampak rapi dengan stelan jas kantor biasa ia pakai. Ia berjalan menuju ruang makan, di sana menu sarapan sudah tersaji di meja makan. Sudah ada Lily juga di sana yang tengah menunggu dirinya.


"Selamat pagi," sapa Lily dengan senyum yang mengembang menyambut sang suami.


Leon menarik salah satu kursi kemudian ikut duduk di hadapan istrinya. "Pagi.." balasnya.


"Ayo sarapan!"


Lily berusaha mengambilkan sarapan untuk suaminya. Sementara Leon terus memandang ke manapun istrinya bergerak dengan senyum.


Leon merasa seperti menemukan kehidupan baru sekarang. Biasanya ia harus menelan banyak kekecewaan lantaran lagi-lagi harapannya untuk sekedar sarapan maupun makan bersama harus terkubur dalam-dalam.


"Leon.." Lily menggibaskan tangannya di depan wajah suaminya, sebab itu merupakan panggil ke sekian kali, Leon terus saja memandang dirinya sambil melamun.


"Hm, iya?"


"Sudah siap, ayo makan!" ucap Lily menyadarkan pria itu.


"Iya, terima kasih."


Leon pun menyendok menu sarapan pagi mereka. Lily memang bukan seorang koki, tapi wanita itu pandai sekali memasak.


"Kenapa? Asin lagi?" tanya Lily menunggu pendapat Leon tentang masakannya.


"Enak, kau pintar sekali memasak," pujinya.


"Terima kasih," ucap Lily.


Mereka pun menyantap sarapan masing-masing. Lily senang karena akhirnya Leon bisa cocok dengan masakannya.


"Oh ya, bagaimana dengan bagian intiim mu? Sakit tidak?"


Pertanyaan Leon nyaris membuat Lily tersedak.


Sepagi ini kenapa Leon harus menanyakan hal itu? Ucap Lily dalam hati.


"Aku khawatir karena kau sedang hamil," sambung pria itu.


"Sedikit," jawab Lily tanpa berani memandang ke arah pria itu.


"Syukurlah kalau begitu, nanti kita bisa main lagi."


"Uhuk.. Uhuk.. Uhuk.." Lily jadi tersedak, ia segera meraih gelas berisi air putih yang sebelumnya sudah di tuangkan.


Leon tersenyum kecil melihat reaksi istrinya membicarakan hal seperti itu.


"Leon.. Kenapa harus membahas perihal itu sepagi ini, sih?" protes Lily setelah merasa lebih baik.


"Tapi dalam hati kau pasti menginginkannya lagi kan?" goda Leon.


"Iihh.. Apaan, sih? Enggak!"


"Bohong. Buktinya kau menikmatinya."


"Jangan bahas hal itu lagi, Leon!"


"Biarin saja. Lagipula kau itu enak. Milikmu besar dan empuk."

__ADS_1


"Leoooonnn..!" Lily menimpuk pria itu dengan tisu yang ia kepal-kepal. "Berhenti membahas hal itu..! Aku malu."


Leon tak ingin berhenti menggoda istrinya sampai di sana, ia terus melontarkan kata yang membuat Lily semakin malu. Begitupula dengan Lily, ia terus menagambil lembaran tisu untuk di lempar ke arah suaminya.


***


Saat sampai di kantor, Leon melihat dua security-nya tengah berdebat dengan seorang wanita. Ada Drew juga di sana.


"Ada apa ini?" tanya Leon menghentikan perdebatan di antara mereka.


Baru saja Drew akan menjelaskan apa yang terjadi, tetapi wanita itu sudah menghampiri Leon dan bergelayut manja di lengan pria itu.


"Leon.. Mereka menyakitiku," ringis wanita itu manja.


"Tuan Leon, dia wanita yang kemarin," ucap salah satu security memberi tahu.


Leon menatap wanita yang masih bergelayut di tangannya. "Mau apa kau mencariku?"


"Apa aku harus mengatakan di depan mereka?" jawab wanita itu.


Leon memandang ke arah Drew dan dua security-nya. Lalu ia mengajak wanita tersebut untuk ikut dengannya.


"Tapi tuan, bukankah kau-"


"Jangan mencampuri urusan pribadiku, Drew! " pungkas Leon.


Drew menatap kepergian tuannya dengan wanita barusan. Ia menghela napas, rupanya kekhawatirannya akan terjadi hari ini. Ia tidak bisa membayangkan perasaan istri tuannya jika tahu sifat asli tuannya itu.


"Leon.. Aku merindukanmu.." ungkap wanita itu usai menjatuhkan dirinya di sofa ruangan Leon.


Leon tak menanggapi ucapan wanita tersebut. Ia hanya fokus pada layar ponselnya.


Leon melepaskan tangan wanita itu dari tubuhnya. "Jangan menyentuhku! Aku tidak mau mengulang permainan dengan wanita yang sama."


Wanita itu tercengang. Ia pikir Leon akan bereaksi yang sama seperti waktu itu.


"Kenapa? Aku ini cantik, seksi, apa kau tidak tertarik untuk melakukannya lagi dengan denganku?"


"Tidak, kau sudah tidak lagi menarik!" jawab Leon ketus.


"Aku bisa memuaskanmu, Leon. Kau cukup diam, biarkan aku yang melakukan sendiri."


"Pergi atau aku akan melakukan kekerasan padamu!" usir Leon.


"Aku tidak akan pergi sebelum kau memenuhi keinginanku!" seru wanita itu.


Leon menatap wanita itu dengan seringai. Bisa-bisanya dia memaksa Leon. Padahal biasanya ia yang memaksa para wanita.


Leon mendial nomer security nya. "Ke ruanganku sekarang!"


Usai menelepon securitynya, tidak lama kedua security itu datang.


"Seret dia, dan pastikan dia tidak lagi menampakan wajahnya di hadapanku!" titah Leon


"Baik, tuan."


"Lepas! Leon, aku tidak bisa mengusir bayang-bayang kemesaraan kita, Leon! Tolong jangan seperti ini! Leon.. Leon..!"

__ADS_1


Wanita itu di seret paksa oleh kedua security tersebut. Kini tinggal Leon seorang di ruangannya. Ia merasa menyesal karena pernah main dengan wanita itu.


Leon menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Ia menatap langit-langit, seketika wajah Lily terlintas di pikirannya. Tanpa sadar kedua sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman. Terlebih bayang-bayang kemarin sore membuatnya ketagihan untuk bersenang-bersenang dengan Lily.


Ting..


Suara notifikasi pesan masuk ke dalam poselnya. Ia segera membaca pesan tersebut.


Lily:


Sudah sampai?


Pesan tersebut di kirim oleh Lily, mereka sudah bertukar nomer hp sebelumnya. Leon segera membalas pesan tersebut.


Leon:


Belum


Lily:


Kenapa? Macet?


Leon:


Ini di perjalanan pulang. Ada yang ketinggalan.


Lily:


Apa?


Leon:


Sperm-ku di rahimmu.


Lily:


[Emoticon Marah bertanduk]


Leon tertawa melihat balasan dari istrinya. Ia terus menggoda Lily melalui pesan teks yang membuat Lily akhirnya tidak lagi membalas pesan darinya.


***


Hari ini Leon memutuskan untuk pulang lebih awal. Entah kenapa ia merasa rindu sekali dengan Lily, padahal baru beberapa jam beberapa di kantor. Ia juga berniat untuk membelikan bunga untuk Lily agar wanita itu tidak lagi ngambek padanya karena ia tak juga berhenti menggoda sejak tadi pagi.


Baru saja akan memasuki mobil, mendapat telepon dari supir pribadinya.


"Halo, ada apa?"


"Tuan Leon, nyonya Emely mengalami kecelakaan," ujar supir pribadinya memberi tahu.


Tubuh Leon seketika melemas, ia tak lagi menanyakan apapun selain rumah sakit tempat mamanya di larikan. Dan begitu akan melajukan mobil, ponselnya kembali berdering. Begitu di lihat, itu telepon dari Lily.


"Halo, Ly. Mamaku-"


"Nak Leon, ini ibu. Cepat pulang, nak. Lily pendarahan," ujar bu Hesti dari sebrang sana.


"Ya Tuhan.."

__ADS_1


Tubuh Leon benar-benar lemas sekarang. Ia di beri kabar buruk tentang dua orang penting dalam hidupnya. Ia tidak tahu harus kemana dulu sekarang. Ke rumah sakit menemui mamanya atau pulang untuk Lily?


Bersambung...


__ADS_2