
Malam ini Drew mengajak Chika pergi ke sebuah tempat, dimana jauh dari kata keramaian. Sebuah tempat yang hening, sejuk, damai dan tenang.
Sebuah tempat yang menyajikan keindahan alam di bawah langit malam, beruntungnya suasana malam ini mendukung. Cahaya sinar rembulan juga Kerlip bintang menghiasi langit cakrawala.
"Tempatnya indah, yah .." ujar Chika tanpa melepaskan pandangan dari sekitar.
"Ada yang lebih indah daripada tempat ini," jawab Drew.
"Apa?" tanya Chika sembari menoleh ke arah pria yang duduk di sampingnya.
Drew menatap Chika cukup dalam, sehingga Chika bisa merasakan sedikit getaran dalam hatinya. Sebelumnya Drew belum pernah menatapnya seperti sekarang.
"Kau," jawab Drew dengan seulas senyum yang mengembang di kedua sudut bibirnya.
Chika mengulum senyum. Sudah empat bulan ini mengenal Drew, baru kali ini ia mendangar gombalan dari pria itu.
"Aku boleh meminta sesuatu padamu?" tanya Drew kemudian.
__ADS_1
"Iya, apa?"
"Pejamkan matamu!"
Tanpa bertanya banyak hal, Chika pun segera memejamkan kedua matanya.
"Apa yang sekarang kau lihat?" tanya Drew lagi, kedua tangannya sibuk mencari sesuatu di balik saku jasnya.
Chika menggeleng. "Tidak ada. Aku tidak melihat apapun. Hitam, gelap."
Drew memegang benda di depan wajah Chika. "Maka jika ingin hidupmu berwarna, maka bukalah matamu sekarang!"
Chika membungkam mulutnya yang terbuka, ia menoleh ke arah Drew dengan penuh rasa tidak percaya. Seolah tahu apa yang ada di dalam pikiran gadis itu, buru-buru Drew mengatakan hal yang sejujurnya.
"Will you marry me?"
Mendengar hal tersebut membuat Chika menangis haru, Drew melamarnya. Pria itu kini bersimpuh di hadapannya, menekuk kedua lutut di tanah dengan sebelah tangan menyodorkan sebuah cincin permata indah.
__ADS_1
"Aku ingin kau bukan hanya sekedar menjadi istriku, tapi teman hidupku. Ibu dari anak-anakku. Pengganti ibuku. Seorang makmum yang ingin aku tuntun sampai surga-Nya," imbuh Drew.
Chika sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Air matanya kini jatuh, menangis bahagia, tangisan haru. Ia menengadahkan wajahnya ke atas, mencoba mengontrol diri, sebelum akhirnya ia mengangguk.
"Iya, tentu saja aku mau, Drew. Aku mau menjadi istrimu, teman hidupmu, ibu dari anak-anak kita, namun untuk pengganti sosok ibumu, beliau tidak akan pernah tergantikan. Aku akan memberikan kasih sayang ini setulus hatiku, semampuku," jawab Chika.
Drew betul-betul senang dan tidak menyangka jika Chika mau menerima lamarannya. Lalu ia menyematkan cincin tersebut di jari manis tangan Chika.
Chika lekas bangun berdiri dan memeluk tubuh Drew saking senangnya. Drew membulatkan matanya sempurna, meneguk salivanya dengan susah payah, kedua gunung kembar Chika benar-benar terasa di dadanya. Ia berusaha tidak membalas pelukan Chika. Tapi tidak lama setelah itu, ia buru-buru melepaskan pelukan tersebut. Ingat akan sesuatu.
"Maaf, aku terlalu bahagia," ucap Chika sadar jika mereka belumlah pantas melakukan hal seperti demikian.
"Iya, tidak apa-apa," jawab Drew seraya mengontrol dirinya yang hampir lepas kendali.
Kini hanya ada kecanggungan di antara mereka, sebelum akhirnya mereka mulai lagi pembicaraan mengenai pernikahan.
Bersambung...
__ADS_1
Mohon untuk terus dukung Novel ini ya teman-teman. Like, komen, favorit, hadiah, dan vote.