MENGANDUNG ANAK CASSANOVA

MENGANDUNG ANAK CASSANOVA
Masa Pemulihan


__ADS_3

Dokter menyatakan jika Lily harus di rawat selama satu minggu ke depan untuk masa pemulihan. Leon dan bu Hesti tidak merasa keberatan selama itu yang terbaik bagi Lily. Meski merasa masih berat lantaran harus kehilangan janin yang ada di dalam perut wanita tersebut.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Lily bisa keguguran?" tanya pak Tio yang baru saja datang, beliau di jemput dan di kabari oleh Drew sesui permintaan Leon.


"Aku juga tidak tahu pasti. Kata ibu, sepertinya Lily terpeleset akibat banyak tumpahan minyak di lantai. Aku akan coba memerikasa cctv untuk lebih jelasnya," jawab Leon.


"Pastikan penyebab yang sebenarnya secepatnya!" pinta pak Tio di angguki oleh Leon.


***


Emely tak kunjung mendapati suaminya datang ke rumah sakit untuk menjenguknya. Padahal ia sudah menelepon meminta agar Xander segera datang.


Ting..


Emely mendapati notifikasi pesan masuk je dalam ponsel yang tergeletak di atas meja samping ranjang pasien. Ia meraih ponsel tersebut dengan susah payah, berharap jika suaminya akan segera datang menjenguk. Tapi ternyata, senyumnya perlahan memudar mendapati pesan dari suaminya jika tidak bisa ke rumah sakit dengan alasan sibuk ada pekerjaan lain.


Emely menghela napas berat. Ternyata benar apa yang di katakan oleh Leon, jika suaminya tidak akan bisa meluangkan waktu bahkan saat dirinya dalam keadaan terbaring di rumah sakit.


Emely mencari nomer Leon di kontaknya. Ia ingin sekali menekan ikon 'call' di layar ponselnya. Tetapi entah kenapa rasanya berat sekali. Akhirnya ia urungkan, ia tidak mau jika Leon akan mengejeknya nanti.


***


Satu minggu berikutnya, Lily sudah di perbolehkan pulang. Wanita itu masih tampak syok dengan kenyataan yang menyatakan jika dirinya keguguran. Tetapi Leon selalu berusaha menenangkannya.


"Susah, jangan sedih. Kita bisa buat lagi nanti, " ujar Leon saat sedang menyuapi Lily sarapan terakhir di rumah sakit.


Lily mencubit lengan pria itu. "Iiihhh.. Bisa-bisanya bercanda di tengah duka seperti ini," kata Lily kesal.


Leon mengulas senyum setelah satu minggu terakhir ini tidak mendapat cubitan dari istrinya. "Aku tidak bercanda, Ly. Aku hanya berusaha agar kau mengikhlaskannya. Kita buat lagi nanti malam di rumah, ya?!"


Lily kembali mencubit lengan pria itu lebih keras dari sebelumnya.


"A a awwww..." pekik Leon. "Kenapa sih hobi banget nyubitin aku? Sakit tahu!"


"Biarin, wleee..."


Lily menjulurkan lidahnya mengejek sang suami, tapi dengan cepat Leon ikut menjulurkan lidahnya dengan di tempelkan ke ujung liah Lily.


Lily spontan membulatkan matanya.


"Manis," ujar Leon.

__ADS_1


"Iiiihhhh..." Lily menghujani Leon dengan pukulan-pukulan kecil, pria itu terkekeh mendapat reaksi Lily seperti sekarang.


"Aww.. Hentikan..! Hahaha.. Hentikan, sayang..!" Leon berhasil menangkap kedua pergelangan tangan Lily, ia lalu menatap wanita yang lagi-lagi tercengang mendengar panggilan baru darinya.


"Kenapa?"


Lily menggeleng. "Tidak, aku tidak apa-apa!"


Lily berusaha mengalihkan pandangannya ke sembarang arah, bertatapan dengan Leon berlama-lama membuat irama jantungnya berdetak tidak karuan.


"Salting sampe segitunya," goda Leon.


"Si-siapa yang salting? Aku biasa saja," sahut wanita itu tanpa berani menatap suaminya.


"Mmmmm... Menggemaskan sekali!" Leon menggigit pelan buah pipi Lily saking gemasnya, tentu saja hal itu membuatnya lagi-lagi mendapat serangan berupa cubitan.


Usai di beri vitamin, dan apa saja yang tidak boleh Lily lakukan oleh Dokter selama masih dalam proses pemulihan, Leon beserta keluarga Lily kini pulang. Tidak ada pembicaraan di dalam mobil, suasana tampak hening, Leon berusaha menahan tawa melihat pipi Lily merah dan ada bekas gigitannya.


"Ibu nginap saja di sini untuk beberapa hari boleh kan nak Leon?" pinta bu Hesti, beliau masih sangat cemas akan kondisi putrinya.


"Tentu saja, bu," jawab Leon setuju.


"Tidak apa-apa, ayah," jawab Lily.


"Oh, ya, jadi apa yang sebenarnya terjadi sampai kamu mengalami keguguran, nak?" tanya pak Tio kemudian, lantaran mengatakan beberapa hari lalu jika cctv rumahnya bagian dapur itu mengalami masalah.


"Mmm.. Maafin aku ibu, ayah, Leon..!" ucap Lily seraya menundukan wajahnya di hadapan mereka bertiga. "Aku ceroboh sekali," imbuhnya.


Leon mengerutkan keningnya. "Ceroboh?"


Lily mengangguk membenarkan. "Iya. Aku tidak sengaja menyenggol botol minyak goreng sampai tumpah, dan begitu akan aku bersihkan, aku malah terpeleset dan perutku terbentur ke sudut meja makan," jelasnya.


Dugaan bu Hesti ternyata benar. Pengakuan Lily membuat Leon sedikit lega, lantaran awalnya ia berpikir jika yang terjadi ada hubunganya dengan kecelakaan sang mama.


"Tidak perlu minta maaf, lagipula itu bukan sebuah kesalahan, tapi ini musibah," tutur Leon bijak.


"Terima kasih, Leon. Awalnya aku berpikir jika kau akan marah padaku," ucap Lily.


"Mana mungkin aku marah sama orang yang menggemaskan sepertimu," goda Leon di depan kedua orang tua Lily.


Pak Tio dan bu Hesti mengulum senyum, terlebih wajah Lily kini sudah merah seperti udang rebus.

__ADS_1


Lily berkomat-kamit memberi kode agar Leon tidak melanjutkan menggodanya.


"Ya sudah kalau begitu ayah pamit pulang, ya," pamit pak Tio sambil bangkit dari duduknya.


"Iya, ayah, hati-hati, jangan ngebut-ngebut di jalan!" pesan bu Hesti.


"Iya, bu. Gak ngebut-ngebut, kok, cuma gaspoll aja biar kayak pembalap Marquez," sahut pria paruh baya itu sembari memperagakan jadi seorang pembalap.


"Ayah ini," bu Hesti memukul lengan suaminya pelan.


Sementara Lily dan Leon menahan tawa melihat keakraban kedua orang tua Lily. Seketika Leon tertegun, mungkin ia akan merasa paling beruntung jika memiliki orang tua seperti orang tua Lily. Tapi ia sangat bersyukur bisa berada di tengah-tengah keharmonisan keluarga tersebut. Dan kembali berharap suatu saat orang tuanya pun bisa bersikap seperti kedua mertuanya itu.


Lalu ia jadi kepikiran mamanya, apa mamanya sudah pulang? Supir pribadi mamanya juga belum ada mengabari tentang perkembangan mamanya di rumah sakit.


Usai pak Tio berpamitan, Leon juga pamit ikut undur diri. Ia berpamitan pada Lily dan ibu mertuanya.


"Aku pemit keluar sebentar, ya! Bu, aku titip Lily sebentar tidak apa-apa, kan?"


"Iya, nak Leon. Tidak apa-apa."


"Memangnya kau mau kemana?" tanya Lily penasaran.


Leon mengulas senyum pada Lily, berusaha menyembunyikan tentang kecelakaan mamanya. Ia tidak ingin Lily kepikiran dalam kondisi dirinya juga sedang berada dalam tahap pemulihan.


"Aku lupa ada janji dengan Drew pagi ini," jawab Leon bohong.


"Oh.. Ya sudah, hati-hati!"


"Iya."


Lily mencium punggung tangan Leon, kemudian pria itu mencium punggung tangan bu Hesti sebelum akhirnya pergi dari sana.


Lily mengerutkan keningnya, memandang suaminya dengan tatapan curiga.


Sepertinya ada yang Leon sembunyikan dariku? Batin Lily.


"Nak.. Istirahat, ya!" ajak bu Hesti dan mendapat anggukan dari putrinya itu.


"Iya, bu."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2