MENGANDUNG ANAK CASSANOVA

MENGANDUNG ANAK CASSANOVA
Terbongkarnya Kehamilan Lily


__ADS_3

Lily masuk ke kamar dengan langkah tergesa, Leon terus mengejar wanita tersebut agar tidak ada kesalah pahaman yang terjadi. Bu Hesti yang melihat putri dan menantunya berjalan demikian, refleks khawatir terjadi sesuatu.


"Ya Allah.. Ada apa dengan mereka?" gumam bu Hesti, ia berharap tidak terjadi apapun pada rumah tangga putrinya.


Leon menarik lengan Lily dan membawa wanita itu ke dalam pelukannya.


"Lepas..!" seru Lily berusaha memberontak, tetapi Leon semakin mempererat pelukannya.


"Leon.. Lepaskan..!"


"Tidak akan," jawab pria itu. "Aku akan mengatakan yang sejujurnya."


Lily tidak ingin mendengar apapun alasan Leon saat ini, sebab ia tahu jika Leon pasti akan membohonginya lagi.


"Lepas.."


"Aku tahu aku salah, aku minta maaf. Please, dengarkan penjelasan aku dulu, Ly!" ucap Leon dengan tulus.


Akhirnya Lily menyerah, ia memilih diam dalam dekapan suaminya. Leon membelai lembut pangkal rambutnya, sebelum kemudian mengajaknya untuk duduk di tepi ranjang.


Leon menangkup kedua pipi Lily agar wanita itu mau menatap matanya, menyaksikan jika dirinya tidak lagi berkata bohong.


"Aku salah telah membohongimu, sebab ada hal yang tidak bisa ku katakan agar kau tidak sampai kepikiran. Aku mencemaskan kondisimu yang belum sepenuhnya baik-baik saja," ucap pria itu.


"Apapun itu seharusnya kau tidak membohongiku," cetus Lily.


Leon menghela napas. "Iya, aku tahu. Tapi yang ku lakukan semata demi kebaikanmu juga, demi kesehatanmu."


Lily melepaskan tangan Leon di pipinya, lalu berubah menggenggam tangan kekar milik suaminya itu.


"Aku baik-baik saja. Aku sudah pulih," ucap Lily meyakinkan.


"Baiklah, aku harap kau percaya dengan apa yang akan aku katakan. Sungguh, aku tidak bermaksud untuk membohongimu."


"Iya, Leon."


"Saat kau mengalami keguguran, sebenarnya saat itu juga mamaku kecelakaan."


Lily membungkam mulutnya. "Terus sekarang kondisi mamamu bagaimana? Apa dia dia baik-baik saja? Apa yang luka? Apa-" tanya Lily memburu.


"Itu sebabnya aku membohongimu. Aku takut kau cemas seperti sekarang," pungkas Leon.


"Tapi, Leon-"


"Tidak usah terlalu di pikirkan. Lagipula kondisi mama sekarang sudah lebih baik, aku tadi sebenarnya pergi ke rumah mama untuk melihat kondisinya."

__ADS_1


Lily menatap Leon dengan penuh rasa bersalah, lantaran ia sudah berpikiran yabg tidak-tidak akan suaminya.


"Aku minta maaf kalau aku terlalu curiga denganmu, Leon. Aku pikir kau-"


"Bertemu dengan si Gemoy?"


"Iiih.. Enggak, aku gak kepikiran ke sana. Lagipula gak apa-apa juga kalau kau bertemu dengannya, dia kan adik sepupumu."


"Chika sudah kembali ke Prancis, kalaupun dia masih di sini di Villa singgahnya, kau pasti cemburu kalau aku bertemu dengannya."


"Enggak, aku gak cemburu."


"Tapi kalau waktu itu aku katakan dia pacarku, kau pasti cemburu kan?"


"Iiihhh.. Berhenti menggodaku, Leon..!" Lily kembali mencubit pinggang Leon, pria itu membalasnya dengan menggelitiki perut Lily.


"Awww.." Lily memeki kesakitan, Leon langsung berhenti dan menatap istrinya panik, ia lupa jika Lily baru saja mengalami keguguran dan pembersihan rahim.


"Ke-kenapa? Sakit? Aku minta maaf, Ly. Aku lupa, sakit, ya?"


Lily terlihat menahan sakit, tapi sedetik kemudian ekspresi wajahnya berubah menjadi biasa saja. Ia berupaya membohongi Leon agar pria itu berhenti menggelitiki dirinya.


"Tapi bohong," ujar Lily, ia kembali menyerang Leon dengan cubitan-cubitan kecil.


Tiga hari berikutnya, bu Hesti pamit pulang lantaran di rumah pak Tio tidak ada yang memasak. Leon sangat berterima kasih sekali kepada ibu mertuanya, lantaran sudah menemani Lily selama ia bepergian ke kantor. Untungnya juga, asisten rumah tangga yang sebelumnya Lily hubungi agar segera datang ke rumah, kini sudah tiba.


"Titip putri saya jika suaminya sedang keluar rumah, ya, bi," pesan bu Hesti kepada asisten rumah tangga tersebut.


"Iya, saya mah pasti akan menjaga nyonya Lily dengan baik, atuh," sahut bi Ratih dengan logat daerah yang khas.


"Terima kasih, kalau begitu saya permisi," pamit bu Hesti.


"Lily, jaga diri baik-baik ya, nak!" pesan bu Hesti usai merangkul tubuh putrinya sekilas.


"Iya, ibu. Terima kasih sudah menemani Lily," ucap Lily.


"Iya, sayang. Ibu pulang, ya. Kasihan ayahmu."


"Iya, hati-hati, bu."


Bu Hesti lantas masuk ke dalam mobil Leon, pria itu sudah menunggu mertuanya di dalam mobil duluan. Tidak lama kemudian, mobilpun sudah melesat dari pelataran rumah.


Sementara di perjalanan menuju rumah bu Hesti, Leon berusaha membuka percakapan dengan ibu mertuanya.


"Bu, aku boleh tanya sesuatu?"

__ADS_1


Bu Hesti yang semula memandang lurus ke depan kini menoleh ke arah menantunya. "Iya, nak Leon. Tanya apa?"


Leon diam sejenak, ia terlihat sedikit berpikir.


"Mmm.. Makanan kesukaan Lily apa, bu?"


Bu Hesti tersenyum. "Lily sukan makan apa saja, nak Leon. Lily orangnya gak pilih-pilih."


"Omnivora?"


"Itu kan julukan untuk binatang, nak Leon."


"Tapi kan Lily pemakan segala, bu."


Bu Hesti tersenyum kecil. Keheningan mulai menyelinap, hanya suara mesin mobil yang terdengar di antara mereka.


"Terima kasih sudah menerimaku di tengah-tengah keluargamu, bu," ucap Leon tiba-tiba.


Bu Hesti memandang ke arah menantunya, terlihat ada raut wajah kesedihan di sana, entah apa yang ada di dalam pikiran pria itu tetapi mengingat kejadian saat orang tua Leon datang ke rumah, sepertinya bu Hesti mulai paham.


"Iya, nak Leon. Kami juga merasa senang nak Leon berada di tengah-tengah keluarga kami," jawab bu Hesti.


Leon menoleh ke arah bu Hesti dengan melemparkan senyum sebagai tanda ucapan banyak terima kasih.


Setelah memakan waktu kurang lebih dua puluh menitan, mobil yang di kemudikan Leon sampai di halaman rumah bu Hesti. Wanita paruh baya itu lekas turun dari mobilnya dan menawari Leon untuk mampir dulu ke rumah.


"Lain kali saja, bu. Aku harus segera pergi ke kantor," tolak Leon.


Pak Tio keluar dari rumah begitu mendengar ada suara mobil berhenti di depan rumahnya. Ternyata mereka istri dan menantunya.


Dari kejauhan, terlihat seorang perempuan dengan pakaian kerja khas minimarket berjalan ke arah rumah tersebut.


"Bu, bagaimana keadaan Lily pasca keguguran? Sekarang sudah membaik kan?" tanya pak Tio pada istri dan menantunya.


"Apa? Lily keguguran?" tiba-tiba saja perempuan tadi ikut menimpali lantaran tidak sengaja mendengar pertanyaan pak Tio.


Semua pasang mata tertuju pada perempuan yang baru datang itu.


"Yuna..?" seru bu Hesti.


"Maksudnya Lily keguguran apa, ya? Emangnya Lily hamil, ya? Kapan nikahnya?" pertanyaan Yuna barusan menyita perhatian para ibu-ibu yang kebetulan lewat depan rumah pak Tio.


Rasanya pak Tio dan Leon ingin menyumpal mulut perempuan itu, sebab rahasianya yang selama ini terjaga dengan baik kini mulai bocor akibat mulut Yuna yang tidak bisa di jaga.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2