MENGANDUNG ANAK CASSANOVA

MENGANDUNG ANAK CASSANOVA
OPERASI


__ADS_3

Leon melangkahkan kakinya dengan lebar dan berjalan tergesa begitu turun dari mobilnya yang terparkir di depan lapas tempat papanya di penjara. Usai mendapat kabar duka itu, ia buru-buru pergi dari rumah sakit. Lily di larang ikut dan meminta wanita itu untuk pulang saja.


Kedatangan Leon membelah kerumunan segelintir orang di sana. Dan begitu Leon melihat ayahnya sudah terbujur kaku dan di tutupi kain, kakinya melemas.


Tidak bisa di pungkiri, hatinya bagai di sayat pedang. Terluka, perih, pedih, melihat sosok papa yang selama ini belum bisa memberinya secuil kasih sayang kini sudah pergi untuk selamanya.


Suasana berubah menjadi hening. Leon melangkah lebih dekat ke arah mayat sang papa. Perlahan ia mulai berjongkok, tangannya gemetaran begitu terulur akan membuka kain yang menutup bagian wajah.


"Papa ..." ucap Leon lirih nyaris tak terdengar.


Satu tetes air matanya berhasil lolos dari benteng pertahanan pelupuk mata. Ia menggeleng hebat seakan tidak percaya dengan apa yang terjadi saat ini. Sampai akhirnya teriakan dari mulutnya terdengar melengking dan menggema di setiap ruangan, teriakan yang mampu menembus langit cakrawala.


"PAPAAAAAA ..... !!!!"


***


Proses pemakaman Xander pun selesai, Lily beserta pak Tio dan juga Bu Hesti ikut hadir dalam acara tersebut. Chika dan Lily berusaha menguatkan Leon.


"Ayah turut berduka cita atas meninggalnya papa kamu, Leon. Ayah yakin kamu pasti kuat dan tabah," ucap pak Tio turut berbela sungkawa.


"Iya, nak Leon. Ibu turut prihatin, ya," sahut Bu Hesti.


Leon mengangguk kemudian mengucapkan banyak terima kasih. Serta ia tidak lupa meminta maaf atas perbuatan papanya selama masih hidup.


Sementara pak Tio dan Bu Hesti pulang, Lily dan Chika masih menemani Leon di sana untuk beberapa saat.


"Tante Emely sudah tahu om Xander sudah tidak ada?" tanya Chika.

__ADS_1


Leon menggeleng lemah. "Jangan kasih tahu mama dulu. Aku takut kondisi mama justru akan drop jika mendengar berita ini. Bagaimanapun, papa ini masih suami mama," pinta Leon di angguki Chika.


"Iya, kak. Aku paham. Tante Emely pasti akan merasa sangat terpukul jika tahu kalau om Xander sudah meninggal."


"Iya, keadaannya sedang tidak memungkinkan. Biarkan mama tidak tahu dulu hal ini, sampai mama nanti selesai di operasi dan benar-benar sembuh. Aku yang akan mengatakan pada mama."


"Iya, kak."


Leon menoleh ke arah Lily yang berdiri di sampingnya. Wanita itu memberi seulas senyum untuk menguatkan. Kemudian Leon memeluk tubuh Lily sebagai penguat dirinya di kala rapuh seperti ini.


***


Keesokan harinya, Leon kembali mendapat kabar jika pihak rumah sakit harus segera mengambil tindak operasi terhadap Emely. Sebab jika di biarkan terlalu lama maka akan sangat fatal. Leon menyerahkan semuanya pada Dokter dan berserah pada Tuhan.


Chika meminta maaf lantaran tidak bisa datang ke rumah sakit dengan alasan tertentu. Jadi, hanya Leon dan Lily saat ini yang ada di sana, duduk menunggu di depan ruang operasi.


"Bagaimana operasinya, Dok? Apa mama saya bisa di selamatkan? Cepat katakan sesuatu, Dokter! Jangan membuat saya penasaran!"


Leon ingin sekali memaki Dokter tersebut lantaran lama sekali menjawab pertanyaannya.


"Bagaimana saya bisa menjawab pertanyaan anda, sedangkan anda tidak memberi saya celah untuk bicara!" kata Dokter itu.


Leon pun diam, kali ini ia tidak mengajukan pertanyaan lagi yang membuat Dokter itu pusing mendengarnya.


"Iya, Dok. Maaf." ucap Leon.


Dokter itu terdengar menghela napas sebelum akhirnya menjelaskan.

__ADS_1


"Alhamdulillaah.. Ibu an-"


"Alhamdulillaah ..." ucap Leon seraya mengusap wajahnya menggunakan kedua telapak tangan.


Dokter itu geleng-geleng kepala, belum sempat ia menjelaskan tapi Leon sudah lebih dulu mengucapkan kata syukur.


"Dokter belum selesai bicara, sayang .." bisik Lily tepat di telinga sang suami.


"Dokter sudah mengatakan alhamdulillaah, sayang ... Itu artinya mama selamat," jawab Leon dengan binar bahagia yang terpancar dari kedua bola matanya.


"Dan saya pesankan untuk anda, agar ibu Emely tidak dulu berhubungan seksual selama enam Minggu atau lebih pasca operasi ini," pesan Dokter membuat ekspresi wajah Leon seketika berubah.


"Kalau begitu, saya permisi," pamit Dokter itu.


Seketika tatapan Leon berubah kosong, ia menunduk dalam mendengar kalimat yang di sampaikan Dokter. Yang membuat ia sedih, kepergian papanya yang belum mamanya ketahui.


Lily mengusap bahu Leon dengan lembut, ia tahu apa yang sedang di pikirkan suaminya.


"Jangan takut, ini semua perihal waktu. Mama Emely tentu saja akan syok awalnya. Tapi aku yakin, mama Emely pasti mengerti kenapa kita menyembunyikan hal ini darinya," tutur Lily.


Leon menatap dalam istrinya. Benar, apa yang di katakan Lily memang benar. Semoga saja setelah ini Tuhan beri mamanya hidayah. Semoga setelah ini mamanya bisa berubah. Masih banyak lagi hal-hal yang di semogakan oleh Leon.


"Terima kasih, sayang ..." Leon mengusap lembut pangkal rambut Lily, lalu membawanya ke dalam pelukan.


Bersambung...


...Maaf, ya. Jika akhir-akhir ini aku terlambat update. Semoga kalian tetap menunggu kelanjutan cerita LEON & LILY. ...

__ADS_1


__ADS_2