
My Wife:
Leon.. Aku tadi dengar suara wanita. Siapa dia?
My Wife:
Leon... Kenapa kau tidak bisa aku hubungi? Kau sibuk, ya?
My Wife:
Sayang... Kau sedang dengan siapa? Siapa wanita itu?
My Wife:
Leon.. Sayang...
Puluhan chat dari Lily masuk ke dalam ponsel Leon begitu pria itu membuka ponselnya. Sejak menelepon dengan Lily tadi pagi, pria itu memang sengaja menonaktifkan ponselnya lantaran akan ada meeting penting setelah sarapan.
Leon merasa sangat bersalah sekali, apalagi Lily sampai mendengar suara temannya itu dan pasti istrinya sekarang tengah kepikiran.
Leon melakukan panggilan video call, tidak sampai sepuluh detik Lily sudah menjawab panggilannya.
"Halo, sayang..." panggil Leon begitu istrinya menjawab panggilan video call darinya.
"Iya, halo. Kenapa baru aktif?" tanya Lily dari sebrang sana.
"Iya, maaf. Kau sedang apa?"
Lily mengangkat satu kantong kresek jambu air untuk di perlihatkan pada suaminya. Wanita itu kini sedang duduk di teras rumah.
"Dari siapa? Beli?" tanya Leon.
"Tidak, ini dari tetangga baik. Tadi aku jalan-jalan sekitar rumah karena ibu mau masak. Terus aku lihat ada pohon jambu lebat sekali buahnya. Pemiliknya baik sekali, nawarin aku sampai petikin buat aku," kata Lily memberi tahu.
Leon bisa melihat betapa bahagianya raut wajah istrinya.
"Nanti pulang dari sini aku belikan sesuatu untuk membalas kebaikannya."
__ADS_1
"Benarkah?"
"Iya. Aku juga belikan oleh-oleh untukmu juga."
"Alhamdulillaah.. Ternyata masih ingat istri," ucap Lily.
Leon mengernyit. "Maksudmu?"
Lily menggeleng. "Tidak, tidak ada maksud apapun."
Leon teringat akan pertanyaan Lily di chat terkait siapa wanita tadi pagi yang sempat mengajak sarapan dengannya.
"Tidak usah berpikiran yang macam-macam, sayang. Percaya saja padaku. Perihal wanita tadi, itu namanya Kamina. Pemilik Apartemen yang saat ini aku tinggali, sekaligus Apartemen yang sering aku tinggali saat ada urusan seperti sekarang," jelas Leon seakan tahu apa yang sedang ada dalam pikiran istrinya.
Lily menghirup napas lega. Setidaknya ia bisa sedikit lebih tenang setelah mendengar penjelasan dari mulut sang suami sendiri.
"Aku hanya-"
"Cemburu?" pangkas Leon.
"Aku rasa sekarang kau yang begitu takut kehilanganku. Sebegitu besarkah cintamu untukku?" Goda Leon membuat Lily jadi salah tingkah, degup jantungnya kembali berpacu di atas normal.
Leon selalu bisa membuat hatinya tidak karuan, bahkan di situasi seperti sekarang.
"Kalau kau dekat, sudah aku cubit..!" Lily memperlihatkan gerakan cubitan di layar kamera, di sebrang sana Leon tertawa.
"Kalau nanti aku pulang, suguhi manjaan. Jangan cubitan, sayang..!" pinta pria itu.
"Tidak, aku pastikan aku akan mencubitmu sampai puas," sahut Lily.
"Ok, nanti aku pastikan juga kau akan mendapat serangan gigitan di berbagai titik," balas pria itu membuat Lily sedikit kesal, tapi ia suka bercanda demikian dengan Leon. Sebab hal itu yang semakin membuat hubungan mereka kian menghangat.
"Ya sudah, kalau begitu aku tutup panggilannya, ya. Aku mau makan siang dulu, setelah ini lanjut meeting lagi dengan Drew," pamit Leon.
Lily mengangguk. "Iya. Jaga hati selama di sana, jaga naafsumu juga," pesan Lily.
Leon mengulas senyum. "Pastinya, sayang. Sebab tidak ada yang lebih indah lagi dari tubuhmu sekarang."
__ADS_1
"Iiihhh.. Apaan, sih..!"
Lily kembali memperlihatkan tangannya yang hendak mencubit. Sementara Leon terkekeh di sana.
"Ya sudah, kalau begitu aku makan siang dulu, ya. Jangan lewatkan makan siangmu juga. Bye..!"
"Iyaaa.. Bye.."
Sambungan telepon pun di matikan, Lily menghela napas panjang. Sebelum kemudian ia bangkit dari duduknya untuk masuk ke dalam rumah. Sepertinya ibunya sudah selesai memasak.
"Nak Leon yang telepon?" tanya Bu Hesti begitu Lily sampai di meja makan.
"Iya, Bu. Kok ibu tahu, memangnya suaranya kedengaran sampai sini, ya?" jawab serta tanya balik Lily.
Bu Hesti mengulas senyum. "Tidak. Tadi ibu ke depan mau manggil kamu buat ngasih tahu makan siangnya sudah siap. Eh kamunya lagi nelepon."
"Ohh.. Aku pikir suara aku sampai kedengaran kesini."
Bu Hesti mengambil nasi untuk makan siangnya, sementara Lily mengambil sendiri.
"Oh ya, ngomong-ngomong Indah itu siapa? Kok tadi Leon sebut-sebut nama Indah," tanya Hesti tidak sengaja dengar tadi.
"Indah?"
"Iya, tadi ibu gak sengaja dengar nak Leon sebut-sebut Indah kayak gitu."
Lily terdiam sejenak. Ia baru ingat jika Leon tadi bilang tidak yang ada lebih indah dari tubuhya. Mungkin itu maksud ibunya.
"Ohhh.. itu. Bukan siapa-siapa, Bu. Tadi maksud Leon bukan Indah nama orang, tapi..." Lily terlihat berpikir sejenak. "Maksudnya dia di sana melihat taman yang sangat indah," ujar Lily bohong, sebab tidak mungkin juga jika ia jujur.
"Oohhh.. ibu pikir Indah nama orang."
"Hehehe.. bukan, Bu."
Lily memandang wajah ibunya dengan sedikit rasa bersalah lantaran sudah berkata bohong. Semoga saja ibunya tidak mendengar ucapan penuh Leon tadi.
Bersambung...
__ADS_1