MENGANDUNG ANAK CASSANOVA

MENGANDUNG ANAK CASSANOVA
MASALAH


__ADS_3

Setelah sepuluh menit menunggu, akhirnya Chika sudah bisa di perbolehkan untuk masuk ke dalam kamar rawat inap Emely. Gadis itu menarik kursi di sebelah ranjang pasien lalu duduk di sana.


Emely yang semula di minta untuk istirahat oleh Dokter, kini membuka matanya untuk melihat siapa yang datang.


"Chika..?" panggil wanita itu dengan nada yang terdengar sedikit parau.


Chika mengulas senyum lalu meraih buah tangan tantenya itu.


"Iya, Tante. Ini aku," jawab Chika tanpa memudarkan senyum di bibirnya.


"Leon mana? Kenapa bukan dia yang datang?" tanya Emely kemudian.


Chika menghela napas, sebelum kemudian mengatakan yang sebenarnya.


"Kak Leon sedang ada urusan di luar kota. Maka dari itu kak Leon meminta aku yang datang ke sini," jawab Chika jujur.


Emely menatap langit-langit yang kosong. Ternyata begini rasanya sakit dan tidak ada sang anak di samping. Apalagi begitu mendengar Leon lebih mementingkan urusan kerja di banding mamanya sendiri. Mungkin seperti inilah yang di alami Leon dulu, ia tidak perduli saat Leon dalam keadaan sakit sekalipun, ia hanya mementingkan pekerjaan yang membuat dirinya kini harus mendekam di penjara.


"Tante pikir Leon akan lebih pentingkan mamanya di banding mamanya sendiri," ujar wanita itu.


"Tidak, Tante. Bukan begitu. Kak Leon benar-benar tidak bisa meninggalkan urusan pekerjaannya saat ini. Bukan karena kak Leon tidak sayang Tante, tapi kak Leon pun posisinya sekarang harus meninggalkan kak Ly yang dalam keadaan mengandung," ralat dan jelas Chika.


Emely menoleh. "Dia mengandung lagi?"


Chika mengangguk membenarkan. "Iya, kak Ly sekarang sedang hamil, Tante."


"Kenapa mereka tidak memberi tahu Tante?" tanya Emely.

__ADS_1


Chika diam. Ia tidak tahu jika kakak sepupunya belum membagi kabar soal ini pada tentenya.


***


Pagi ini Leon berusaha menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat. Ia ingin cepat-cepat pulang. Ia tidak tenang mendengar mamanya sakit. Apalagi semalam Chika memberi kabar jika mamanya itu mengidap penyakit yang serius.


Beruntungnya, Drew memberi kabar baik. Jika dirinya besok sudah bisa pulang. Lantaran urusan kerja berikutnya bisa Drew tangani sendiri.


"Terima kasih banyak sudah membantuku, Drew. Nanti aku akan kasih bonus di akhir bulan," ucap Leon.


"Sama-sama, tuan. Itu sudah menjadi bagian dari tugasku," jawab Drew.


Percakapan singkat itu membuat Leon benar-benar bersyukur lantaran Drew selalu bisa ia andalkan. Bahkan dalam waktu seperti sekarang.


Setelah Drew pergi, Leon mencoba hubungi istrinya. Tapi ia tidak akan memberi tahu jika besok ia sudah bisa pulang. Biar ini jadi kejutan.


"Iya, ada apa? Sepagi ini tumben sudah telepon? Memangnya kau tidak sibuk?" tanya Lily dari sebrang sana.


"Sibuk, tapi aku berusaha luangkan waktu untuk menghubungi istriku," jawab Leon membuat Lily tersenyum mendengarnya.


"Oh ya, kau sudah sarapan?" tanya Lily memastikan.


"Sudah. Tapi rindu masakanmu, sayang.."


"Maaf, ya. Aku belum bisa masakin lagi, aku masih sering mual dan muntah kalau nyium bau masakan.." ucap Lily merasa bersalah.


"Tidak apa-apa. Aku paham, sayang. Selain rindu masakanmu, aku juga merindukan yang lain," ungkap pria itu.

__ADS_1


"Apa itu?"


"Nanti kalau kita sudah bertemu, aku akan tumpahkan rinduku ini. Siap-siap saja..!"


"Selalu saja ke arah sana, kau lupa aku sedang hamil," gerutu Lily.


"Tapi kan boleh."


"Tapi jangan kasar..!"


"Ok siap."


"Ya sudah kalau begitu aku mau temani ibu ke pasar dulu, ya."


"Iya, sayang. Hati-hati."


Panggilan video call pun di matikan. Leon menghela napas cukup panjang. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan istrinya besok. Pasti Lily akan sangat surprise begitu melihat kedatangannya.


Usai menelepon dengan sang istri, Leon berniat untuk mencharger ponselnya sebentar sebelum pergi. Tapi tiba-tiba ia mengurungkan niat begitu layar ponselnya menampilkan panggilan telepon.


"Halo.." ucap Leon begitu menerima panggilan telepon.


Terdengar suara gaduh di sana yang membuat Leon sedikit menjauhkan ponsel dari daun telinganya.


"Halo, tuan Leon. Maaf menelepon Anda pagi-pagi. Kami dari lapas XX ingin memberi tahukan jika tahanan atas nama Xander saat ini sedang membuat keributan. Di mohon untuk segera datang..!"


Leon menepuk jidatnya, masalah bertubi-tubi datang. Yang satu belum terselesaikan, masalah lain ikut berdatangan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2