MENGANDUNG ANAK CASSANOVA

MENGANDUNG ANAK CASSANOVA
Perihal Pembalut


__ADS_3

"Kak, maafkan aku, ya! Aku sama sekali tidak ada niatan membuka aib kakak di depan kak Ly..!" ucap Chika begitu ia berpamitan akan kembali ke rumah Villa.


"Iya, tidak apa-apa. Lagipula istriku tidak marah, kok. Dia sudah tahu semuanya," balas Leon sembari mengacak pangkal rambut adik sepupunya itu dengan gemas.


"Tapi aku merasa segan. Meski kak Ly sudah tahu kebenarannya, tetap saja hatinya pasti terluka mendengar ku bicara seperti tadi," Chika tetap cemas akan Lily.


"Itu biar urusanku nanti."


Chika menghela napas pasrah. "Ya sudah deh kalau begitu aku pulang dulu ya," pamitnya lagi.


"Hm. Hati-hati..!"


Leon membalas lambaian tangan Chika, sebelum akhirnya gadis itu pergi bersama taksi online yang sebelumnya sudah ia pesan. Setelah itu Leon kembali masuk ke dalam rumah menuju kamar, sebab sejak selesai sarapan tadi istrinya langsung pergi begitu saja ke kamarnya.


Leon tidak mendapati Lily di kamar. Tetapi suara gemericik air dari kamar mandi membuatnya bernapas lega. Mungkin Lily sedang mandi atau buang air kecil.


Tidak berapa lama, wanita itu keluar dengan tangan memegangi perut menahan sakit. Leon yang baru saja mendaratkan tubuhnya di sofa langsung bangkit berdiri dengan perasaan khawatir.


"Sayang... Kau kenapa..?"


Lily menggeleng. "Tidak apa-apa."


"Tidak apa-apa bagaimana? Kau sakit?"


Lily kembali menggelengkan kepalanya. "Ini hanya sakit biasa. Aku baru saja datang bulan," jelasnya.


Leon bernapas lega. Ia pikir Lily kenapa-kenapa. Pantas saja usai sarapan langsung ke kamar, rupanya itu.


Lily berjalan ke tempat ia biasa menyimpan pembalut, tetapi ternyata pembalutnya habis.


"Yaaahh.. Habis," keluhnya.


"Kenapa lagi, sayang?"


Leon menghampiri Lily lagi dan melihat stok pembalut istrinya sudah habis.


"Tidak usah khawatir, kau tunggu saja di sini. Biar aku yang beli ke minimarket."


"Tapi-"


"Sudah, tunggu saja!"


Leon bergegas mengambil kunci mobilnya dan segera pergi dari sana. Jarak dari rumah ke minimarket tidak terlalu jauh, hanya membutuhkan waktu sekitar lima menit jika menggunakan kendaraan.


Leon masuk ke dalam minimarket tersebut, ia keliling mencari pembalutnya. Kebetulan, belum terlalu ramai pembeli lantaran masih pagi. Dan sekarang ia berdiri di rak yang terdapat banyak pembalut.


Terdapat banyak merk di sana. Leon jadi kebingungan harus beli yang mana.


"Yang mana, ya?" pikirnya.


"Kalau aku pilih yang ini, nanti salah dan tidak cocok. Kalau pilih yang ini, nanti salah juga," ujarnya sembari memilih berbagai varian pembalut.


Leon menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Daripada bingung, ia pun memutuskan untuk mengambil semua jenis dan merk satu-satu. Ia masukan ke dalam keranjang sampai penuh. Setelah itu ia lanjut ke kasir. Pembeli lain yang ada di sana sampai di buat terkejut lantaran ada seorang pria tampan membeli sebuah pembalut. Dan yang lebih anehnya, semua di borong.


Kasir pun ikut melongo, tapi di sisi lain senang lantaran cepat laku.

__ADS_1


"Totalnya empat ratus dua puluh tiga ribu delapan ratus," kata kasir.


Leon menyodorkan lima lembar uang pecahan seratus ribuan.


"Ok, jadi kembaliannya-"


"Ambil saja!"


Leon langsung pergi usai mengambil dua tas kantong belanja berisi pembalut. Si kasir girang bukan main, sepagi ini dapat tip besar, lumayan untuk beli bakso.


Sementara di rumah, Lily menunggu suaminya yang katanya membeli pembalut. Sudah hampir lima belas menit tapi belum kunjung pulang. Selang beberapa detik, Leon kembali dengan dua tas kantong belanja berukuran besar di tangannya.


"Aku belikan semua merk pembalutnya," kata Leon sembari menaruh kantong belanja tersebut di atas tempat tidur.


Lily terbelalak. "Kenapa banyak sekali?"


"Aku tidak tahu kau biasa pakai yang mana?" jawabnya.


Lily menghela napas. "Manapun sama saja, Leooon.. Ini bisa stok sampai setahun."


"Kalau begitu nanti kau bisa bagi bi Ratih."


Lily di buat geleng-geleng oleh kelakuan suaminya. Bisa-bisanya borong pembalut sampai sebanyak itu.


"Alhamdulillaah... Ini teh buat bibi, nyonya?"


Bi Ratih senang sekali di beri sesuatu meski hanya sekedar pembalut.


"Iya, bi. Tadi Leon beliin pembalut untuk aku, eh tahunya semua merk di beli."


"Iya, bi. Kalau begitu aku balik ke kamar lagi saja, ya."


"Iya, nyonya."


"Oh ya, bisa tolong buatkan aku teh manis hangat, bi? Soalnya perut aku sakit banget, mungkin karena lagi datang bulan juga."


"Iya, nyonya. Bibi buatkan, ya."


"Terima kasih, bi," ucap Lily sebelum akhirnya pergi ke kamar.


***


Sementara di tempat Yuna kerja saat ini, yaitu di perusahaan yang di pimpin oleh suami temannya. Sudah beberapa hari ini ia tidak semangat kerja, lantaran sudah beberapa hari juga ia tidak lagi melihat sosok pria pujaannya. Terakhir ia lihat Drew bersama Yola, meski urusan pekerjaan tetap saja membuat mood-nya hancur.


"Selain sabar, kamu juga harus sadar, Yuna. Dia terlalu WAH untuk aku yang HAH. Dia terlalu starbak untuk aku yang kopi sasetan. Dia terlalu Kong Guan untuk aku yang hanya remahan rengginang," ujar Yuna sambil nangis di pojokan.


Baru saja mengeluh, tapi semangatnya kembali tumbuh begitu pujaannya itu kembali terlihat dari kejauhan. Yuna menyeka air matanya dan bangkit berdiri. Ia kembali pel lantai dan semangat bekerja.


"Selamat pagi.." ucap Yuna begitu Drew melintas di depannya.


"Pagi..." jawab Drew dengan wajah senyum tidak seperti biasanya.


Yuna membulatkan matanya sempurna, jantungnya tiba-tiba berdegup kencang. Entah mimpi apa ia malam tadi sampai mendapat senyum dari pria sang pujaan hati.


"Ya Allah.. Apakah ini awal baik dari semua do'a-do'aku..?"

__ADS_1


Sementara di ruang kerjanya, Drew tampak senyum-senyum lantaran ia baru saja mendapat chat dari Chika. Drew membaca pesan singkat itu berulang kali.


Chika:


Semangat kerja dan jangan lewatkan makan siang mu nanti!


Drew pun mengetikan balasan.


Drew:


Terima kasih.


Usai mengetikan balasan, Drew meletakan ponselnya di atas meja. Ia beralih pada laptopnya untuk memulai pekerjaan hari ini.


***


Saat hendak makan siang, Leon tidak sengaja melihat seorang pria yang sepertinya tidak asing baru saja masuk ke restoran yang akan ia datangi. Lantaran penasaran, Leon masuk ke restoran tersebut dan duduk tidak jauh dari mereka.


"Jadi bagaimana rencana mu menyelamatkan wanita tercintamu dari Leon? Sudah kau lakukan?"


Kalimat pertanyaan wanita itu membuat alis Leon menyatu. Kenapa wanita itu menyebut-nyebut namanya, suaranya pun tidak asing di telinganya.


"Kau penipu, Ava!" seru pria yang duduk semeja dengannya.


"Penipu? Apa maksudmu aku menipumu, Hiko?" tanya Ava tidak paham.


Sekarang Leon tahu siapa mereka.


"Kau mengatakan jika Leon sering mengajakmu untuk melakukan hal-hal yang mengkhianati Lily. Tapi justru kaulah yang membuat papanya mengkhianati ibunya, kan?"


Ava di buat ketar-ketir.


"Aku sudah tahu video skandal mu yang tersebar di media sosial. Kau menjadi simpanan papanya Leon. Dan apa yang kau ceritakan tentang Leon kemarin, itu pasti hanyalah akal-akalanmu dan ada maksud tertentu di baliknya," sambung Hiko.


"Apa maksudmu bicara seperti itu, Hiko? Apa yang aku katakan padamu itu fakta. Leon seorang CASSANOVA dan kau harus menyelamatkan wanita tercintamu itu darinya!" Ava terus saja menyangkal dan menyalahkan orang lain.


" Aku tidak akan pernah lagi bisa percaya ucapan orang lain begitu saja, apalagi jika itu keluar dari mulutmu!"


Hiko hendak beranjak dari sana, tetapi Ava mencegah pria itu dengan menarik pergelangan tangannya.


"Hiko, tunggu!"


Dengan cepat Hiko menepis tangan Ava. "Jangan pernah menyentuhku, kau terlihat menjijikan bahkan hina," ucap Hiko mengingat video yang ia lihat.


"Hiko... Aku bisa jelaskan padamu..! Percayalah padaku, Hikooo...!"


Ava mengejar langkah Hiko keluar dari restoran tersebut.


Sekarang Leon paham akan permasalahan mereka. Ternyata mereka mempermasalahkan sesuatu yang seharusnya tidak perlu di permasalahkan. Dan ternyata mereka berdua berniat menghancurkan rumah tangganya. Pantas saja Lily mengatakan pada orang tuanya tentang tidak perlu mendengar apapun tentang keburukannya. Rupanya feeling Lily sangat kuat.


Bersambung...


...LIKE, KOMEN, VOTE VOTE VOTE...


...Tekan LOVE dan beri HADIAH KOPI...

__ADS_1


...Follow ig @wind.rahma...


__ADS_2