
Pak Rete mengangguk-anggukan kepalanya mengerti bergitu pak Tio menjelaskan jika Lily sudah menikah dengan Leon di sebuah gedung sewa. Awalnya pak Rete ingin bertanya kenapa tidak ada konfirmasi ke pihak RT, mengingat rupanya ini alasan seperti dengan rumor yang beredar, lebih baik pak Rete diam. Yang terpenting mereka saat ini sudah sah.
Usai menghabiskan satu gelas kopi hitam, pak Rete di ajak Leon beserta pak Tio juga Lily ke kantor polisi untuk memberi sebuah keterangan juga kesaksian. Tentu saja pak Rete siap.
Sampai di kantor polisi terdekat, Leon, Lily, pak Tio, juga pak Rete bergegas masuk ke dalam. Mereka mendapati Xander bersama kedua anak buahnya tengah di introgasi. Ada dua warga juga sebagai perwakilan kesaksian atas apa yang terjadi sebenarnya.
Awalnya Leon, Lily, pak Tio dan pak Rete di larang masuk, tapi setelah mengatakan jika merekalah yang pantas menjelaskan, akhirnya di izinkan masuk juga.
Usai menjelaskan, akhirnya polisi memutuskan untuk menahan Xander beserta kedua anak buahnya sementara. Xander marah sekali pada Leon, pria paruh baya itu hendak menampar putranya tetapi segera di cegah oleh pihak polisi.
"Kau anak durhaka, Leon..! Bisa-bisanya membela mereka daripada papamu..!" hardik Xander sebelum benar-benar di bawa oleh dua polisi ke dalam sel jeruji.
Pak Tio mengusap bahu menantunya pelan.
"Dia memang papamu, Leon. Tetapi kau pantas berada di pihak yang benar," tutur pak Tio.
"Iya," jawab Leon.
"Kau keberatan papamu di tahan, Leon? Kalau keberatan, kita bisa cabut saja laporannya. Aku tidak apa-apa," timpal Lily.
"Tidak, papa memang pantas mendapat hukuman atas perbuatannya."
***
Meski papanya sudah di amankan oleh polisi, tetapi Leon belum bisa memerbolehkan Lily untuk pulang ke rumahnya. Lantaran ia tahu pasti papanya membayar banyak orang untuk mencari keberadaan mamanya. Dan bisa jadi, orang suruhannya akan kembali datang ke rumah pak Tio.
"Aku titip Lily lagi, ayah. Situasinya masih belum aman," pinta Leon pada ayah mertuanya.
"Tentu saja, nak Leon. Ayah juga masih khawatir jika papamu sewaktu-waktu bisa di bebaskan. Papamu bukan orang sembarangan, dia bisa melakukan apa saja agar bebas," kata pak Tio.
"Iya, maka dari itu aku harus menuntaskan masalah ini."
"Kau mau pergi lagi, Leon?" tanya Lily yang baru saja datang dari arah dapur membawakan secangkir kopi untuk suaminya, lantaran mereka sudah kembali ke rumah pak Tio sejak satu jam lalu.
Leon mengulas senyum. "Iya, maaf, ya!"
Lily ikut duduk di samping suaminya usai meletakan dua cangkir kopi, satu untuk Leom dan satu lagi untuk ayahnya.
"Menginap untuk malam ini saja bisa, kan?" pinta Lily penuh harap.
"Kalau aku menunda-nunda, akan semakin lama masalah ini selesai-nya. Sabar, ya!" Leon mengacak puncak kepala Lily sampai rambut wanita itu sedikit berantakan.
Lily mengerucutkan bibirnya. Jika saja saat ini tidak ada mertuanya di sana, mungkin ia sudah sosor bibir mungil itu.
Bu Hesti baru saja pulang membeli sayuran dari tukang sayur keliling.
"Assalamu'alaikum.."
"Wa'alaikumussalaam.." jawab ketiga orang yang ada di ruang tengah.
"Nak Leon mau nginap atau pergi lagi?" tanya bu Hesti.
"Pergi," jawab Lily ketus lantaran masih kesal Leon tidak menginap saja.
__ADS_1
"Kalau begitu makan dulu di sini, ya. Ibu dan bi Ratih akan masak sekarang," pinta bu Hesti di angguki oleh Leon.
"Iya, bu."
Setidaknya Lily merasa senang, Leon masih akan berada di sana. Ia pikir Leon akan langsung pergi meninggalkannya.
Pak Tio beranjak dari tempat duduknya dengan membawa cangkir kopi yang baru ia seruput dua kali.
"Ayah mau kemana?" tanya Lily.
"Ayah mau keluar aja, ayah tahu kalian lebih membutuhkan ruang tengah ini," sahut pak Tio seolah tahu jika putri dan menantunya butuh waktu untuk melepas rindu.
Sementara pak Tio teras rumah, bu Hesti dan bi Ratih di dapur untuk memasak. Jadi, mereka tidak akan canggung lagi hanya untuk sekedar berpelukan.
Leon mendekap tubuh Lily cukup erat, satu malam tidak tidur dengan istrinya membuatnya sangat kehilangan sekali. Begipula dengan Lily, biasanya yang tidur di sampingnya adalah Leon, tetapi malam tadi justru malah bi Ratih.
"Ke kamar sebentar, yuk!" bisik Leon tepat di telinga Lily.
"Hah, mau apa?" tanya Lily terkejut.
"Ikut saja!" Leon menarik lengan Lily untuk bangun dari duduknya, lantas mereka masuk ke dalam kamar.
Leon mengunci pintu kamar Lily yang menggunakan slot. Setelah itu mereka duduk di tepi ranjang kayu dengan alas kasur yang masih terbuat dari kapuk.
"Mau ngapain?" tanya Lily, jantungnya kini berdegup kencang tidak karuan melihat senyum yang di lemparkan Leon untuknya.
"Leon.. Jangan menatapku seperti itu, aku malu!" Lily menutup wajahnya yang kini sudah merah seperti udang rebus.
Lily merasakan desiran yang geli di sekujur tubuh begitu Leon menyentuh bagian leher dan tengkuknya. Leon memajukan wajahnya sampai bibir mereka pun saling memagut satu sama lain.
Sebelah tangan Leon mulai bergerak liar dan nackal di permukaan tubuh bagian gunung kembar Lily, dan satunya lagi mulai menyusup ke balik celana wanita tersebut.
"Jangan...!" tiba-tiba saja Lily memekik.
Leon terkejut begitu Lily melepaskan tautan bibirnya begitu saja.
"Kenapa?" Leon terheran.
"Aku sedang datang bulan," kata Lily lirih sembari menahan malu.
"Oh.."
Leon pikir ada apa, ternyata Lily hanya ingin memberi tahu soal itu.
Lantaran tidak bisa menikmati bibir bagian bawah, akhirnya Leon hanya bisa menikmati bibir Lily bagian yang atas saja. Toh, ia masih bisa merasakan begitu nikmati memainkan dua gunung kembar Lily yang masih kenyal dan tentunya ukurannya yang super.
Setelah merasa puas dengan permainan tersebut, Lily dan Leon memutuskan untuk kembali ke ruang tengah. Mereka mengisi waktu sambil menunggu masakan jadi dengan mengobrol kecil, di selingi oleh tawa dan canda. Tentunya tidak melewatkan cubitan yang selalu Lily berikan pada Leon ketika pria itu kerap menggodanya sampai merasa kesal.
"Tuan, nyonya, masakannya sudah jadi. Ibu Hesti menunggu di meja makan," kata bi Ratih memberi tahu.
"Iya, bi," jawab Lily, ia pun mengajak Leon untuk segera pergi menuju dapur.
Sementara bi Ratih memberi tahu pak Tio di teras, setelah itu mereka berkumpul di meja makan. Lantaran kursi makan hanya ada empat, bi Ratih mengalah dan memilih untuk makan nanti saja.
__ADS_1
"Saya mah nanti saja lah, lagian saya masih kenyang nyicipin masakannya barusan," ujar bi Ratih.
"Nyicipin kok bisa kenyang?" tanya pak Tio.
"Ya iya atuh, pak, orang saya nyicipinnya langsung sepiring sama nasi," jawab wanita paruh baya itu.
"Jadinya itu makan, dong," sahut pak Tio lagi.
"Ya beda atuh, pak. Kalau sepiring itu nyicipin, kalau makan mah saya bisa habis sebakul."
"Hahahaha..."
Semua orang di sana ikut tertawa mendengar ungkapan bi Ratih.
"Pantesan badannya kayak gentong air," ujar pak Tio.
"Yeh si bapak, ini mah montok atuh namanya," sahur bi Ratih kembali menciptakan gelak tawa.
Usai makan bersama selesai, Leon berpamitan untuk pergi lagi. Lily mengantarnya sampai depan rumah.
"Jaga diri baik-baik selama tidak ada aku, ya!" pesan Leon.
"Iya," jawab Lily dengan nada terdengar sedih lantaran harus berpisah lagi dengan Leon meski sementara.
"Jangan sedih, nanti aku beri yang lebih setelah masa haid-mu selesai."
Lily mencubit pinggang Leon, bisa-bisanya Leon malah berpikiran ke arah sana.
Ting..
Ponsel Leon mendapati sebuah notifikasi pesan masuk, pria itu segera merogoh ponsel dari balik saku jas yang di pakainnya.
Drew:
Tuan, ada hal yang penting yang ingin aku bicarakan.
Seketika kening Leon berkerut.
Leon:
Kita bicarakan di kafe Kaweina, ya!
Usai mengetikan balasan, Leon kembalu berpamitan pada Lily.
"Aku pergi dulu, ya, sayang." Leon mengecup kening Lily sebelum akhirnya masuk ke dalam mobilnya.
"Hati-hati..!" teriak Lily sembari melambaikan tangannya sampai mobil Leon benar-benar hilang dari pandangan.
Lily mematung di tempat, kelihatannya ada sesuatu yang penting begitu Leon membaca pesan singkat dari seseorang.
"Semoga hal-hal buruk cepat usai, dan kebahagiaan menghampiri kami," ucap Lily penuh harap.
Bersambung...
__ADS_1