
Pagi ini Leon sudah tiba di depan rumah mertuanya. Sebab semalaman ia pulang. Yang tadinya berniat membelikan oleh-oleh, semuanya tidak lagi terpikirkan. Ia turun dari mobilnya lalu mengetuk pintu rumah pak Tio dengan ucapan salam.
"Assalamu'alaikum..."
Lily yang baru saja merapikan tempat tidurnya usai mandi berhenti sejenak begitu mendengar ucapan salam dari seseorang yang tak asing di telinganya.
"Itu kan suara Leon.." gumamnya.
Lily menunda aktivitasnya, ia melangkah keluar kamar bergegas membuka pintu depan. Dan begitu di buka, muncul Leon dari balik pintu dengan senyum yang mengembang di kedua sudut bibirnya.
"Leon..!!!" ucap Lily dengan raut wajah senang bahagia.
Lily langsung menghambur ke dalam pelukan sang suami dengan erat, harum tubuh Leon yang khas membuat Lily menghirup aroma itu banyak-banyak. Aroma yang seminggu ini ia rindukan.
Leon membalas pelukan Lily tak kalah erat, ia berusaha untuk terlihat baik-baik saja meski beban yang di tanggung saat ini sangatlah berat.
Setelah puas memeluk, Lily melepaskannya secara perlahan. Kini ia menatap sang suami dan mencecar pria itu dengan sederet pertanyaan.
"Kenapa tidak memberi tahu kalau hari ini kau pulang?"
Leon menangkap kedua pipi istrinya. "Kalau aku beri tahu, maka tidak akan jadi kejutan, sayang.."
Lily mencubit pinggang pria itu dan membuat suaminya memekik sakit dan geli.
"Aaaww.."
__ADS_1
Lily terkekeh melihat ekspresi wajah suaminya yang sudah lama tidak ia lihat.
Sementara Lily membuatkan kopi, Leon duduk menunggu di ruang tengah. Hatinya masih tidak tenang, ia masih bingung harus menceritakan yang sebenarnya atau tidak pada Lily.
"Eh.. Nak Leon sudah pulang?" Bu Hesti yang baru saja selesai shalat Dhuha berjalan menghampiri sang menantu.
Leon bangkit untuk menyalami sang mertua.
"Iya, Bu. Ibu apa kabar?" tanya Leon usai menyalami Bu Hesti.
"Alhamdulillaah.. Kok pulang mendadak, ada apa?" Bu Hesti mendaratkan tubuhnya di kursi dekat Leon.
Leon melihat ke arah dapur, sebaiknya ia ceritakan dulu pada ibu mertuanya dan minta pendapat untuk memberi tahu Lily atau tidak.
"Memangnya ada apa?" tanya Bu Hesti lagi.
"Aku pulang cepat karena mendapat kabar jika mama masuk ke rumah sakit."
"Astagfirullahaladziim.." Bu Hesti membungkam mulutnya.
"Papa juga katanya buat keributan di lapas, maka dari itu aku memutuskan pulang dan menyerahkan urusan pekerjaan sepenuhnya pada Drew," imbuh Leon.
"Sekarang aku bingung, apa aku harus ceritakan ini pada Lily?" tanya Leon kemudian.
Bu Hesti terdengar menghela napas kecil.
__ADS_1
"Kalau menurut ibu, sebaiknya ceritakan saja. Bagaimanapun, Lily kan istri nak Leon, Lily berhak tahu apa yang sedang di rasakan oleh suaminya," tutur Bu Hesti.
"Iya, Bu. Tapi sekarang kan Lily sedang hamil, aku cemas jika dia kepikiran sampai stress."
"Insha Allah tidak akan. Sebaiknya nak Leon ceritakan saja, ya. Tidak baik menutupi sesuatu dalam rumah tangga."
"Menutupi apa?" tanya Lily begitu muncul dengan secangkir kopi di nampan yang ia bawa.
Bu Hesti dan Leon menoleh, mau tidak mau Leon harus menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Kenapa tidak ceritakan dari kemarin?" tanya Lily begitu Leon sudah berkata jujur padanya.
"Kalau aku tahu mama Emely sakit, aku jenguk mama saat aku cek kandungan," imbuhnya.
"Maaf, sayang.. Aku tidak ada maksud untuk menutupi semua ini darimu. Yang aku lakukan semata demi kebaikanmu juga," ucap Leon.
Lily mengerti akan maksud suaminya. Tapi bagaimanapun, harus ada keterbukaan antara suami maupun istri. Apapun masalahnya.
"Iya, aku mengerti. Kalau begitu, nanti siang kita jenguk mama Emely, ya.."
"Iya, sayang.."
Bu Hesti menghela napas lega. Melihat anak dan menantunya harmonis seperti ini sudah menjadi kebahagiaan baginya.
Bersambung...
__ADS_1