MENGANDUNG ANAK CASSANOVA

MENGANDUNG ANAK CASSANOVA
Panggilan Baru Untuk Leon


__ADS_3

Usai di obati, polisi langsung membawa Emely ke dalam sel jeruji besi. Wanita itu teriak histeris lantaran tidak mau di masukan ke dalam sel.


"Lepaskan aku..! Aku sama sekali tidak tahu soal bisnis gelap itu, lepaskan..!!"


Kedua petugas yang memasukan Emely ke dalam sel tidak mengindahkan ucapan wanita tersebut. Mereka tetap menjalankan sesuai perintah.


Emely merintih kesakitan saat luka tembaknya di bagian betisnya kembali mengeluarkan dari dari balik perban.


"Aaaw..." Emely membungkukan badannya, menahan rasa perih yang merambat ke sekujur tubuh dan terasa ngilu.


"Ma.."


Panggilan tersebut membuat Emely mendongakan wajah, ia menatap seseorang yang berdiri di hadapannya dengan tatapan tajam menyalurkan rasa penuh kebencian.


"KENAPA KAU MELAKUKAN INI PADA MAMA, LEON..!! KENAPA?" cecar Emely dari balik sel.


"PUAS KAU MELIHAT MAMA MENDERITA SEKARANG, HAH? PUAS..??!"


"Mama pikir kau tumbuh menjadi anak baik yang membuat hati mama sedikit tergerak dan mulai menyesali penyesalan. Tapi buktinya, apa yang saat ini kau lakukan adalah bukti jika kau DENDAM pada mama, benar kan..??"


Emely menarik-narik kemeja Leon dari lubang sel guna melampiaskan amarahnya. Leon terdiam, ini bukan keinginannya. Ia sama sekali tidak berniat menjebloskan mamanya ke dalam penjara, tetapi papanya.


"Apa yang aku lakukan ini bukan sebuah bentuk balas dendamku terhadap mama, tapi aku hanya ingin mama bisa mempertanggung jawabkan perbuatan mama. Jika mama tahu bisnis yang di jalankan itu bisnis tidak benar, kenapa di lakukan? Berarti selama ini aku tumbuh dan makan hasil bisnis gelap itu?"


"CUKUP LEON..! Jangan menghakimi mama seolah kau yang paling benar di sini. Apa yang mama dan papamu lakukan semata tidak terlepas untuk keluarga juga."


"Termasuk menghabiskan waktu untuk pekerjaan sampai lupa jika mama punya aku?"


Emely bergeming. Memang ia tidak akan pernah bisa menang jika soal berdebat dengan Leon. Maka dari itu ia selalu memilih untuk tidak berkomunikasi saja dengan putranya.


"Mama sudah memyesali perbuatan mama Leon karena mama tidak pernah meluangkan waktu untukmu. Tapi sekarang, mama justru menyesal karena sempat menyesali hal yang seharusnya tidak perlu di sesali. Sebab pada akhirnya, kau menghancurkan mama..!"


Leon menatap wanita paruh baya itu lekat.


"Dengan mama pernah menyesal saja itu sudah bagus, aku berharap mama akan benar-benar menyesali semua perbuatan mama," ucap Leon.


"Aku pergi dulu, ma. Semoga mama baik-baik di sini," pamit Leon.


Pria itu meraih buah tangan Emely kemudian mencium punggung tangan tersebut dengan sangat lembut. Itu merupakan pertama kalinya bagi Leon, begipula dengan Emely. Cukup lama sampai tanpa sadar Emely merasakan naluri seorang ibu. Tetapi tidak lama kemudian, ia kembali di sadarkan oleh kenyataan. Emely menepis tangan Leon.


"Pergilah..!!" usir Emely namun masih terdengar lirih, wanita itu membuang wajah tak ingin melihat ke arah Leon.

__ADS_1


"Iya, ma," jawab Leon sebelum akhirnya dia pergi dari sana.


***


Lily menunggu suaminya pulang dengan perasaan gelisah. Sebenarnya masalah yang sedang di hadapi ini sudah benar-benar selesai atau Leon hanya berusaha membuatnya agar tidak khawatir berlebihan. Pikiran Lily di selimuti oleh kekhawatiran.


Tidak berapa lama, ia mendengar suara mobil masuk ke pelataran rumah.


"Itu pasti Leon.." gumamnya.


Lily buru-buru ke depan rumah untuk menyambut suaminya. Wajah Leon tampak murung, tetapi pria itu berusaha tersenyum begitu melihatnya sudah berdiri di depan pintu.


Sebenarnya Lily ingin menanyakan banyak hal pada Leon tentang apa yang terjadi sebenarnya. Tetapi melihat wajah pria itu sepertinya sedang kacau, lebih baik ia urungkan saja niatnya.


"Hai, s-sayang.." sapa Lily dengan sebutan yang semoga bisa membuat perasaan Leon sedikit membaik, meski ia ragu untuk mengucapkannya.


Leon tersenyum mendengar panggilan baru dari Lily. Tiba-tiba pria itu melihat-lihat ke arah langit.


"Kenapa?" tanya Lily.


"Tidak ada angin, tidak ada hujan, kenapa bisa tiba-tiba memanggilku 'sayang'?"


Leon tersenyum. "Aku lebih suka jika kau memanggilku seperti itu seterusnya. Jangan panggil aku dengan nama lagi, ya!"


Lily mengulum senyum, ia menggigit bibir bagian dalam agar Leon tidak sampai melihat kalau dirinya tengah senyum-senyum. Tetapi hal tersebut tidak bisa di sembunyikan. Dengan cepat Leon menagngkat tubuh Lily membopongnya masuk ke dalam rumah.


"Leon, turunkan aku..!" pinta Lily takut akan jatuh.


"Aku sudah janji akan memberimu yang lebih, aku harap kau pun memberikannya."


Leon membawa Lily masuk ke dalam kamar, lalu ia gunakan kakinya untuk menutup kembali pintu kamarnya rapat-rapat.


Setelah itu, lampu pun di matikan.


***


Keesokan paginya, seorang perempuan dengan stelan baju berwarna biru khas cleaning service tengah membersihkan kaca kantor. Ia tampak sedang bicara dengan dirinya sendiri.


"Gak apa-apa lah gue jadi cleaning service, yang penting gajinya gede, gak kena potongan pula," ujarnya.


"Siapa tahu gue dapet jodoh juga di sini," imbuhnya penuh harap.

__ADS_1


Perempuan itu membawa lap dan alat lain untuk berpindah ke kaca lainnya, tetapi langkahnya seketika terhenti pada saat ia melihat sosok pria yang selama ini ia cari.


"Loh, itu kan cowok ganteng itu," serunya.


Perempuan yang tak lain adalah Yuna itu lari ke arah pria yang ia maksud.


"Hei.." panggil Yuna membuat pria tersebut menghentikan langkah.


"Kau-" pria itu menunjuk wajah perempuan yang sepertinya pernah ia lihat sebelumnya.


"Alhamdulillaah.. Masih inget juga ternyata," ucap Yuna merasa senang.


Yuna memindahkan alat pembersih ke satu tangan kirinya, tangan kanannya ia lap ke baju dan di ulurkan pada pria di hadapannya.


"Kenalan, ya!" pinta Yuna.


Drew masih tidak ingin menjabat tangan wanita itu. Ia tidak ingin kenal begitu saja dengan orang sembarangan.


"Tuan Drew..!!" panggil seorang wanita dari kejauhan.


Drew menoleh pada seseorang yang memanggilnya itu. "Iya, Yola. Ada apa?"


Wanita yang bernama Yola itu menghampiri Drew. "Tuan Leon sudah menunggu sejak tadi," katanya.


"Oh iya, terima kasih. Kalau begitu saya ke ruangan tuan Leon sekarang, ya," pamit Drew pada Yola.


"Iya," sahut Yola.


Entah kenapa Yuna tidak senang melihat wanita lain bisa berkomunikasi dengan pria idamannya.


"Awas saja, suatu saat gue pasti bisa bikin cowok itu kejang-kejang sama gue," ujar Yuna kemudian pergi dari sana untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Bersambung...


...Jangan lupa DUKUNGAN kalian, karena itu sangat berarti....


...LIKE, KOMEN, VOTE, dan kumpulin POIN sebanyak-banyaknya untuk kasih aku HADIAH....


...Tekan LOVE nya juga biar masuk ke rak favorit, agar kalian dapat notifikasi ketika bab selanjutnya publish....


...Yang punya akun INSTAGRAM, follow ya @wind.rahma...

__ADS_1


__ADS_2