
"Siapa yang kau telepon? Kekasihmu?" tanya wanita yang saat ini sedang sarapan dengan Leon.
Leon mengangkat sebelah sudut bibirnya membentuk sebuah senyum kecil. "Istriku."
Wanita itu hampir tersedak mendengar jawaban pria di hadapannya. Beruntungnya Leon buru-buru memberikan minum pada wanita tersebut.
Setelah meneguk sedikit minumannya, wanita tersebut kembali mencecar Leon dengan sederet pertanyaan.
"Apa? Istrimu? Kapan kau menikah?"
Leon terlihat santai menanggapi pertanyaan wanita di hadapannya.
"Kapan aku menikah itu tidak penting. Yang terpenting sekarang aku sudah berstatus sebagai suami dan calon ayah dari anakku kelak," jawaban Leon kembali membuat wanita itu terkaget-kaget.
"Calon anak? Jadi istrimu sedang mengandung? Oh ya Tuhan... Kenapa kau bisa meninggalkannya dalam keadaan sedang hamil?"
"Itu bukan keinginanku. Jika bukan karena urusan pekerjaan, aku tidak akan setega itu meninggalkannya," sahut Leon.
"Memangnya tidak bisa asisten pribadimu yang menghandle sendiri?"
"Kalau bisa, tidak mungkin aku ada di sini."
"Benar juga," jawab wanita itu.
"Aku sangat berterima kasih sekali padamu karena kau mau membagi dua kamar Apartemen mu untukku dan Drew. Padahal aku bisa sewa kamar Apartemen mu. Tapi kalau kau memaksaku untuk gratisan, it's ok, tidak baik menolak rejeki," ucap Leon pada wanita yang ada di hadapannya.
"Hahaha.. Santai saja. Tapi apa kau bilang? Aku memaksamu? Bukankan kau yang selalu memaksaku minta kamar gratisan?"
"Shttt.. Jangan di bahas..!"
"Hahaha..."
Mereka melanjutkan sarapannya sampai selesai. Jadi wanita yang sedang bersama Leon ini merupakan teman Leon yang kebetulan dia ini pemilik Apartemen yang saat ini Leon tinggali sementara berada di sana untuk urusan pekerjaannya.
***
Di rumah orang tuanya, Lily tidak bisa tenang. Ia masih kepikiran soal suara wanita yang ia dengar tadi pagi di telepon. Puluhan pesan Lily kirimkan dengan pertanyaan yang sama, tetapi Leon belum kunjung membalas pesannya sejak tadi pagi.
Adzan Dzuhur pun berkumandang, Lily mengucapkan kata hamdalah dan pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Setidaknya dengan shalat ia bisa sedikit lebih tenang. Ia berdoa pada Sang Pencipta agar hal-hal tidaklah terjadi pada dirinya maupun pada Leon. Dan terutama, pada rumah tangganya yang baru seumur jagung.
__ADS_1
Usai shalat, Lily meminta maaf pada sang ibu lantaran tidak bisa membantunya masak untuk makan siang. Sebab ia masih sering mual bahkan muntah jika mencium aroma masakan yang begitu tajam menusuk hidung.
"Tidak apa-apa, biar ibu saja. Kamu tunggu saja di depan," jawab Bu Hesti sembari mengiris bawang merah, bawang putih, serta cabai yang akan menjadi pelengkap dan bumbu dasar suatu masakan.
"Sekali lagi, Lily minta, ya, Bu," ucap Lily.
"Iya, nak. Tunggu di depan sana."
"Iya, Bu."
Rasanya segan ia pulang ke rumah orang tuanya dan membuat ibunya sampai harus masak banyak, sementara ia tidak bisa membantu dan hanya bisa diam saja. Rasanya merepotkan sekali.
Lantaran jika hanya diam menunggu di ruang tengah, Lily merasa jenuh. Sudah lama juga ia tidak jalan menyusuri kampung halamannya. Entah kenapa Lily ingin sekali melakukan kegiatan yang sudah lama tidak pernah ia lakukan. Yaitu sekedar jalan keliling kampung.
Kebetulan cuaca siang ini tidak terlalu terik, sedikit mendung tapi masih jauh dari hujan. Lily mulai berjalan keluar dari pelataran rumah menuju tetangga. Kelihatan sepi sekali, mungkin mereka sedang tidur siang. Kalau sore, barulah para ibu-ibu penikmat ghibah saling bertukar cerita dan berkumpul di salah satu teras rumah seseorang.
Baru beberapa langkah berjalan, kedua mata Lily tertuju pada pohon jambu air yang sedang berbuah lebat. Pohon jambu itu milik tetangga yang punya warung kecil dekat rumahnya. Warna jambu air pink kemerahan itu sungguh menggoda.
"Mau jambu, Ly?" teriak pemilik warung dari dalam warung yang sedari memperhatikannya tanpa sadar.
Lily menoleh lekas tersenyum.
"Gak ada yang petikin, Bu," sahut Lily.
"Ayah kamu kerja? Suami kamu?"
"Suami aku lagi ada urusan kerja di luar kota, makanya aku nginap di rumah ayah ibu untuk beberapa hari kedepan."
Ibu pemilik warung sekaligus pemilik pohon jambu air itu menganggukan kepalanya beberapa kali.
"Oh.. Ya sudah, kalau begitu saya bantu ambilkan, ya."
"Tapi, Bu. Memangnya gak apa-apa?" tanya Lily segan.
"Tidak apa-apa. Kan kamu mau. Tunggu sebentar, ya. Saya ambil kantong kreseknya dulu."
"I-iya, Bu."
Sambil menunggu ibu itu mengambil kantong kresek, Lily menengadahkan wajahnya ke atas melihat betapa lebatnya jambu air tersebut. Tidak lama kemudian, si ibu tadi kembali.
__ADS_1
"Ibu yakin mau petikin jambu buat aku?" tanya Lily ragu.
"Iya, tunggu, ya."
Si ibu itu lekas memanjat pohon jambunya. Meski memiliki tubuh yang tergolong gemuk, tapi ibu tersebut dengan lincahnya memanjat pohon jambu sampai di ketinggian tiga meter.
"Hati-hati, Bu..." teriak Lily sedikit khawatir si ibu akan jatuh atau rantingnya akan patah.
Tidak sampai dua menit, kantong kresek putih bening berukuran sedang itu kini sedah terisi penuh. Si ibu turun dengan sangat hati-hati. Beruntungnya pohon jambu itu tidak terlalu di penuhi oleh semut.
"Ini jambunya, Ly," ibu itu menyerahkan kantong kresek berisi jambu itu pada Lily.
Lily menerimanya dengan perasaan segan. Ibu itu memang tetangganya yang paling baik yang pernah ia kenal. Meski sama-sama berasal dari kota Sukabumi, ibu itu tidak terlalu fasih dalam bahasa Sunda tidak seperti bi Ratih.
"Terima kasih banyak, Bu. Aduuhh.. aku gak enak banget, nih. Udah minta, ngerepotin ibu lagi," ucap Lily.
"Tidak apa-apa. Kalau nanti kurang bisa saya ambilkan lagi jambunya. Tinggal bilang saja," kata ibu itu.
"Cuku, Bu. Cukup. Ini banyak banget. Terima kasih banyak, Bu. Terima kasih," ucap Lily tak berhenti mengucapkan terima kasih.
"Iya, sama-sama."
"Kalau begitu aku pulang dulu, ya, Bu. Sekali lagi saya terima kasih banyak, ibu baik sekali."
"Iyaa.. Kalau kurang jangan sungkan-sungkan untuk ke sini lagi, ya.."
"Iya, Bu. Assalamu'alaikum.."
"Walaikumussalaam..."
Lily pergi dari sana dengan membawa satu kantong kresek jambu di tangannya. Sepanjang pulang ia memakan beberapa jambu air tersebut. Rasanya tidak terlalu masam, tidak manis juga. Rasanya cukup menyegarkan.
"Terima kasih orang baik," ucap Lily seraya memeluk kantong kresek jambu tersebut di dadanya.
Bersambung...
...Orang baik itu masih ada ya teman-teman. Contohnya si ibu pemilik warung yang rela manjat pohon jambu untuk Lily. ...
...Jangan lupa SUKA, KOMEN, FAVORIT, VOTE, dan BERI HADIAH....
__ADS_1
...GIVE AWAY masih berlaku sampai akhir bulan JULI. ...