
"Sayang.. Nanti malam kau ikut aku pesta pernikahan teman bisnisku, ya..!" pinta Leon saat Lily sedang mengancingkan jas hitam yang di kenakannya.
"Iya.." jawab Lily.
"Kalau begitu aku berangkat dulu, ya. Jaga dirimu di rumah baik-baik," pamit dan pesan Leon sebelum pria itu pergi ke kantor.
"Iya, hati-hati, Leon.."
Lily mengantar suaminya sampai depan rumah, setelah itu ia kembali ke kamarnya. Dering panggilan masuk mendominasi ruangan, ia buru-buru mengambil ponselnya yang tergeletak di atas tempat tidur.
"Ibu..?"
Tanpa pikir panjang Lily segera menjawab telepon tersebut. Ia menggeser ikon berwarna hijau di layar ponselnya lalu mendekatkan benda pipih tersebut ke dekat daun telinga.
"Halo, bu.." jawab Lily seraya duduk di tepi ranjang tempat tidur.
"Halo, nak. Maaf ibu telepon pagi-pagi," ucap Bu Hesti dari sebrang telepon.
"Iya, bu. Gak apa-apa. Ada apa memangnya?" tanya Lily penasaran, tidak mungkin jika tidak ada sesuatu yang penting sampai ibunya telepon sepagi ini.
"Mmm.. Kamu masih sibuk di dapur? Nak Leon sudah berangkat kerja?"
Lily mengernyit. "Aku di kamar, bu. Leon sudah berangkat kerja barusan. Ada apa, bu?"
"Sebenarnya ibu gak enak juga kalau harus bicara di telepon, tapi kalau ibu ke sana atau kamu ke sini, takut apa yang akan ibu sampaikan ini jadi sebuah kesalahpahaman untuk rumah tangga kamu, nak."
Lily semakin di buat penasaran dengan apa yang di sampaikan oleh ibunya. Apalagi sampai bawa-bawa rumah tangganya dengan Leon.
"Ya sudah, kalau begitu ibu bicarakan sekarang aja. Ada apa, bu? Jangan buat aku penasaran."
"Iya, nak. Jadi tadi pagi teman lama kamu yang bernama Hiko itu datang lagi ke rumah," kata bu Hesti memberi tahu.
"Hiko? Datang lagi? Memangnya dia pernah datang ke rumah sebelumnya, bu?" tanya Lily berbondong-bondong.
"Iya, Ly. Maaf sebelumnya ibu gak kasih tahu kamu Hiko pernah datang ke rumah."
"Terus, Hiko mau apa, bu?" tanya Lily lagi, entah kenapa perasaannya berubah jadi tidak enak
"Pertama Hiko datang ke rumah, dia nanyain kamu. Katanya mau ajak kamu jadi partner bisnis dia setelah dengar kamu reaign dari minimarket. Tapi ibu bilang kamu gak di rumah dan sudah dapat pekerjaan baru."
__ADS_1
"Terus-terus, bu?" Lily semakin di buat penasaran dengan cerita tersebut.
"Ya waktu itu Hiko percaya saja, nak. Terus barusan dia datang lagi ke rumah, nanyain kamu lagi. Ibu bilang kamu sudah pergi ke tempat kerja kamu yang baru itu. Tapi tiba-tiba dia nanya, Lily berangkat sama suaminya? Dia juga bilang sudah tahu pernikahan kamu. Memangnya benar, nak, Hiko sudah tahu kamu sudah menikah?"
Lily menghela napas. "Iya, bu. Kita sempat gak sengaja ketemu di restoran milik dia. Hiko awalnya terkejut waktu tahu aku sudah menikah. Kemarin aku juga gak sengaja ketemu dia lagi, Leon minta aku untuk jaga jarak dengan Hiko," terang Lily.
"Iya, nak. Dan anehnya, nak Hiko tanya-tanya tentang pernikahan kamu."
Lily kembali mengerutkan dahinya dalam. "Tanya-tanya gimana maksudnya, bu?"
"Itu karena ibu bohong padanya. Ibu mengatakan kamu kerja karena ibu pikir Hiko belum tahu soal pernikahan kamu. Dia jadi berpikir, ada sesuatu yang tidak beres mengenai pernikahan kamu, sayang."
"Terus ibu ceritain kronologi pernikahan aku dengan Leon?"
"Ya enggaklah, nak. Kalau ibu ceritain, sama sama ibu membuka aib putri ibu sendiri."
Lily menghela napas lega. "Terus?"
"Ibu bilang aja kalau ibu bohong sama dia itu karena keinginan kamu yang malu karena lupa mengabari dia saat kamu menikah. Dan untungnya dia percaya," jelas bu Hesti.
"Syukurlah kalau begitu. Kalau nanti Hiko sampai datang agi ke rumah, jangan lupa kabari aku lagi ya, bu..!"
"Terima kasih info-nya ibu..!"
"Iya, kalau begitu ibu tutup teleponnya ya sayang.."
"Iya, bu."
Sambungan telepon pun terputus, Lily menggenggam ponselnya dan termenung.
"Untuk apa ya Hiko cari-cari informasi tentang pernikahan aku sama Leon..?" pikirnya.
***
Sampai di kantor, seorang cleaning service wanita tidak sengaja menabrak Leon.
"Maaf maaf maaf, saya tidak sengaja..!" ucap wanita itu sembari menelungkupkan kedua tangannya di depan wajah.
"Iya," jawab Leon singkat.
__ADS_1
Mendengar suara yang tak asing di telinga wanita itu membuatnya mendongakan wajah.
"Loh, suaminya Lily? Kok bisa ada di sini?" cetusnya begitu Leon sudah pergi dari sana.
"Itu tuan Leon, pemimpin perusahaan ini," ujar seseorang yang baru saja datang menghampiri Yuna.
Seseorang tersebut merupakan Yola, wanita yang beberapa terakhir ini membuat Yuna kesal karena Yola selalu berhasil dekat dengan pria pujaannya.
"Oh.." jawab Yuna ketus.
"Tadi kau bilang apa? Suaminya Lily? Lily siapa, ya? Setahu saya, tuan Leon ini belum menikah. Dia masih lajang dan jangan coba-coba dekati beliau. Tuan Leon ini seorang CASSANOVA," ucap Yola lirih namun penekanan di akhir kalimat.
Yuna membulatkan matanya sempurna. Ia mematung di tempat untuk beberapa saat. Sementara wanita dengan stelan modis itu memilih pergi dari hadapannya.
"Kenapa dia bilang suaminya Lily masih lajang?" pikir Yuna. "Apa dia juga tidak tahu kalau laki-laki itu sudah menikah?"
Mengingat pak Tio pernah keceplosan soal keguguran Lily membuat Yuna sedikit paham, dan Lily yang resign secara tiba-tiba mungkin alasan mengapa tidak banyak orang yang tahu tentang pernikahan mereka.
"Dan apa dia bilang barusan? Suami Lily seorang CASSANOVA? Sejenis pria nackal yang akan pernah bisa di percaya. Oh My God, apakah Lily tahu ini?"
"Aku harus kasih tahu Lily kalau dia belum tahu. Aku harus menyelamatkan sahabat terbaikku itu dari laki-laki sejenis demikian," imbuhnya.
Yuna berjanji akan menceritakan hal penting ini nanti sepulang kerja dari sana.
***
Malamnya, sekitar pukul tujuh.
Leon meminta Lily untuk dandan secantik mungkin, ia juga memberi tahu kalau nanti Drew yang akan menjemput ke rumah. Sebab ia masih ada pekerjaan, awalnya Lily terheran, kenapa harus Aspri-nya yang menjemput padahal mereka akan pergi ke kondangan.
Tanpa bertanya banyak hal, Lily pun menurut apa saja yang di katakan suaminya. Ia akan dandan cantik dan menunggu jemputan dari Drew.
Sementara di tempat Lain, Leon sudah tidak sabat menunggu kedatangan Lily. Sebenarnya, acara pernikahan temannya adalah sebuah alasan belaka. Sebab kenyataannya, ia menyiapkan acara sendiri di sebuah kafe bagian rooftop untuk memberi istrinya kejutan satu bulan pernikahan.
Ia menunggu di sebuh meja yang sudah di dekorasi seromantis mungkin. Ada lilin-lilin yang sengaja di nyalakan.
Tiga puluh menit kemudian, Drew memberinya sebuah pesan singkat jika dia sudah sampai. Leon semakin di buat tidak sabar. Lily pasti akan sangat senang dengan apa yang akan dia berikan malam ini.
Bersambung..
__ADS_1