MENGANDUNG ANAK CASSANOVA

MENGANDUNG ANAK CASSANOVA
ACARA BERJALAN LANCAR


__ADS_3

Leon menyuapi mamanya. Emely terus memuji betapa enaknya makanan yang putra dan menantunya bawakan.


"Ini masakan siapa? Masakanmu?" tanya Emely pada Lily.


Lily menggeleng. "Ini masakan ibu aku, ma."


Emely tidak lagi terkejut. Sebab masakan Lily pun enak, ia yakin Lily bisa memasak berkat dari ibunya.


"Pantas saja kau pandai memasak, rupanya ibumu merupakan koki yang sebenarnya," puji Emely.


Lily hanya menanggapi dengan senyuman.


Keheningan terjadi untuk beberapa saat, sampai akhirnya Emely kembali membuka suara dan meminta Leon untuk berhenti menyuapinya sejenak.


Emely meraih buah tangan Lily di atas dia meja. "Apa mama boleh bertemu dengan orang tuamu?"


Pertanyaan Emely tentu saja di angguki oleh Lily. "Boleh, ma."


"Tapi apakah mereka mau bertemu dengan mama? Mama kan selama ini jahat dengan mereka."


Lily mengulas senyum meneduhkan. "Ayah sama ibu pasti mau bertemu dengan mama. Untuk perihal masa lalu, aku yakin ayah sama ibu sudah melupakan hal itu."


Emely tersenyum lega dan berharap demikian. "Terima kasih, menantuku. Kau baik sekali," ucap serta puji Emely.


***


Acara Empat bulanan yang sangat sederhana ini pun di mulai. Banyak sekali warga yang berdatangan untuk menghadiri acara dan mendoakan supaya kehamilan Lily sehat sampai nanti menjelang lahiran. Di pimpin oleh ustadz di sana, acara pun berjalan dengan lancar.

__ADS_1


Acara selesai sekitar pukul delapan malam. Sementara yang lain beres-beres, Bu Hesti meminta Leon untuk menemani Lily beristirahat di kamar. Leon pun menurut.


Leon masuk ke kemar dan duduk di tepi ranjang. Senyumnya berkembang seiring melihat senyum manis di bibir istrinya.


"Alhamdulillaah acaranya sudah selesai dan berjalan dengan lancar," ucap Lily penuh syukur.


"Iya, sayang. Tapi nanti untuk acara tujuh bulan, kita laksanakan di rumah kita saja, ya!"


"Iya."


"Ya sudah, kalau begitu sekarang kau istirahat, ya." Leon meninggalkan sebuah kecupan singkat di kening Lily.


"Iya, sayang. Kau juga," balas Lily.


Lily pun mulai memejamkan mata, sementara Leon sedikitpun tidak bergerak dari sana. Ia membelai lembut rambut sang istri, sampai wanita itu benar-benar tidur.


***


Yuna memutuskan untuk melamar ke sebuah restoran. Ia berusaha mencari tempat kerja yang berbeda dari sebelumnya. Beruntungnya, ia di terima.


"Ngapain Lo di sini?" tanya seorang pria yang tiba-tiba muncul dari hadapan Yuna.


Yuna terbelalak melihat pria menyebalkan yang pernah ia temui selama hidup di muka bumi.


"Suka-suka gue, dong. Lah Lo ngapain ada di sini?"


"Gue?" pria itu menunjuk dirinya sendiri. "Gue pemilik restoran ini."

__ADS_1


Yuna membulatkan matanya serta menggeleng tidak percaya.


"Pe ... Pemilik restoran ini? Gak mungkin! Lo pasti ngaku-ngaku ..."


Pria itu menyunggingkan bibirnya seraya menatap ke sembarang arah. Sampai akhirnya ada seorang pelayan di sana yang menyapa pria tersebut.


"Selamat pagi, pak Hiko ..." sapa pelayan itu.


"Pagi .." balas Hiko dengan senyum ramah.


Yuna benar-benar masih tidak percaya jika pria itu merupakan pemilik restoran tersebut. Itu artinya, ia akan bekerja dan menjadi pelayan di restoran si pria menyebalkan.


"Oh ya, mbak. Kata Bu Nastri, mbak sudah bisa bekerja mulai besok," kata pelayan itu sebelum pergi.


Hiko mengangkat sebelah alisnya mendengar kalimat yang di sampaikan pelayan tersebut. Sedetik kemudian ia tersenyum remeh.


"Oh ... Jadi Lo ngelamar kerja di tempat gue?" tanya Hiko sembari meledek.


"Gak .. Gak jadi..! Gue gak mau kerja di tempat yang bosnya kayak Lo..!" ucap Yuna kemudian pergi, namun Hiko segera menarik pergelangan tangan wanita itu.


"Iiihh ... Apaan sih Lo pegang-pegang gue..!" Yuna melepaskan tangannya dari tangan Hiko.


"Kalo Lo ngundurin diri, gue bisa denda Lo. Di sini ada aturan," ujar pria itu.


"Apa..??? Denda? Aturan macam itu?! Gak, gue tetap mau batalin kerja di sini!"


Yuna pergi dari sana, bisa gila sendiri jika ia berlama-lama meladeni pria aneh seperti Hiko. Pria itu selalu saja membuat mood-nya buruk. Dan ia heran, kenapa bisa bertemu dengan pria aneh itu berulang kali.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2