
Leon ikut membaringkan tubuhnya di samping Lily. Bibirnya sedari tadi tak henti-hentinya mengulas senyum. Ia merasa sangat lega, sebab sudah tidak ada lagi rahasia di antara mereka.
"Jangan menatapku seperti itu, Leon..! Aku malu.." ujar wanita itu dengan memalingkan wajah yang sudah merona.
Leon menopang wajahnya di tangan, ia terus memperhatikan wajah Lily sampai wanita itu benar-benar tersipu. Seketika pandangannya terpaku pada piyama yang di kenakan Lily, itu merupakan piyama kedua yang ia beli di pusat perbelanjaan beberapa hari lalu.
"Kau menggodaku, sayang," ucap Leon.
Lily melirik ke arah suaminya sekilas. Ini adalah malam jum'at, tak jarang pasangan suami istri yang melakukan kewajiban di malam tersebut.
Lily menghela napas, ia beranikan membalas tatapan suaminya. Seketika ia teringat permintaan Leon beberapa hari lalu.
"Mmm.. Leon.."
"Hm."
"Kau.. Kau mau aku malam ini..?" tawar Lily.
Leon menyunggingkan sebelah sudut bibirnya. Ia sedikit terkejut dengan dengan tawaran Lily barusan, tapi ia merasa sangat senang. Akhirnya Lily mau memulai duluan tanpa harus ia minta. .
"Tentu saja," jawab Leon. "Tapi aku ingin kau memulainya," imbuhnya.
Lily menggigit bibirnya. Untuk mengatakan hal itu saja ia butuh banyak keberanian dan mengumpulkan mental. Tetapi Leon selalu bisa membuat jantungnya berdegup kencang di atas normal.
"Dengan satu syarat," pinta Lily.
"Apa itu?" tanya Leon penasaran.
"Aku ingin kau matikan lampunya."
"Ok, tidak masalah. Aku matikan lampunya sekarang."
Leon bangun dan beranjak menuju stop kontak, dalam hitungan ketiga ia pun mematikan lampunya.
Tanpa canggung lagi, Leon segera naik ke atas tubuh Leon begitu pria itu sudah kembali berbaring di atas tempat tidur. Lily mulai mencium bibir Leon dengan agresif, Leon sampai di buat kaget oleh apa yang kini Lily berikan untuknya.
Leon menyerahkan semua tugasnya pada Lily, biarkan Lily yang bekerja malam ini. Ia cukup menikmati dan menerima serangan-serangan wanita itu dengan sangat baik.
Hingga sampai pada intinya, Lily menggoyangkan pinggullnya di atas tubuh Leon dengan cukup lihai. Leon memejamkan mata saat kenikmatan itu sudah hampir sampai pada puncaknya. Ia menembakan benih-benih calon buah hati dalam rahim milik Lily.
***
"Morning, sayang.." ucap Leon begitu Lily baru saja membuka mata.
Senyuman manis Leon menyambut paginya yang cerah. Lily bahkan sampai melewatkan shalat subuh lantaran ia merasa lelah semalam.
"Pagi, Leon.." balas Lily. "Kenapa kau tidak membangunkan aku?"
"Aku tidak mau mengganggu tidur lelapmu, sayang. Aku kasihan, semalam kau terlihat lelah sekali," jawab pria itu.
__ADS_1
"Tapi lain kali kau harus bangunkan aku."
"Iya, sayang. Aku minta maaf, ya."
Lily mengerucutkan bibirnya. Ia jadi harus melewatkan shalat subuh.
"Terima kasih, ya.." ucap Leon tiba-tiba.
Lily menatap pria itu terheran. "Untuk apa?"
"Untuk segalanya. Aku benar-benar beruntung memiliki istri sepertimu. Kau cantik, pandai memasak, seksi, dan aku tidak bisa menyebutkan semua kelebihan yang kau miliki. Kau perfect, sempurna," ungkap serta puji Leon.
"Jangan terlalu berebihan, nanti aku bisa besar kepala," ujar Lily.
"Aku mengatakan apa adanya, aku tidak melebih-lebihkan apalagi mengada-ada."
Lily mengulum senyum. Sebenarnya ia juga sangat beruntung bisa Leon miliki. Pria itu tampan, mapan, dan yang paling ia syukuri, di saat Leon jahat pada banyak wanita, tapi Leon begitu baik padanya.
"Ayo, bangun. Kita mandi dan sarapan sama-sama..!" ajak Lily.
"Mandi sama-sama? Ayo..!" Dengan sigap Leon bangun, namun Lily segera mencegahnya.
"Maksudku, kita mandi masing-masing, sarapannya sama-sama," ujar Lily memperjelas.
"Mandi sama-sama pun tidak masalah bagiku. Ayo..!" Leon menarik tangan Lily untuk bangun dari tempat tidur.
"Sesekali tidak apa-apa, sayang. Lagipula kita kan suami istri," pangkas pria itu.
Dari kejauhan, seseorang dari balik kaca pintu mobil memerhatikan rumah tempat kediaman Leon dan Lily. Seorang pria berkaca mata hitam itu sudah sepuluh menit berada di sana, memperhatikan, memandangi, dan yang pasti menunggu tuan rumah keluar rumah. Dan begitu tuan rumah muncul keluar, dengan cepat ia menutup kaca pintu mobilnya.
"Aku nanti pulang terlambat, ada meeting dengan klien sore. Kau tidak apa-apa, kan?" tanya Leon begitu dia akan berangkat ke kantor.
"Tidak apa-apa. Yang terpenting nanti kau jangan makan di luar sebelum pulang, aku akan masak spesial untukmu," pesan Lily.
"Iya, sayang.."
Leon mengecup dahi Lily, di susul oleh Lily yang mencium punggung tangan Leon.
"Aku berangkat kerja dulu, sayang.." pamit Leon.
"Iya, hati-hati. Jangan ngebut-ngebut..!"
"Iya.."
Lily melambaikan tangan seiring mobil Leon meninggalkan pelataran rumah. Security di rumahnya segera menutup kembali pintu gerbangnya begitu mobil tuannya sudah pergi.
Lily masih mematung di tempat, ia membiarkan cahaya mentari sejenak jatuh ke tubuhnya. Begitu akan beranjak kembali ke dalam, notifikasi pesan masuk membuatnya mengurungkan niat. Lily merogoh ponsel di saku pakaian terusan yang di kenakannya.
Hiko:
__ADS_1
Aku di depan gerbang rumahmu. Boleh aku mampir sebentar?
Lily terkejut usai membaca pesan tersebut. Kemudian ia menoleh ke arah luar gerbang. Benar, di sana ada sebuah mobil yang terparkir di tepi jalan.
"Mau apa Hiko ke sini?" pikirnya.
Lily mengetikan balasan.
Lily:
Aku tidak bisa mengajakmu masuk ke rumah, Hiko. Maaf. Jika ada hal penting, aku yang akan menemuimu ke mobil.
Hiko:
Baiklah, tidak masalah.
Lily menggenggam ponselnya kemudian berjalan menuju gerbang.
"Pak, saya mau keluar sebentar. Bisa tolong bukakan gerbangnya?" pinta Lily pada security rumahnya.
"Baik, nyonya," jawab security itu menurut.
Lily berjalan menghampiri mobil Hiko usai security membukakan pintu gerbang. Hiko meminta Lily untuk masuk ke dalam mobilnya, awalnya Lily ragu. Tapi rasanya tidak enak juga jika Hiko yang turun dari mobil terus security-nya melihat ada pria lain yang menemuinya.
"Hai.." sapa Hiko begitu Lily masuk ke dalam mobilnya.
Lily hanya membalas dengan senyum sekilas.
"Kamu tahu alamat rumahku darimana?" tanya Lily terheran.
"Itu tidak penting," jawab Hiko.
"Lalu hal penting apa yang ingin kamu sampaikan sama aku sampai datang ke sini?"
"Ikut aku, Ly..!"
"Kemana?" tanya wanita itu.
Lily sedikit panik saat tiba-tiba Hiko menghidupkan mesin mobil, kemudian membawanya pergi dari sana.
"Hiko, kau akan bawa aku kemana..???"
Bersambung...
...SIAPA AJA YANG SUDAH LIHAT VISUAL LEON & LILY di story akun fb dan Ig aku, gaeesss? Gimana pendapat kalian tentang mereka?...
...Jangan lupa LIKE, KOMEN, VOTE VOTE VOTE, dan HADIAH POIN/KOIN. Tekan juga LOVE ya teman-teman supaya kalian itu dapet notifikasi ketika bab selanjutnya publish....
...Jangan lupa follow ig @wind.rahma...
__ADS_1