MENGANDUNG ANAK CASSANOVA

MENGANDUNG ANAK CASSANOVA
CERAI?


__ADS_3

Pagi ini bu Hesti baru saja pulang dari pasar. Kebetulan jarak rumah dengan pasar tidaklah terlalu jauh, sehingga bisa di tempuh dengan jalan kaki. Sebelumnya ia berangkat di antar pakai motor oleh pak Tio, tetapi lantaran pak Tio ada pekerjaan, jadi pulangnya jalan kaki.


Bu Hesti menyusuri jalan perkampungannya. Di depan ada segerombolan ibu-ibu yang lebih memilih berbelanja sayuran di tukang sayur keliling biasa menggunakan mobil pikap. Mereka melirik bu Hesti dengan sinis, sepertinya berita tentang kehamilan serta keguguran Lily sudah sampai di telinga mereka. Terlebih, beberapa minggu ke belakang, berita tentang Lily akan di lecehkan juragan Mongol pun sudah menjadi buah bibir mereka.


"Pantesan udah gak kelihatan lagi di rumah anak perawannya, eh tahu-tahunya udah gak perawan," ujar si ibu-ibu biang gosip plus tukang nyinyir.


"Iya, hamil duluan. Mungkin minggat cari tempat aman kali, biar bisa abborsii," timpal ibu-ibu yang lain.


"Hust.. Gak boleh ghibahin orang ibu-ibu, gak baik. Dosa!" ucap ibu-ibu berkerudung yang kelihatannya baik.


"Kita gak lagi ngeghibah bu Nara, kita ngomongin yang fakta aja," sahut si ibu pertama.


"Iya, bu. Minggu belakang, dengar-dengar katanya anak perawannya hampir di lecehkan juragan Mongol. Eh, sekarang tahu-tahunya ada berita keguguran. Mungkin bukan hampir kali, tapi emang udah di pakai sama juragan. Iiihh.. Serem deh ngebayanginnya juga."


"Kok bisa-bisanya orang tuanya juga pada diam seolah gak terjadi apa-apa. Apa mungkin mereka sudah di sogok pake uang, ya? Secara, juragan Mongol kan orang terkaya di kampung kita"


"Eh tapi dengar-dengar juga, akhir-akhir ini sering ada laki-laki tampan ke rumah pak Tio pake mobil mewah. Apa jangan-jangan gadis itu di hamili laki-laki itu, ya?"


"Ah, gak mungkin."


Makian demi hujatan bu Hesti dengar dari mulut biadab ibu-ibu tersebut. Ia mulai melangkah jauh dari kerumunan ibu-ibu di tukang sayur tersebut. Air matanya berjatuhan seiring langkah kakinya. Sepanjang perjalanan bu Hesti menundukan kepalanya, ia berusaha tegar saat ia bertemu dengan orang-orang yang membicarakan soal yang terjadi dengan putrinya.


***


Leon tampak sedang sedang mencari-cari seseorang di rumahnya. Sejak bangun tidur, ia tidak menemukan sosok Lily. Dan begitu ia pergi ke dapur, rupanya sosok yang ia cari tengah berdiri di depan pantry.


Lily terkejut begitu ada tangan seseorang melingkar di pinggangnya dari belakang. Ternyata seseorang itu tidak lain adalah suaminya sendiri.


"Sedang apa?" Leon menopang dagunya di bahu sebelah kiri istrinya.


"Bikin kopi untukmu," jawab Lily seraya menuangkan kopi sasetan ke dalam cangkir.


Leon menciumi leher Lily menggunakan ujung batang hidungnya, sehingga menimbulkan sensasi geli-geli di sekujur tubuh wanita itu.


"Diam, Leon. Aku sedang menuangkan air panas," ringis wanita itu.


Leon tak mengindahkan perkataan istrinya, lagipula Lily sangat wangi sehingga ia betah menempel di tubuh wanita itu.


"Kau wangi, aku suka," ungkap Leon.

__ADS_1


"Lepas dulu, aku akan menyajikan kopimu di meja," pinta Lily.


Leon sama sekali tidak melepaskan tangannya dari tubuh Lily, sehingga Lily kesulitan berjalan lantaran Leon terus memeluknya dari belakang.


"Leon, nanti kopinya bisa tumpah, cangkirnya pecah," ujar wanita itu lagi.


Akhirnya Leon melepaskan pelukannya, ia mengambil alih cangkir kopi dari tangan Lily kemudian duduk di kursi makan.


Melihat sudah ada beberapa menu sarapan, Leon berpikir itu semua Lily yang buat.


"Kenapa tidak meminta bi Ratih saja yang buatkan sarapan?"


"Kasihan bi Ratih harus ngurus rumah ini sendiri, lagipula menyiapkan makan dan melayani suami kan tugasku sebagai istrimu," jawab Lily.


Leon menyunggingkan bibirnya mendengar jawaban Lily. "Sejak kapan memiliki kata-kata romantis?"


"Romantis?"


"Hm, terdengar manis karena keluar dari mulutmu."


Lily kelihatan salah tingkah mendengar pujian Leon, tetapi ia buru-buru mengontrol diri supaya pria itu tidak berlanjut untuk menggodanya.


"Kopinya pahit," ujar Leon usai menyeruput kopi yang di buatkan oleh Lily.


"Karena manisnya ada padamu," sambung Leon.


Lily mengurungkan niatnya untuk berdiri, seketika jantungnya berdebar mendengar setiap godaan Leon.


"Iiiihh.. Dasar raja gombal!" cetus Lily, padahal dalam hati ia suka.


"Iya, kau ratu gembelnya," sahut Leon.


"Eh, apa kau bilang?"


Lily memanyunkan bibirnya seraya memelototi Leon, pria itu sampai terkekeh melihat ekspresi wajah istrinya.


Usai sarapan selesai, Leon berpamitan untuk pergi ke kantor. Di perjalanan, Drew memberi kabar buruk tentang dua office girl kantornya menjadi korban kecelakaan motor dan di nyatakan meninggal dunia.


"Pergi ke tempat duka dan beri mereka santunan, kasihan keluarganya!" perintah Leon pada Drew lewat sambungan telepon.

__ADS_1


Setelah itu Leon juga meminta untuk segera mencari peganti kedua office girl tersebut.


Sampai di kantor, ia segera mengumumkan berita duka tersebut kepada seluruh karyawan yang bekerja di perusahaan yang ia pimpin. Ia memberi peringatan kepada mereka semua untuk berhati-hati dalam berkendara, baik berangkat maupun pulang kerja.


Setelah itu Leon masuk ke ruangannya, baru saja mendaratkan tubuh di atas kursi kernya, ponselnya mengeluarkan suara notifikasi pesan masuk. Leon merogoh benda pipih tersebut dari saku yang terdapat di balik jasnya.


Mama:


Leon, ke rumah sebentar, ada yang ingin mama bicarakan denganmu. Bawa istrimu juga!


Leon terpaku pada layar ponselnya, berulang kali ia membaca pesan tersebut dan memastikan penglihatannya tidak salah. Kalimat terakhir membuat kepala Leon di penuhi banyak pertanyaan.


"Apa yang ingin mama bicarakan?" gumam pria itu.


Leon lekas bangkit dari duduknya, ia berniat akan pulang lagi dan mengajak Lily datang je rumah orang tuanya sesuai permintaan mamanya barusan. Semoga ini pertanda baik dan mamanya mulai mau menerima Lily sebagai menantunya.


***


Setelah menunggu hampir dua jam, kini dua orang yang Emely tunggu-tunggu pun sudah mulai menampakan diri. Emely mempersilahkan putra dan menantunya untuk duduk ikut bergabung dengannya di sofa ruang tamu.


Lily mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan mama Leon, tetapi wanita itu tidak kunjung menjabat tangannya. Leon menarik pergelangan Lily dan memintanya untuk langsung duduk saja.


"Katakan apa ingin mama bicarakan pada kami, kami tidak punya banyak waktu untuk hal yang tidak penting!" ucap Leon dingin.


"Jadi ini dampak kau menikahi wanita ini, Leon? Kau bicara tidak sopan dengan mama," seru Emely.


Baru saja satu kalimat, tapi sudah cukup membuat Lily merasa sakit mendengar ucapan mertuanya.


"Jangan pernah menyalahkan orang lain atas kesalahan mama sendiri!" tutur Leon tegas.


"Cukup, Leon. Semakin lama kau semakin kurang ajar pada mama. Ok, mama akan bicara to the point saja. Mama dengar dia sudah keguguran, itu artinya sudah tidak lagi alasan agar kau mempertahankan pernikahanmu."


"Apa maksud mama?"


"Ceraikan dia!" seru Emely seraya menunjuk ke arah wajah Lily.


Bersambung...


...Tekan LOVE untuk menambahkan ke rak favorit agar kalian dapat notifikasi ketika bab selanjutnya publish....

__ADS_1


...Jangan lupa dukungannya, LIKE, KOMEN, VOTE, dan jangan lupa HADIAH KOPI...


...biar aku kuat begadang๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜...


__ADS_2